
Setelah Yeslin keeluar dari ruangannya, Era tampak terdiam. Bukan dia marah atau cemburu kalau memang kenyataannya Pasha adalah calon suami Yeslin. Namun yang membuat hati Era sedikit terusik adalah tentang kalimat Yeslin yang mengatakan dirinya seorang perawan tua. Memangnya setua itukah dirinya. Usianya memang hampir tiga puluh tahun dan juga belum menikah. memangnya standart wanita harus menikah itu usia berapa. Apakah di usianya sekarang ini dirinya pantas disebut perawan tua. Mengingat di dunia yang sudah modern ini tidak ada sama sekali patokan usia kapan wanita harus menikah.
“Ah, bodo amat! Hidup, hidupku sendiri. Ngapain dia ikut campur?” gerutu Era dengan kesal.
Setelah itu Era kembali melanjutkan pekerjaanya. Era memang tipe orang yang tidak terlalu memikirkan ucapan orang lain. Kecuali kalau itu sudah menyangkut harkat dan martabatnya, baru dia akan bertindak. Dan tentang ucapan Yeslin baru saja, mungkin sebagian orang menganggap sudah merendahkan harkat dan martabatnya. Namun kenyataannya Era baik-baik saja.
**
Era tampak meregangkan otot-ototnya setelah seharian ini duduk di depan layar komputer. Tak lama kemudian ia mendengar suara ramai dari luar ruangannya. Padahal jam pulang kurang lima belas menit lagi. akhirnya dia keluar untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
“Ada apa sih, Tat?” Era ikut nimburung di salah satu meja kerja temannya.
“Sepertinya perusahaan sedang ada masalah besar. Aku dengar ada penyelewengan dana besar-besaran tanpa diketahui oleh direktur.”
Era tampak terkejut. Karena memang untuk urusan itu sama sekali bukan ranahnya. Namun jika terbukti ada penyelewengan dana besar-besaran yang akan mengakibatkan perusahaan bangkrut, otomatis dia juga ikut terseret. Dalam artian, Era dianggap lalai menyeleksi dan mengevaluasi kinerja dari karyawan yang bekerja di perusahaan ini.
“Apa kamu yakin? Dan apa berita ini sudah akurat?” tanya Era memastikan.
“Aku tadi dengar seperti itu, Jul. bahkan sampai-sampai saham perusahan ikut anjlok. Gila nggak tuh orang.” Sahut salah satu teman Era yang lainnya.
Era pun segera masuk ke dalam ruangannya. Dia mencoba untuk menghubungi Pasha untuk menanyakan kabar kebenaran berita itu. setelah itu Era menyalakan kembali komputernya untuk melihat keseliruhan data karyawan beserta hasil evaluasi beberapa bulan terakhir ini.
Bagaimana pun juga Era takut. Takut jika disalahkan karena dianggap tidak bisa memberi penilaian pada karyawan yang bekerja di perusahaan ini. padahal selama ini Era juga bekerja dengan jujur. Untuk evaluasi para karyawan juga ia dapatkan dari data yang akurat.
Drt drt drt…
Ponsel Era berdering. Ada panggilan dari Pasha. Era pun segera mengangkatnya, barangkali memang Pasha membutuhkan bantuannya.
“Iya, selamat sore Tuan? Ada yang bisa saya bantu?”
“…..”
“Baik, Tuan. Segera saya laksanakan.”
Benar dugaan Era. Sekarang juga Pasha meminta rekap data hasil evaluasi kinerja karyawannya selama beberapa bulan terakhir. Pasha tidak bisa menuduh tanpa bukti. Dia harus mencari pelaku penyelewengan dana itu mulai dari bagian HRD yang memang memiliki wewenang penuh atas karyawannya. Kalau jalan itu tidak membuahkan hasil, Pasha harus menempuh jalur berikutnya. Tentunya dengan menyewa orang-orang yang berkompeten dalam bidang tersebut.
__ADS_1
Era terpaksa menunda kepulangannya. Di saat semua teman-temannya sudah pulang, Era justru baru saja selesai merekap data seperti yang diminta oleh Pasha tadi.
Kini Era sudah masuk ke ruangan Ceo. Ternyata di sana ada Yeslin yang sedang duduk di kursi depan meja kerja Pasha.
“Ini Tuan berkas yang anda minta.” Ucap Era memberikan salinan data karyawan.
