Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
39. Bersama Tatia


__ADS_3

Era kini sudah kembali ke ruangannya setelah bertemu dengan direktur utama. Lebih tepatnya setelah bertemu dengan Yeslin yang memberi kabar bahwa perempuan itu akan bertunangan dengan Pasha minggu depan.


Era tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya. Dia menyadarai kebodohannya karena telah terperangkap dengan perasaan dan hati yang salah. Bagaimana tidak, jika dilihat dari sudut pandang mana pun memang tidak pantas jika ia bersanding dengan Pasha. dari segi usia saja, jika sedang bersama, mungkin orang beranggapan seperti kakak adik. Atau bahkan seperti tante dan keponakan.


Walau usia Era dan Pasha hanya tepaut sekitar lima tahun, dengan Era yang memiliki wajah cantik namun sangat dewasa. Tak jarang orang yang melihatnya seperti sudah berkeluarga. sedangkan Pasha, jujur saja pria yang terkadang menjengkelkan namun sangat bijaksana itu memiliki garis wajah baby face.


Tapi ini bukan masalah usia saja. masalah yang lainnya pun Era tetap tidak pantas jika disandingkan dengan Pasha.


Kini Era pun bertekat untuk perlahan melupakan Pasha. rasanya dia juga salah karena dulu sempat memberikan tantangan pada pria itu. tantangan yang tidak mendasar sama sekali. Nyatanya saat ini Pasha juga tidak ada kabarnya. Sedangkan untuk jatah waktu yang ia berikan dalam tantangan itu sebentar lagi habis. Meskipun Era memutuskan secara sepihak, kemungkinan jika waktu itu sudah habis, dia lah yang akan memutuskan untuk pergi dari kota ini.


***


Sesuai janjinya pada Tatia setelah jam pulang kantor, kini Era sudah berada di sebuah café tempat biasa ia menghabiskan waktu.


“Kamu beneran nggak apa-apa aku culik begini, Tat?” seloroh Era pada Tatia.


“Nggak apa-apa. Palingan nanti kalau aku tidak kembali ke rumah dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, baru suamiku lapor polisi.” Jawab Tatia sambil menyedot jus alpukat kesukaannya.


“Wah, ide bagus tuh. Lebih baik kamu nggak aku pulangin aja nanti. dan aku akan meminta tebusan uang.”


Kedua sahabat itu tergelak bersama. Padahal hati Era sedang tidak baik-baik saja. ya, memang begitu lah Era. Dia selalu mengesampingkan perasaannya sendiri. Karena pertemuannya dengan Tatia juga ingin mencari hiburan.


“Mau makan apa lagi bumil? Mumpung aku sedang baik loh?” tanya Era. Keduanya memang masih memesan minuman saja.


“Udahlah, gampang. Nanti aja, Jul.” jawab Tatia.

__ADS_1


Tatia terdiam. Dia menatap lekat sahabatnya yang sedang menyedot jus yang sama dengannya. Tatia tidak satu hari dua hari berteman dengan Era. Jadi sekarang ia sangat tahu, bahkan ikut merasakan kalau keadaan hati Era sedang tidak baik-baik saja.


“Ada apa sebenarnya, Jul?”


Mendapati pertanyaan dari Tatia, Era justru melayangkan tatapannya ke arah lain dengan mata berkaca-kaca. Namun setelah itu Era tertawa. Lebih tepatnya menertawakan nasibnya.


“Jul, are you ok?” tanya Tatia juga dengan mata berkaca-kaca.


Era hanya tersenyum menjawab perytanyaan Tatia. Mungkin kedengarannya lebay atau terlalu berlebihan. Namun jika tidak diungkapkan, rasanya Era tidak akan puas. Akhirnya ia menceritakan tentang risalah hatinya. Khususnya yang diam-diam sudah menaruh perasaan pada Pasha.


Tatia sama sekali tidak terkejut. Jauh-jauh hari wanita yang tengah hamil muda itu mencium bau-bau hubungan special antara Era dan Pasha.


