
Wisnu tampak menundukkan kepalanya sambil menahan tawa saat tubuhnya menjauh dari Pasha setelah pria itu mengatkan hal frontal. Sedangkan Serena sendiri bergidik ngeri saat tahu kalau Pasha ternyata pria penyuka sesama jenis. Pantas saja selama ini Pasha selalu menjaga jarak darinya jika sedang meeting. Bahkan Pasha juga selalu bersama asistennya. Bisa jadi kedekatan antara bos dan asisten itu ada ikatan lain yang lebih in tim selain hanya hubungan pekerjaan.
Selesai makan siang, mereka bertiga melanjutkan meetingnya. Tidak banyak yang mereka bahas. Serena hanya menyampaikan beberapa hal dari atasannya pada Pasha. jadi meeting siang itu berlangsung cukup singkat. Terlebih dengan Serena yang mendadak illfeel dengan Pasha.
Pasha dan Wisnu kembali ke kantor setelah meeting. Dalam perjalanan Pasha mendapat pesan dari Arga. Orang yang sudah ia suruh untuk mencari keberadaan Era. Walau pria itu hanya perantara saja.
Pasha tampak menghembuskan nafasnya kasar setelah membaca pesan dari Arga yang mengatakan kalau saat ini Rayyan sedang sibuk. Untuk masalah pekerjaan yang ia berikan, Rayyan berjanji akan secepatnya memberi kabar. Mau tidak mau akhirnya Pasha mau menunggu Rayyan. Tidak mungkin jika ia meminta orang lain lagi untuk mencari Era.
“Semoga pria itu bisa menamukanmu, Ra.” Gumam Pasha dengan tatapan menerawang ke luar jendela.
Bagi Pasha sudah cukup ia menahan rindunya pada Era selama dua tahun ini. dia berharap semoga ada keajaiban Tuhan yang akan mempertemukan dirinya dengan Era. Dalam hatinya Pasha berjanji akan memperbaiki semua kesalahannya pada Era. Karena ia sangat yakin kalau Era sampai saat ini masih sakit hati akibat kesalahan yang ia perbuat. Era juga pasti termakan dengan undangan palsu dari Yeslin saat itu.
***
Beberapa hari berlalu. Era kini tampak lebih tenang menjalani hari-harinya. Apalagi setelah ia mengungkapkan semua masalahnya yang selama ini cukup menjadi beban berat dalam hatinya. Bahkan sampai saat ini Rayyan masih sangat baik terhadap dirinya, meskipun pria itu sudah tahu masa lalunya. Itu artinya Rayyan benar-benar pria yang dan tulus mencintainya.
Cinta. Era masih belum yakin dengan hatinya. Memang sudah tahu jelas kalau Rayyan sangat tulus mencintainya. Namun, Era merasa hatinya sulit untuk terbuka meskipun ada pria baik hati yang mau menerima masa lalu serta kekurangannya. Terlebih pada kedua orang tua Rayyan.
Era teringat dengan percakapan Rayyan tempo hari, di mana kedua orang tua pria itu sangat menginginkan Rayyan agar segera menikah dan bisa memberikan mereka cucu. Mungkin itu salah satu hal yang mengganjal hati Era.
Bisa saja Rayyan menerima dirinya apa adanya. Namun bagaimana dengan kedua orang tuanya. Mereka adalah keluarga yang berada. Tentu saja akan menjadi masalah besar jika anak pertama mereka tidak bisa memberikan keturunan sekaligus pewaris.
“Kamu adalah pria baik, Ray.” Gumam Era sambil menatap foto Rayyan yang menjadi foto profil dalam kontaknya.
Era kembali menyadarkan lamunannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Apalagi sebentar lagi jam pulamg kantor. jadi pekerjaannya harus segera selesai.
Namun lagi lagi pekerjaan Era terhenti sejenak saat ada panggilan dari orang yang baru saja sempat mampir dalam pikirannya. Orang itu tidak lain adalah Rayyan.
“Ya, Ray?”
“…..”
__ADS_1
“Nanti malam?”
“…..”
“Ok ok. Aku tunggu di apartemen.” Pungkas Era sebelum menutup panggilannya.
