
Beberapa saat kemudian, Rayyan sudah dibawa ke rumah sakit. Luka yang dialami akibat pukulan Alvin tadi cukup parah. terlebih di bagian wajah dan perutnya. Sedangkan Alvin sudah diringkus oleh polisi setempat saat pemilik café tadi memanggil pihak keamanan.
Serena saat ini sedang duduk di depan kursi tunggu depan ruangan Rayyan diperiksa. Sedangkan di dalam sana sudah ada Mama Feby yang menemani putranya mendapatkan perawatan.
Tadi, saat Serena dan Rayyan dalam perjalanan menuju rumah sakit, ada panggilan dari Mama Feby. Maka dari situlah mertuanya tahu kalau Rayyan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Serena sengaja menunggu di luar, bukan karena takut ia melihat luka Rayyan yang cukup serius. Memang dia kasihan dengan pria itu. apalagi adiknya sendiri yang melakukannya. Namun, kalima hinaan yang dilontarkan oleh Rayyan tadi lah yang sampai saat ini masih teringat jelas di benak Serena.
Serena hanya bisa mengusap perut ratanya dengan lembut. Dia berharap semoga kandungannya baik-baik saja, setelah batinnya cukup terluka.
Dari arah koridor rumah sakit Serena melihat Era datang dengan berjalan tergesa-gesa. Wanita itu berjalan mendahului suaminya dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas. Dan hal itu mmebuat Serena semakin yakin kalau suaminya dan Era memiliki hubungan lebih dari seorang sahabat. Meskipun Era sudah menikah.
“Bagaimana keadaan Rayyan?” tanya Era saat sudah dekat dengan Serena.
“Aku tidak tahu.” Jawab Serena datar.
Era hanya menghembuskan pelan nafasnya. Dia tahu kalau Serena saat ini sedang kesal dengannya gara-gara hasutan suaminya. mungkin nanti ia akan menjelaskan semua pada wanita itu setelah suasana hati Serena tidak memanas lagi.
Akhirnya Era masuk ke rungan itu, karena ia melihat Mama Feby juga ada di sana. Tak lama kemudian Pasha sudah sampai di depan ruangan Rayyan yang sedang ditangani dokter. Serena menatap tak suka pada Pasha. dia ingat jelas dengan ucapan Rayyan tadi. di mana suaminya itu mengatai dirinya murahan. Dan itu dari ucapan Pasha. pria itu memang benar-benar bermulut pedas. Serena pun mengabaikan Pasha begitu saja, dan memilih pergi meninggalkan ruangan Rayyan.
*
Setelah mendapatkan penanganan dari dokter, Rayyan terpaksa harus menjalani rawat inap. Sebenarnya pria itu ingin dirawat jalan saja. apalagi lukanya sudah diobati. Hanya saja dokter memintanya untuk rawat inap sehari untuk melihat perubahannya. Apalagi tadi Rayyan sempat muntah-muntah. Karena memang Alvin memukul perutnya cukup keras.
Rayyan menoleh ke sekeliling ruangan yang tampak sepi. Hanya mamanya yang sedang beristirahat karena sejak tadi menemaninya. Tentu saja yang dicari Rayyan adalah istrinya.
Kemana wanita itu sekarang? sejak membawanya ke rumah sakit tadi, dia tidak melihat Serena lagi. apalagi saat dokter mengobati lukanya, Serena tidak ikut menemaninya.
Dada Rayyan tiba-tiba sesak. Dia ingat dengan ucapannya yang sudah merendahkan harga diri Serena. Kenapa ia bisa berkata seperti itu tadi. kenapa tidak mencoba untuk bertanya baik-baik. Dan dia juga tidak menyangka kalau pria yang memukulinya tadi adalah adik istrinya.
__ADS_1
Rayyan menggelengkan kepalanya pelan. Tidak mungkin Serena pergi meninggalkannya. Terlebih tadi ia bisa melihat sorot mata kemarahan dari pria yang menjadi adik iparnya itu yang mengatakan kalau dirinya tidak pantas menjadi suaminya.
“Tidak! Aku nggak mau kehilangan Seren.” Gumam Rayyan dan berusaha turun dari brankarnya.
“Kamu mau kemana, Ray?” Mama Feby sangat terkejut saat melihat Rayyan hendak turun.
