
Era berkendara sendiri menggunakan mobil Rayyan untuk menjemput pria itu. jujur saja, selain Era tidak tenang dengan perasaannya sendiri karena seolah memiiki hutang pada Rayyan, Era juga merindukan pria itu. rindu dalam artian sebagai sahabat. Pasalnya selama ini mereka berdua selalu kompak dalam pekerjaan, dan juga urusan lainnya.
Kurang lebih selama dua puluh menit Era sudah sampai bandara. Ternyata Rayyan sudah menunggunya dari tadi. terlihat pria itu sedang duduk sendiri di kursi tunggu. Apalagi waktu sudah malam, jadi tidak terlalu banyak orang melakukan penerbangan.
“Sudah lama kamu di sini, Ray?” tanya Era menghampiri pria itu.
“Oh, sudah datang kamu, Joel. Ayo!” sahut Rayyan dan segera beranjak dari duduknya dengan menarik kopernya sendiri.
Era hanya diam saja setelah pertanyaannya tidak dijawab oleh Rayyan. Era merasa sahabatnya itu telah berubah tidak seperti biasanya. Apakah semua itu gara-gara kejadian beberapa hari yang lalu sebelum Rayyan berangkat ke Indonesia?
“Mana kunci mobilnya, Joel! Biar aku saja yang nyetir.”
Era memberikan kunci mobil milik Rayyan, kemudian mereka berdua segera pulang.
Dalam perjalanan pulang, keduanya saling diam. Era bingung mau mengajak Rayyan bicara lebih dulu, tapi sepertinya mood pria itu sedang tidak baik. Atau bisa jadi Rayyan masih dalam keadaan lelah setelah perjalanan jauh.
Perjalanan dari bandara sampai apartemen Era yang hanya menghabiskan waktu dua puluh menit, bagi Era rasanya sangat lama. Apalagi sejak tadi Rayyan diam saja. padahal saat dia menghubunginya untuk minta dijemput, Era bisa mendengar langsung suara Rayyan seperti biasanya. Tapi kenapa sekarang berbeda.
Era bingung saat tiba-tiba Rayyan menghentikan mobilnya tepat di depan kompleks apartemennya. biasanya Rayyan akan mengantar Era sampai mobilnya masuk ke dalam basement.
“Aku masuk dulu! selamat beristirahat ya, Ray!” ujar Era yang memilih untuk mengalah dan keluar dari mobil lebih dulu.
Rayyan masih diam, dan tak kunjung membukakan pintu mobil untuk Era. Entahlah, perasaan pria itu sangat kacau. Dia masih memikirkan tentang Pasha yang meminta bantuannya untuk menemukan calon istrinya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
“Ray, tolong buka pintunya!” seru Era, namun Rayyan masih diam dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
Era tidak berani memaksa lagi. dia juga ikut diam, sama seperti Rayyan. Biarkan sama-sama diam. entah siapa yang paling kuat bertahan dalam kebisuan itu. Era ataukah Rayyan.
Hingga sampai sepuluh menit, akhirnya Era yang tidak tahan. Dia mengatur nafasnya dulu sebelum bicara baik-baik dengan Rayyan. Atau lebih tepatnya bicara tentang masa lalunya yang sudah ia janjikan pada Rayyan sebelum pria itu berangkat ke Indonesia.
“Kamu marah sama aku, Ray?” tanya Era membuka obrolan.
“Buat apa aku marah?” tanya Rayyan balik.
Sungguh Era dibuat bingung dengan keadaan seperti ini. dia sangat tidak nyaman dengan sikap Rayyan yang membisu secara tiba-tiba. Selain itu Era juga masih ragu-ragu untuk menceritakan masa lalunya dengan pria itu.
“Apa kamu sudah siap mendengar ceritaku, Ray?” tanya Era lagi.
Mendengar pertanyaan Era, akhirnya Rayyan menoleh pada Era. Tampak jelas raut wajah Era yang begitu sedih. Karena memang sejak tadi ia tidak memperhatikan Era. Dia terlalu fokus dengan apa yang dikatakan oleh Pasha.
“Maafkan aku, Joel! Jika kamu tidak keberatan, aku akan mendengarnya. Bahuku juga sudah siap untuk tempat kamu bersandar.” Ujar Rayyan sambil mengusap lembut lengan Era.
