
Mama Shanum masih mengingat jelas saat menghadiri undangan makan malam kedua orang tua Yeslin waktu itu. di mana Pasha tidak ikut, karena masih berada di luar negeri.
Kedua orang tua Yeslin adalah tipe orang tua yang selalu menuruti keinginan putri semata wayangnya. Salah satunya yang menginginkan Pasha menjadi suami Yeslin kelak. Terlebih kedua orang tua Yeslin tahu kalau sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sang putri sudah jatuh cinta pada Pasha.
Saat kedua orang tua Yeslin ingin merencanakan perjodohan dengan Pasha, baik Papa Nabil maupun Mama Shanum tidak bisa memberikan keputusan. Terlabih Papa Nabil yang lebih dulu mengatakan pada kedua orang tua Yeslin kalau dirinya tidak bisa memaksa kehendak anaknya dalam hal asmara. Papa Nabil lebih menyerahkan semuanya pada Pasha. alhasil kedua orang tua Yeslin sedikit kecewa. Termasuk Yeslin.
Namun Papa Nabil sudah mengatakan, kalaupun Pasha tidak menginginkan perjodohan itu, dia berharap hubungannya dengan kedua orang tua Yeslin masih baik-baik saja. karena memang pada dasarnya jodoh itu sudah digariskan oleh Tuhan.
***
Sementara itu Pasha yang kini sedang dalam perjalanan ke kantor, hatinya terus berbunga-bunga karena sebentar lagi akan bertemu pujaan hatinya. Ya, meskipun berada dalam satu lokasi kerja, namun tetap saja Pasha tidak bisa bertemu dengan bebas dengan Era.
Pasha ingat saat dia menawarkan kenaikan jabatan pada Era melalui Papanya dulu. Era menolak, karena niat perempuan itu membantu dengan tulus, tanpa mengharap pamrih dengan kenaikan jabatan. Andai saja waktu itu Era menerima tawaran itu, bisa saja jadi wakil Ceo, itu akan membuatnya sangat senang, karena bisa bertemu dengan kekasihnya setiap hari.
“Tapi nggak masalah kamu menolak tawaran kenaikan jabatan itu, Ra! Aku sangat salut denganmu.” Gumamnya.
Kini mobil Pasha sudah memasuki basement. Setelah memarkirkan mobilnya, ia melihat mobil Era baru memasuki basement. Tumben sekali perempuan itu datang terlambat dari biasanya. Dan jawabannya karena ia bangun terlambat.
Suasana basement memang sedang sepi. Pasha pun buru-buru keluar dari mobilnya agar bisa mengucapkan selamat pagi sang pujaan hati.
“Selamat pagi, My Princess!” sapa Pasha saat Era baru saja keluar dari mobilnya.
“Pagi juga My King!” balas Era sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Padahal Era hanya iseng saja memanggil Pasha dengan panggilan My King. Setidaknya untuk memulai hari sebagai penyemangat pria itu. namun tidak dengan Pasha. mendengar sebutan baru dari Era, di dalam perutnya seperti sedang banyak sekali kupu-kupu yang beterbangan.
“Duh, manis sekali sih panggilannya. Jadi makin sayang deh.” Ujar Pasha dan mulai mendekati Era seperti hendak memeluk perempuan itu.
“Stop! Jangan mendekat! Ingat dengan apa yang aku katakan kemarin.” Cegah Era yang sudah mengeluarkan tanduknya.
Balum ada lima menit, sikap manis Era sudah berubah lagi menjengkelkan. Tapi salah Pasha juga sih yang terlalu agresif.
“Ya udah deh. Selamat bekerja, semangat!!” akhirnya hanya itu yang bisa Pasha ucapkan.
Pasha pun lebih dulu masuk dan meninggalkan Era yang masih di belakang. Dia ingin tetap professional, meksipun statusnya Era adalah kekasihnya.
“King, tunggu!” ucap Era yang tiba-tiba mengganti nama panggilannya. Entahlah, rasanya panggilan itu lebih mudah mungkin. Daripada “Sha, atau Pas” sedikit geli kedengarannya.
“Ada apa lagi My Princess?” tanya Pasha saat sudah berbalik badan dengan senyum merekah dari kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
“Ini!” Era memberikan sebuah tepak makan untuk Pasha.
“Apa ini?” tanya Pasha penasaran.