Era kembali melanjutkan ceritanya. Di mana ia sedang ragu dengan perasaannya sendiri. Apalagi setelah memberikan tantangan pada Pasha selama satu bulan untuk mendapatkan hatinya. Termasuk dengan perjanjian kalau Pasha tidak berhasil mendapatkan hatinya, maka salah satu diantara mereka harus pergi dari kota ini. Lalu sekarang tidak ada kabar sama sekali dari pria itu. terlebih tadi ia mendengar secara langsung dari Yeslin kalau minggu depan Pasha akan bertunangan dengan Yeslin.


“Gila kamu, Jul? kamu sampai mempertaruhkan pekerjaan?” tanya Tatia dan Era menjawabnya dengan anggukan kepala.


“Nggak, Jul! sampai kapanpun aku nggak akan ijinin kamu pergi dari sini. kamu tahu, kita sudah lama menjalin persahabatan ini. mulai dari kuliah, dimana kita tinggal di tempat yang berjauhan, dan sampai kini kita dekat dalam pekerjaan juga tempat tinggal. Aku nggak mau kamu pergi begitu saja memutuskan persahabatan kita ini. hanya karena urusan asmara. Please, Jul! kalau kamu memang cinta dengan Pasha, kenapa tidak kamu perjuangkan? Belum tentu benar yang dikatakan oleh Yeslin. Kamu juga tidak tahu kan kalau Pasha mungkin memang sedang sibuk. Atau bahkan pria itu sedang menyiapkan hatinya untuk bertemu kamu seminggu lagi?”


Era terdiam setelah mendengarkan penuturan sahabatnya yang panjang lebar.


“Sebenarnya banyak sekali faktornya, Tat yang membuat aku memutuskan untuk menyerah dari tantangan ini. apalagi Hagi yang akhir-akhir ini datang kembali ke kehidupanku. Aku khawatir dia akan berbuat sesuatu pada Pashakarena tidak berhasil mengajakku balikan.”


“Apa? Gila tuh si Hagi. Pria tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Setelah apa yang dia lakukan, dia datang lagi dan dengan mudahnya mengajak balikan. Tapi, Jul. di mana sekarang sikap pantang menyerah kamu? Kalau kamu juga cinta dengan brondong itu, perjuangkan! Sekalipun Hagi yang menjadi batu besar penghalangnya.” Ujar Tatia berapi-api.


Era menghembuskan pelan nafasnya. Benar yang dikatakan oleh sahabatnya. lantas, apakah dia akan mengikuti saran dari Tatia untuk memperjuangkan cintanya pada Pasha. entahlah.

__ADS_1


“Aku akan tetap mendukung kamu dengan brondong itu, Jul. dan aku juga yang akan menghalau pria sialann itu jika berani berbuat macam-macam denganmu. Dan satu lagi, jangan mudah percaya dengan ucapan Yeslin!”


Era hanya mencebik saat mendengar Tatia menyebut Pasha brondong.


“Apa setua itu sih aku, Tat? Sampai bilang Pasha brondong?”


“Hahaha… bukan tua Tante Juleha! Tapi wajah kamu yang tegas dan dewasa itu loh. Tapi aku salit sih sama brondong kamu itu. ternyata dia orientasinya pada wanita dewasa.” Sahut Tatia diiringi gelak tawa.


Kini perasaan Era sedikit lebih tenang setelah menumpahkan keluh kesahnya pada Tatia. Mereka berdua pun melanjutkan menikmati makanan yang baru saja Era pesan. Setelah itu Era akan mengantar Tatia pulang. mengingat dia sedang bersama dengan wanita hamil, jadi Era tidak ingin memulangkan Tatia terlalu malam. bisa-bisa ia nanti kena semprot suami Tatia.


Tanpa Era dan Tatia sadari, sejak tadi di meja yang berada tepat di belakang Era tampak seorang pria yang memakai hoodie, mendengar dengan jelas semua pembicaraan Era dan Tatia. Pria itu tidak lain adalah Hagi.


“Ya sudah, kamu tunggu sebentar. Aku bayar dulu.” ucap Era beranjak menuju kasir.


Tatia mengangguk. Setelah itu ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya, untuk membalas pesan dari suaminya yang sejak tadi menanyakan keberadaannya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


Satu babnya agak siangan ya guys🙏🙏 Othor udh ngantuk bgt. Ngetiknya blm selesai😁✌


__ADS_2