“Kamu harus melihatnya dengan teliti, King! Siapa tahu penyebab semua ini ada hubungannya dengan bagian HRD. Bisa saja kan kepala HRDnya sengaja memberikan evaluasi baik pada pelaku itu. jaman sekarang, kalau uang sudah bicara,-“
“Tutup mulutmu, Yes! Lebih baik kamu pulang sekarang juga. aku bisa menanganinya sendiri.” Usir Pasha.
Sedangkan Era yang masih berada di sana, jujur saja hatinya sakit saat mendapat tuduhan dari Yeslin. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, kelihatannya Yeslin memang sengaja ingin membuat dirinya ikut bersalah dalam masalah ini.
“Aku bilang pulang sekarang juga!” usir Pasha pada Yeslin yang masih duduk santai.
Pasha juga sangat kesal dengan Yeslin. Bukannya membantu, perempuan itu sejak tadi justru terus mengompori Pasha kalau semua masalah yang terjadi bermula dari divisi HRD.
Dengan kesal, Yeslin pun beranjak dari duduknya dan pergi begitusaja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Saya juga permisi, Tuan!” pamit Era dengan sopan.
“Era, tunggu!”
Pasha segera mendekati Era yang hendak meraih gagang pintu. Dia tahu kalau Era tampak kecewa setelah mendengar tuduhan Yeslin.
“Maafkan aku! kamu jangan beranggapan kalau aku juga menuduhmu seperti Yeslin. Aku memang membutuhkan data itu.”
“Nggak apa-apa. Aku juga siap menjadi saksi kalau aku tidak terlibat dengan permasalahan ini. dan kinerja semua karyawan selama ini aku dapat dari bukti yang akurat.”
“Iya, aku percaya. Sekarang maukah kamu menemaniku menyelesaikan masalah ini? kamu cukup duduk di sini saja.”
Era pun menganggukkan kepalanya. Dia tahu kalau Pasha sedang pusing. mungkin dengan menuruti keinginan pria itu, akan membuat Pasha sedikit lebih tenang.
“Bilang saja kalau kamu membutuhkan bantuanku.” Ucap Era.
“Sudah, kamu duduk saja di situ. Aku bisa menanganinya. Aku hanya butuh penyemangat saja.” jawab Pasha dengan tersenyum tipis pada Era.
__ADS_1
**
Kurang lebih selama dua jam Era menemani Pasha. sejak tadi Era juga hanya duduk manis di depan Pasha yang sedang serius dengan pekerjaannya. Era memperhatikan raut wajah Pasha yang sebentar mengerutkan kening, sebentar lagi memijit pelipisnya.
“Apa kamu tahu karyawan atas nama Ivana Anjani?” tanya Pasha tiba-tiba.
Era tampak gelagapan. Karena sejak tadi dia memperhatikan Pasha. sedangkan Pasha tampak menahan senyumnya saat melihat Era sedang salah tingkah.
“Siapa tadi yang kamu tanyakan?” tanya Era berusaha tenang.
“Apa kamu tahu karyawan atas nama Ivana Anjani?”
“Iya. dia dari bagian keuangan. Sebulan ini dia sudah mengambil cuti dua kali. Kinerjanya juga cukup baik. Apa ada hubungannya dengan dia masalah ini?” tanya Era.
“Aku tidak bisa menuduhnya. Tapi dia salah satu orang yang aku curigai. Dan sekarang aku harus mengambil jalan lain untuk mengungkap pelakunya.” Jawab Pasha lalu ia membuka profil karyawannya tersebut lalu ditunjukkan pada Era.
Era berdiri di dekat Pasha untuk memastikan tentang sosok Ivana. Meskipun dia tidak begitu yakin kalau perempuan itu yang dicurigai.
“Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau memang dia pelakunya, aku akan memecatnya dengan tidak hormat.” Ucap Era dengan sungguh-sungguh.
Pasha tersenyum mendengar ucapan Era. Bahkan tanpa Era sadari, posisinya saat ini dengan Pasha bisa dikatakan sangat in tim.
“Terima kasih!” bisik Pasha tepat pada telinga Era.
Argghhh…
Era benar-benar terkejut sekeligus merinding saat merasakan bisikan suara Pasha di telinganya. Tubuhnya hampir oleng kalau Pasha tidak cepat menangkapnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!