“Hanya sandwich yang sudah dicampur dengan racun tikus.” Jawab Era dan diakhiri dengan gelak tawa.
“Jahat banget sih kamu, Ra! Ya sudah terima kasih banyak ya, Mbak Pacar yang baik hati. Masih ingat juga kamu dengan permintaanku kemarin.”
Era hanya mengendikkan bahunya. Setelah itu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Pasha yang masih senyum-senyum sendiri sambil mengamati kotak makan dari Era.
**
“Astaga! Akhirnya kamu masuk juga, Jul!”
“Iya nih. Tahu nggak, kita semua khawatir loh dengan keadaan kamu yang tiba-tiba menghilag tanpa kabar.”
“Kamu kemana aja sih, Jul? bikin khawatir saja. kamu baik-baik saja, kan?”
“Coba lihat dulu, kaki kamumasih nempel lantai kan? Syukurlah kamu masih hidup.”
Era sangat pusing mendengar ocehan teman-temannya yang menyambut kedatangannya. Mau menjelaskan pun tidak diberi kesempatan untuk bicara. Sekhawatir itu kah teman-temannya. Atau karena mereka menjadi super sibuk semenjak ketidak hadirannya di kantor. karena itu artinya semua pekerjaannya dilimpahkan pada anak buahnya.
“Oh gitu ya, turut berduka cita ya, Jul?”
“Eit, jangan khawatir kena teguran dari atasan. Kan Tuan Pasha tidak mungkin memberi kamu hukuman.”
“Yup, betulll sekali. Palingan memberi hukuman yang enak-enak.”
Era mengerutkan keningnya. dia sungguh bingung dengan maksud ucapan teman-temannya. Kenapa Pasha tidak akan memberikan dirinya hukuman. Sebenarnya apa yang telah mereka ketahui.
“Udah deh, jangan ngeles lagi. kita semua tahu kok kalau Tuan Pasha sepertinya ada hati dengan kamu.”
“Iya, Jul. saat kamu nggak masuk tanpa ijin, Tuan Pasha terlihat sangat panik mencari keberadaan kamu. Dan aku yakin kalau kamu juga punya perasaan yang sama kan, pada Tuan Pasha?”
“Apaan sih? Udah sana, kerja!” Era menghindar dari berbagai macam pertanyaan dari teman-temannya. Meskipun ia memang menjalin hubungan dengan Pasha, dia tidak akan mengumbar berita itu.
Kini Era pun sudah berada di ruang kerjanya. dia juga sudah mulai menyalakan komputernya untuk memulai aktivitasnya. Era juga sudah menyiapkan diri jika sebentar lagi akan dipanggil atasannya karena ketidak hadirannya selama dua hari.
Tok tok tok
__ADS_1
Baru saja Era membuka beberapa file untuk dikerjakan, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintunya.
“Masuk!”
Cklek
“Ada yang bisa saya bantu, Nona Yeslin?” tanya Era pada Yeslin yang sedang memasang wajah murung.
“Bu Era diminta oleh Tuan Pasha ke ruangannya sekarang juga.” ucap Yeslin dengan wajah juteknya.
“Terima kasih.” Era menjawabnya dengan sopan.
“Kamu tahu nggak, kenapa King memanggilmu? Karena kamu akan mendapatkan hukuman atas ketidak hadiran kamu selama dua hari. Biar tahu rasa! Hanya menjadi Kepala HRD saja sudah sok sok’an.”
“Terima kasih atas pemberitahuannya, Nona Yeslin.” Era masih menjawabnya dengan ramah. Dan selalu membuat Yeslin semakin kesal. Setelah itu Yeslin langsung keluar dari ruangan Era.
*
Kini Era sudah menuju ke ruangan Ceo. Tak lupa Yeslin juga mengikutinya. Perempuan itu ingin tahu saat Pasha memarahi Era, ataupun memberi hukuman.
“Selamat pagi, Tuan Pasha!” sapa Era dengan sopan.
“Pagi!”
“Yeslin, terima kasih sudah memanggilkan Bu Era. Sekarang kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu.” Usir Pasha.
Dengan wajah kesal dan menghentakkan kakinya, Yeslin akhirnya keluar dari ruangan Pasha. lalu Pasha tiba-tiba mengunci pintunya.
“Eh, kenapa dikunci?” tanya Era mendadak cemas. Sedangkan Pasha hanya tersenyum smirk menatap Era.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1