
“Itu artinya, kamu akan dengan mudah pergi meninggalkanku. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.”
Serena masih diam mencerna kata demi kata yang baru saja keluar dari mulut Rayyan. Apa maksud ucapan pria itu. namun, belum sempat Serena mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba tangan Rayyan sudah menggenggam tangannya.
“Seren, maafkan aku. maafkan atas semua sikapku yang sedari awal sudah membuatmu membenciku. Saat itu aku benar-benar khilaf.” Ucap Rayyan dengan sungguh-sungguh, dengan menatap lembut mata Serena.
“Aku nggak tahu, apa nama perasaan ini. aku bukanlah tipe pria yang mudah jatuh cinta. Namun, semenjak kehadiran kamu di hidupku, ada rasa takut dalam hati ini untuk kehilangan kamu. Maukah kamu menjalani hidup rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh? Aku tidak memaksa kamu untuk mencintaiku. Kita belajar bersama-sama membina rumah tangga ini. bagaimana?”
Serena benar-benar tersentuh dengan ucapan Rayyan. Mungkin dalam lubuk hatinya yang terdalam, wanita itu juga merasakan hal yang sama. Namun untuk mengungkapkannya masih sulit. Tapi setidaknya dengan pengakuan Rayyan baru saja, sudah cukup mewakili perasaan Serena. Dia juga merasakan hal yang sama seperti Rayyan.
Akhirnya Serena menjawabnya dengan anggukan kepala. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya, jatuh terurai juga. namun bukan air mata kesedihan, melainkan air mata bahagia.
“Aku mau. Aku mau kita belajar bersama-sama membina rumah tangga ini, dan menjaga calon buah hati kita dengan baik. Aku tidak mau anak ini nantinya bernasib sama denganku, yang kurang mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orang tua.” Ucap Serena mempertegas jawabannya.
Rayyan pun langsung menarik Serena ke dalam pelukannya. Sesekali menciumi pucuk kepala wanita itu. selama hidupnya, mungkin inilah hal pertama yang pernah Rayyan rasakan. Jatuh cinta pada istrinya. Dan rasanya itu sangat indah. Meskipun Serena tidak atau belum menyatakan cinta, tapi dia sangat yakin dan optimis untuk memupuk rasa cinta itu setiap hari.
Serena merasakan kehangatan dari pelukan Rayyan. Hatinya sangat tenang. Jatuh cinta setelah menikah, sepertinya itu cukup menyenangkan.
“Terima kasih.” Ucap Rayyan dengan tulus, dan sedikit merenggangkan pelukannya.
“Aku juga mau mengatakan terima kasih pada kamu.” Sahut Serena dengan tersenyum malu.
Rayyan kembali memeluk Serena. Kenapa dia gemas sendiri saat melihat pipi merona Serena, yang tidak sekali ini saja ia lihat. Tapi dia tidak ingin mau seruduk saja. yang nantinya akan membuat Serena illfeel padanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka sudah mengurai pelukannya. Suasana mendadak canggung. Biasanya sebelum ini mereka saling diam. lantas, apa yang akan mereka berdua lakukan sekarang.
“Ehm, bagaimana keadaan kamu sekarang? oh, iya kamu belum minum obat dari dokter kemarin.” Tanya Rayyan, kemudian pria itu segera beranjak mengambil minum dan obat di kamar Serena.
Serena benar-benar bahagia dengan perhatian yang selalu diberikan oleh Rayyan. Dari awalnya saja pria itu menunjukkan cover yang buruk. Tapi ternyata di dalamnya manis banget.
“Terima kasih.” Ucap Serena sambil menerima beberapa butir obat dari Rayyan beserta segelas air putih.
“Lebih baik kamu istirahat saja. aku masih melanjutkan beberapa pekerjaanku yang belum selesai.”
“Aku mau bantu kamu. Aku juga masih sekretaris kamu, kan?”
Rayyan menyunggingkan senyumnya ke arah Serena. Ya, memang Serena masih menjadi sekretarisnya. Bukan memaksa. Tapi Rayyan akan tetap menjadikan Serena sebagai sekretarisnya. Itu pun kalau wanita itu masih mau bekerja. Namun masalahnya jika sekarang Serena ikut membantu menyelesaikan pekerjaannya, yang ada bukannya selesai, karena Rayyan tidak fokus kalau ditunggui wanita itu. bawaannya malah ingin membawa Serena ke kamar.
“Ya sudah kamu lanjutkan pekerjaan kamu saja. aku istirahat di sini saja.” jawab Serena terdengar manja di telinga Rayyan. Setelah iu dia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Rayyan hanya menghela nafasnya pelan. Setelah itu dia beranjak dan masuk ke dalam kamar Serena untuk mengambil selimut. Entahlah, meskipun pakaian Serena terlihat sopan, tetap saja kaki jenjangnya sangat mengganggu pemandangan Rayyan. Apalagi pekerjaannya sangat menumpuk. Dia tidak mau pusing kepala atas dan bawah.
“Kamu pakai selimut, ya? Bukannya kamu kedinginan?” ucap Rayyan sambil memakaikan selimut pada tubuh Serena.
Serena hanya tersenyum simpul. Rayyan kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun dia tidak bisa menggunakan ponsel saja. akhirnya Rayyan masuk dulu ke ruang kerjanya untuk mengambil laptop.
Rayyan tampak sangat fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Serena fokus menikmati wajah Rayyan yang begitu tampan. Bahkan ia senyum-senyum sendiri melihat wajah suaminya itu. entah apa yang sedang dibayangkan oleh Serena. Dan ternyata hal itu mampu mencuri atensi Rayyan yang tanpa sengaja melirik ke arah wanita itu. alhasil Serena gelagapan sendiri dan segera membuang pandangannya, dengan pura-pura menguap.
__ADS_1
“Ada apa, hem?” tanya Rayyan tiba-tiba sudah berjongkok sejajar dengan sofa yang ditempati oleh Serena.
“Eh, nggak. Nggak ada apa-apa kok. Kenapa memangnya?” jawab Serena gelagapan.
“Nggak ada apa-apa tapi kamu sejak tadi terus memperhatikan aku. kamu tahu kalau itu sangat mengganggu konsentrasi kerjaku?”
“Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. ya sudah, aku tidur di dalam kamar saja.” sahut Serena dan segera bangun, hendak masuk ke kamarnya.
Serena sudah membuka selimutnya. Namun tiba-tiba badannya merasa seperti melayang saat sepasang lengan kokoh mengangkatnya, membawa masuk ke dalam kamar.
“Ray? Apa yang kamu lakukan? Aku bisa sendiri. Bukannya kamu sedang bekerja?” pekik Serena.
“Setelah ini aku akan melanjutkan pekerjaanku. Tentunya setelah menidurkanmu.” Jawab Rayyan dengan senyum smirk sebelum merebahkan Serena di atas ranjang.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1