Baru saja Rayyan memberitahu pada Era kalau nanti malam pria itu akan menjemputnya untuk memenuhi undangan makan malam dari Papa dan Mama Rayyan. Era pun mau saja, karena tidak ada alasan untuk menolak undangan dari orang yang sangat baik padanya.
**
Saat ini Era sudah berada di unit apartemennya. dia segera mandi dan bersiap untuk memenuhi undangan makan malam dari keluarga Rayyan.
Ini bukan pertama kalinya kedua orang tua Rayyan mengundang makan malam. jadi Era tampak biasa saja. terlebih ia sudah sangat akrab dengan kedua orang tua Rayyan, khususnya Mama Rayyan.
Setelah mandi dan memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis dan terkesan natural, tapat saat itu juga bel apartemennya berbunyi. Era segera meraih tas selempangnya dan segera keluar kamar membukakan pintu untuk Rayyan, sekaligus berangkat.
Klik
“Yuk, berangkat sekarang! aku sudah lapar dan nggak sabar dengan masakan aunty Feby.” Ajak Era.
Kalau di luar jam kerja, Era memanggil Mama Rayyan dengan sebutan aunty, sedangkan pada Mr. Chandra, ia memanggilnya dengan sebutan uncle Chan.
Rayyan tersenyum hangat dan langsung mengajak Era pergi ke rumahnya. Entah apa maksud dan tujuan kedua orang tua Rayyan yang meminta putranya untuk mengajak Era makan malam.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua tampak ngobrol seperti biasa. Era sendiri sudah lebih tenang dan nyaman setelah beban yang ia pikul selama ini ia ceritakan semua pada Rayyan. Begitu juga dengan Rayyan, pria itu ikut bahagia melihat perubahan yang ada pada Era.
Rayyan berniat akan menemui Pasha saat pernikahan adiknya nanti. ia akan mengatakan dengan jujur keberadaan Era.
**
Mobil Rayyan sudah sampai halaman rumah yang begitu megah. Era juga langsung keluar dari mobil mengikuti Rayyan yang berjalan lebih dulu.
__ADS_1
“Selamat malam, aunty!” sapa Era saat melihat Mama Rayyan sudah meyambut kedatangannya.
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu langsung memeluk Era dan mereka cipika cipiki. Tak lama kemudian Papa Rayyan keluar dari ruang kerjanya. pria itu juga menyambut hangat kedatangan Era.
“Ya sudah, lebih baik kita makan malam dulu. pasti Joel sudah kelaparan.” Canda Mama Rayyan dan langsung menggandeng Era memasuki ruang makan.
Mereka berempat sudah menempati tempat duduk masing-masing. Rayyan sangat bahagia dengan posisi seperti ini. seolah ia sudah menjadi suami Era dan hidup bahagia. Walau kenyataannya cintanya masih digantung.
Mereka berempat menikmati makan malam itu diiringi dengan obrolan ringan sekaligus candaan dari Rayyan untuk Era.
“Bulan depan Khanza menikah. kamu ikut kami pulang ya, Joel? Khanza sendiri loh yang meminta agar kamu datang.” ucap Mama Rayyan.
Era memang sudah kenal dekat dengan Khanza, adik Rayyan. Sebelum perempuan itu memutuskan pulang ke Indonesia dan memegang perusahaan cabang yang ada di sana satu tahun yang lalu, Era sudah akrab dengan Khanza. Jadi sangat tidak mungkin jika Era menolak ajakan kedua orang tua Rayyan, meskipun sebelumnya ia sempat ragu jika harus menginjakkan kakinya lagi di negara yang penuh dengan kenangan pahit.
“Iya, aunty. Akan aku usahakan.” Jawab Era.
Tampak tangan Rayyan menggenggam lembut tangan Era. Pria itu seperti mengerti apa yang sedang Era rasakan saat ini.
“Setelah pernikahan Khanza, kami juga berharap segera datang kabar baik dari kalian berdua.” Celetuk Papa Rayyan tiba-tiba.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
Nyempetin up walau cuma 1bab... Semua demi readers tertjintahhhh😘😘🙏😆
__ADS_1