Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
92. Tiba-tiba Kacau


__ADS_3

Era pun bernafas lega, karena ternyata Rayyan tidak sedang menghindarinya. Pria itu sedang sibuk dengan pekerjaan yang diberikan oleh Papanya. Dan kini tatapan Era tertuju pada ponsel Rayyan yang menunjukkan kalau pria itu sudah membelikan tiket penerbangan untuk menghadiri pesta pernikahan Khanza.


“Ray, pernikahan Khanza kan masih lama. Kenapa harus sekarang sih beli tiketnya?” protes Era.


“Kenapa memangnya? Papa sudah memberimu ijin cuti kerja. Jadi nggak perlu khawatir dengan pekerjaan kamu. Dan aku sengaja membeli tiket sekarang agar kamu tidak banyak alasan untuk menolak pergi ke Indonesia.”


Rayyan memang sudah mengira kalau Era pasti akan memberikan banyak alasan untuk tidak ikut ke acara pernikahan sang adik nanti. apa lagi alasannya kalau tidak ingin lagi menginjakkan kakinya di negara yang sudah cukup membuat hati Era terluka.


“Aku tahu kalau kamu pasti nanti menolak pergi ke sana. Joel, dengarkan aku. sampai kapan kamu akan menyimpan rasa sakit hati pada pria itu. berdamailah dengan masa lalumu, Joel! Kalau hati kamu masih dipenuhi amarah dan sakit hati oleh pria itu, sampai kapanpun hidup kaamu tidak akan tenang.” Ujar Rayyan memberi nasehat.


“Berdamai seperti apa maksud kamu, Ray? Kamu belum mengalaminya sendiri. Jadi tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya sakit hatiku ini.”


“Joel, seseorang yang terkena luka bakar, orang lain yang melihatnya pasti juga tahu kalau luka itu sangat sakit. Begitu juga dengan aku. tidak perlu aku harus merasakan sakit hati seperti yang kamu alami agar aku tahu sesakit apa yang kamu rasakan. Ikhlas, Joel. Itu kuncinya. Kamu ikhlaskan rasa sakit itu, dan berdamailah dengan masa lalu yang kelam itu. aku berani jamin kalau hati kamu akan tenang setelahnya.”


Era terdiam sejenak setelah mendengar nasehat Rayyan yang memang benar adanya. Namun untuk berdamai dengan masa lalu itu, Era masih belum mengerti bagaimana dan apa yang harus ia lakukan.


“Ada dua kemungkinan jika kamu mau berdamai dengan masa lalumu, Joel. Pertama kamu sudah ikhlas dan melupakan kenangan pahit itu dan kamu bisa membuka hati kamu kembali menuju masa depan yang lebih cerah. Dan yang kedua, mungkin saja di dalam hati yang paling dalam masih ada nama dia, kalau kamu mencoba berdamai, kamu bisa,-“


Rayyan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak. Memabyangkan Era yang masih mencintai mantan kekasihnya, dan akhirnya wanita itu memilih untuk kembali dengan pria itu dan melupakan dirinya.


“Bisa apa, Ray?” tanya Era penasaran.


“Entahlah, hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya, Joel. Ya sudah aku masuk dulu, kamu juga mau pulang, kan?” Rayyan langsung masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Era yang masih diam mematung, mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya.


Mungkinkah Era akan berdamai dengan masa lalunya. Apakah dia sanggup menerima segala permintaan maaf Pasha jika pria itu mengakui semua kesalahannya. Mengingat pria itu sudah menghancurkan dua hal yang paling penting dalam hidupnya.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Hari keberangkatan Era ke Indonesia pun tiba. Hari ini ia dan Rayyan akan pergi ke Indonesia untuk menghadiri acara pernikahan Khanza. Mereka berangkat berdua saja, karena kedua orang tua Rayyan sudah berangkat lebih dulu seminggu yang lalu.


Era saat ini sedang bersiap untuk berangkat ke bandara sambil menunggu Rayyan menjemputnya. Perempuan itu menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ada rasa yang tidak nyaman dalam hati Era saat hendak menginjakkan kakinya kembali ke negara kelahirannya, sekaligus negara yang cukup banyak menorehkan luka.

__ADS_1


Sudah dua tahun lebih Era pergi dari negara itu demi menyelamatkan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Jujur saja ada rasa khawatir yang Era rasakan jika nanti ia bertemu dengan Pasha.