Era pun mulai menceritakan masa lalunya. Tidak semuanya. Hanya masalah yang paling mendasar sekaligus penyebab utama ia sampai bisa berada di negara ini.
“Aku pernah jatuh cinta pada orang yang salah, Ray. Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sampai aku tidak menyadari betapa bodohnya diriku ini. termakan dengan janji manis sebuah pernikahan sampai hal yang penting dalam hidupku ini aku korbankan. Jika di dunia ini ada manusia paling hina, akulah orangnya, Ray. Aku telah jatuh cinta pada pria yang menjanjikan sebuah kebahagiaan. Namun sayangnya itu hanya janji manis yang meninggalkan kenangan paling pahit. Dia pergi tanpa alasan dan tiba-tiba datang kabar pernikahannya dengan wanita lain.” Ucap Era tanpa sadar air matanya sudah berjatuhan.
Rayyan masih diam dan mendengarkan semua cerita Era. Dia masih penasaran dengan kelanjutan kisah Era dengan mantan kekasihnya itu.
“Aku sangat benci dia, Ray! Dia sudah membuat dua hal dalam hidupku hilang sekaligus hancur.” Tangis Era pecah, ia tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
Sedangkan Rayyan hanya mampu mengepalkan tangannya saat mendengar kalimat terakhir Era baru saja. dia cukup paham dengan maksud cerita Era. Yaitu Era telah menyerahkan harta berharga dalam dirinya untuk kekasihnya itu. namun untuk satu hal lagi yang ia masih belum mengerti.
__ADS_1
“Apa maksud kamu, Joel?”
Era mengusap air matanya. meskipun masih menyisakan isakannya, ia masih ingin melanjutkan cerita masa lalunya pada Rayyan.
Untuk satu hal lainnya lagi yang telah membuat hidup Era hancur yaitu Era sudah divonis dokter tidak bisa mengandung lagi.
Ya, setelah kabar pernikahan Pasha dan Yeslin waktu itu, ternyata saat itu juga Era sedang hamil. Hamil anak Pasha dari perbuatan dosanya waktu itu. Era pun baru mengetahui kehamilannya itu saat ia baru tiba di negara ini.
Saat itu Era selalu merasakan tidak enak badan. Ia mengira kalau tubuhnya sedang beradaptasi dengan musim yang ada di negara ini. terlebih waktu itu sedang dalam musim dingin. Dan untuk memastikan kesehatannya, Era pun datang ke sebuah klinik kecil tak jauh dari rumah sewanya. Betapa terkejutnya ia saat tahu ada nyawa di dalam rahimnya.
Perasaan Era bercampur aduk saat mengetahui ia tengah hamil anak Pasha. tepat di saat pria itu mencampakkannya. Namun ada kabar mengejutkan lagi di mana hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa kandungannya bermasalah. Janin yang ada dalam kandungan Era tidak berkembang. Jadi, mau tidak mau Era harus mengikuti anjuran dokter untuk menggugurkan janin yang masih berusia lima minggu itu.
Kebetulan saat itu sedang dalam libur musim dingin. Jadi saat itu juga Era dirawat di rumah sakit untuk melakukan tindakan pengambilan janin itu. sedih. Tentu saja Era rasakan. Tapi dia bisa mengambil hikmahnya. Dengan diambilnya janin dalam kandunganya itu, berarti sudah tidak ada ikatan apapun yang membelenggunya dengan Pasha.
Beberapa saat setelah menjalani tindakan pengambilan janinnya, Era diminta untuk stay di rumah sakit yang sebelumnya sudah disarankan dari pihak klinik.
Era kira setelah janin yang tidak berkembang itu diambil, ia sudah bisa kembali menjalani hidupnya dengan normal. Walau rasa sakit hatinya terhadap Pasha masih begitu besar. Ternyata masalah baru lagi muncul. Hasil diagnose dokter pasca pengambilan janin itu, Era dinyatakan sangat sulit untuk hamil lagi, karena kandungannya bermasalah. Betapa hancurnya hati Era saat itu. setelah keperawanannya ia berikan sukarela pada pria berengsek seperti Pasha, ia harus menerima kenyataan pahit dengan kandungannya yang bermasalah higga sangat sulit hamil.
Era kembali menangis tersedu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rayyan yang sejak tadi mendengarnya tidak tega melihat kesedihan sahabatnya itu. Rayyan pun menarik Era ke dalam pelukannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!