“Aku mau pulang, Ma. Aku mau mencari Seren. Kenapa dia tidak datang ke sini sejak tadi.”
“Kembali ke tempatmu! Atau kamu Mama tahan di rumah sakit ini terus?” ancam Mama Feby.
“Tapi Ray mau cari Seren, Ma.”
“Serena pulang. dia butuh waktu untuk istirahat. Apa kamu lupa kalau dia sedang mengandung anak kamu? Mama yang menyuruhnya pulang.”
Rayyan terdiam. Benar yang dikatakan oleh Mamanya kalau Serena butuh waktu untuk istirahat. Namun sebagaian kecil hatinya masih takut jika Serena akan pergi secara diam-diam.
“Jangan berpikiran buruk! Tidak akan terjadi apa-apa dengan menantu Mama. kamu selesaikan nanti urusan kalian. entah apapun keputusan Serena, Mama harap kamu menerimanya. Yang jelas, Mama sangat kecewa dengan kamu.” Ucap Mama Feby, lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa.
Sementara itu saat ini Serena masih berada di kantin rumah sakit. Beberapa waktu lalu setelah Mama Feby memintanya untuk pulang dan beristirahat, Serena mampir ke kantin dulu untuk mengisi perutnya. Bagaimana pun juga sekarang ada nyawa dalam rahimnya yang membutuhkan banyak asupan nutrisi.
Namun, setelah selesai makan, tiba-tiba saja Era datang menghampiri Serena yang hendak pulang. Serena hanya menatap tak suka pada sahabat suaminya itu. apalagi dengan seorang pria yang tak lain adalah Pasha.
“Seren, aku ingin bicara dengan kamu.” Ucap Era dengan hati-hati.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku dan kamu tidak pernah ada masalah apapun. Tapi aku ada masalah dengan suami kamu.” Ucap Serena lalu tatapannya tertuju pada Pasha.
Pasha pun langsung menelan salivanya. Apalagi tatapan mata Serena seperti akan memakannya hidup-hidup. Entah kenapa akhir-akhir ini Pasha menyadari kalau dirinya begitu lemah dengan wanita.
“Tuan Pasha, saya minta maaf atas kesalahan yang pernah saya perbuat pada anda dulu. saya memang pernah menggoda anda dan hal itu sengaja saya lakukan. Tapi semuanya itu ada alasannya, yang anda sendiri tidak perlu tahu. Kalaupun saya berniat menggoda anda, sampai sekarang pun di saat anda sudah berkeluarga, pasti saya akan tetap menggoda anda. tapi anda bisa lihat sendiri kan?” ucap Serena dengan suara tegas.
__ADS_1
Pasha hanya mengangguk samar. Sedangkan Era berusaha ikut tenang agar tidak membuat emosi bumil itu tersulut.
“Anda adalah orang berpendidikan. Berhati-hatilah dengan ucapan anda.” lanjut Serena dan langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu meninggalkan Era dan Pasha yang masih diam mematung.
“Seren, suami kamu sedang terluka. Apa kamu tidak mau melihat keadaannya?”
Serena menghentikan langkahnya setelah mendengar suara Era. Wanita itu menoleh dan menatap sinis ke arah Era.
“Aku orang baru dalam hidup Rayyan. Kamu yang sahabatnya, kenapa bukan kamu saja yang menemaninya? Statusku dengan Rayyan juga tidak lama akan berakhir.” Jawab Serena, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kedua orang itu.
**
“Kak, mau ke mana?” Seru Alvin saat melihat Serena baru saja keluar dari area rumah sakit.
“Al? kamu di sini?” Serena sangat terkejut melihat keberadaan adiknya. Padahal tadi pihak kepolisian meringkusnya setelah terjadi perkelahian dengan Rayyan.
“Ck, kamu ingin aku mendekam di penjara?”
“Bukan seperti itu. hanya saja… ah, aku punya banyak sekali pertanyaan untuk kamu. Kamu harus,-“
“Ok ok aku tahu. Ya sudah, lebih baik sekarang ayo ikut pulang ke apartemenku saja.”
Serena mengangguuk. Setelah itu Alvin menggandeng tangan kakaknya dan mencari taksi yang akan mengantarnya pulang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!