Memang kota tempat tinggal Pasha dengan tempat tinggal keluarga Rayyan tidak sama. Tetap  saja kemungkinan bertemu itu ada. Dan Era belum siap dengan pertemuan itu. terlebih ia teringat dengan ucapan Rayyan kalau ingin hidupnya tenang, maka ia harus berdamai dengan masa lalunya.


Ting tong


Era tersadar dari lamunannya saat mendengar suara bel apartemennya. dia segera menarik kopernya keluar. Pasti yang datang adalah Rayyan.


Klik


“Sudah siap?” tanya Rayyan saat Era baru saja membuka pintu.


Tanpa menjawab, Era langsung menarik kopernya keluar, dan segera mengikuti langkah Rayyan yang berjalan lebih dulu darinya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai bandara. Era dan Rayyan berjalan beriringan sambil mendorong koper masing-masing. Rayyan yang mengenakan kacamata hitam dengan penampilannya yang cool, membuat daya tarik tersendiri bagi kaum hawa yang kebetulan berpapasan dengannya. apalagi Rayyan memang berdarah Asia, jelas saja menjadi daya tarik beberapa perempuan bule.


“Ray, kamu lihat nggak sih kalau gadis-gadis tadi sangat tertarik denganmu?” tanya Era, namun yang ditanyai malah fokus ke depan tanpa menengok kanan kiri.


“Memangnya kenapa? Hak mereka lah. Aku nggak suka perempuan bule.” Jawab Rayyan sok jual mahal.


Pertanyaan Era sontak membuat Rayyan menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Era. Sedangkan Era hanya terkikik setelah berhasil mengerjai sahabatnya.


“Aku masih normal ya, Joel! Aku bukan penggemar terong.” Ucap Rayyan dengan muka kesal.


“Ok ok, sorry. Jangan marah, nanti nggak dapat terong, eh oops!” canda Era dan langsung mempercepat langkahnya sebelum mendapat kemarahan dari Rayyan.


Rayyan yang kesal pun ia berusaha mengejar Era. Namun sayangnya mereka harus segera bersiap menuju pesawat, dan Rayyan gagal meluapkan amarahnya pada Era.


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Era memilih diam karena Rayyan terlihat langsung tidur. Mengingat semalam pria itu lembur sampai malam, karena pekerjaannya sangat banyak.


Era seperti dejavu. Ia pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Yaitu dalam perjalanan udara dengan hati yang tidak begitu tenang.

__ADS_1


Jika dulu, dua tahun yang lalu ia melakukan perjalanan jauh setelah hatinya dihancurkan oleh orang yang paling ia cintai, namun sekarang hatinya juga tidak tenang karena seolah akan menemui orang yang telah menghancurkan hatinya itu.


Setetes air mata jatuh begitu saja saat tiba-tiba Era teringat wajah Pasha. ternyata waktu lama dan tempat yang jauh, bahkan terpisahkan oleh benua dan Samudra tidak mampu membuat Era melupakan sosok Pasha. bodohnya lagi, kenapa sebagian hati kecil Era tiba-tiba merindukan pria itu.


“Tidak! Ini salah.” Gumam Era sambil menggelengkan kepalanya.


***


Setelah menempuh perjalanan udara selama belasan jam, Era dan Rayyan pun sudah tiba di Indonesia. Mereka berdua mendorong koper masing-masing menuju tempat penjemputa.


Hati Era mendadak sesak tanpa sebab. Namun ia berusaha tetap tenang. Apalagi saat ini Rayyan tampak mengalungkan tangannya pada pundaknya.


“Apa kamu jet lag, Joel?” tanya Rayyan sambil menepuk punggung Era.


“Sepertinya begitu.”


*


Hal yang sama juga dirasakan oleh seorang pria yang baru saja turun dari pesawat setelah dua hari ini melakukan perjalanan bisnis di luar kota. Pasha memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak tidak nyaman.


Deg


Pasha menggelengkan kepalanya saat tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang selama ini ia cari. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya sejenak untu menyadarkan pikirannya yang tiba-tiba kacau.


Pasah membuka matanya lagi, dan sosok yang ia lihat tadi sudah tidak ada, bersamaan dengan sebuah mobil yang baru saja melaju membawa penumpang.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2