
Era keluar dari ruangannya menuju basement. Memang dia pulang paling akhir. Jadi di sana hanya tersisa mobilnya saja. setelah itu ia segera menuju café dimana Hagi sedang menunggunya.
Perjalanan dari kantor menuju café hanya butuh waktu kurang lebih sepuluh sampai lima belas menit. Jadi Era datang tepat waktu seperti ancaman Hagi tadi.
Setibanya di café, Era langsung mengetahui keberadaan Hagi yang memilih tempat duduk agak sepi dari pengunjung. Meskipun Era sangat malas dengan pria itu, tapi dia berharap ini adalah pertemuan terakhirnya dengan sang mantan kekasih. Apalagi Era sekarag sudah memiliki kekasih baru.
“Hei, Ra! Silakan duduk!” Hagi menyambut kedatangan Era dengan ramah. Tapi tidak dengan Era. Perempuan itu memasang wajah jutek setelah duduk tepat di hadapan Hagi.
“Mau minum apa, biar aku pesankan?” tanya pria itu cukup senang, karena Era memilih datang menemuinya.
“Nggak usah. Cepat katakan, apa yang ingin kamu sampaikan?”
“Tenang saja, Ra! Apa kamu khawatir kalau aku memesankan minum untuk kamu, nanti aku menyuruh pelayan café memberi racun pada minuman itu?”
Era hanya memutar bola matanya jengah menanggapi ucapan Hagi baru saja.
“Tanpa aku memberi obat dalam minumanmu, kamu akan bertekuk lutut padaku, Ra!” gumamnya pelan.
Era masih diam. lebih tepatnya menunggu Hagi ingin menyampaikan sesuatu seperti apa sehingga ia harus datang. dan tak lama kemudian pria yang berstatus sebagai manta kekasih Era itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dan diberikan pada Era.
“Apa ini?” tanya Era penuh tanda tanya.
“Buka saja dulu, dan baca isi surat yang ada di dalamnya.”
Dengan hati yang sedikit cemas, Era membuka amplop itu. di dalamnya ada sebuah surat. Namun Era belum membacanya. Entah apa maksud dan isi dari surat itu.
__ADS_1
Tidak ingin semakin penasaran, Era segera membaca surat itu. matanya melotot tajam dan hampir tidak percaya dengan nominal yang tertera pada surat perjanjian utang itu. bukan hanya nominalnya yang membuat Era terkejut. Melainkan nama seseorang yang bertanda tangan di dalam surat itu lah yang membuatnya hampir tidak percaya.
Ya, Bibi Era ternyata telah memiliki hutang yang cukup besar pada Hagi. Hutang itu sudah lama. Sejak Era dan Hagi masih menjadi pasangan kekasih. Era tidak habis pikir, kenapa Bibinya sampai berani berhutang banyak pada Hagi.
“Bibi kamu berhutang padaku untuk pengobatan adik Nola, sepupu kamu. Dan sampai sekarang, belum sepeser pun Bibi kamu membayarnya. Awalnya aku tidak berminat untuk membuat surat perjanjian hutang seperti ini. bahkan saat Bibi kamu memberikan sertifikat rumah sebagai jaminannya, aku sudah menolaknya. Namun Bibi tetap memaksa memberikannya padaku, dan meminta dibuatkan surat perjanjian itu. ternyata ada gunanya sekarang,-“
“Kamu bisa memanfaatkannya dengan menjerat aku, begitu? Jangan sok percaya diri kamu, Gi! Itu semua tidak akan terjadi.” Sahut Era yang sudah mengerti apa tujuan mantan kekasihnya itu. hagi akan membebaskan utang piutang Bibinya, asal dengan syarat ia mau kembali menjalin hubungan dengan pria itu.
“Nah, kamu sudah paham ternyata.” Ucap Hagi dengan tersenyum menang. Nominal hutang Bibinya memang sangat banyak. Bahkan kalau rumahnya dijual, sepertinya masih kurang. Dan uang itu tidak semua digunakan untuk pengobatan sepupu Era yang menderita kanker darah. Melainkan untuk biaya hidup keluarga.
Era sendiri tidak tahu banyak bagaimana kehidupan keluarga Bibinya setelah ia memutuskan keluar dari rumah itu gara-gara kejadian pahit itu.
“Lalu bagaimana sekarang? kamu pilih melunasi hutang Bibi kamu atau aku bebaskan saja, asal kamu mau kembali denganku, Ra?”
Sungguh Hagi sangat licik. Dia menggunakan surat perjanjian utang itu hanya untuk menjerat Era. Kenapa tidak menjerat Nola saja? toh mereka dulu sempat main gila di belakang Era. Tentu saja Hagi tidak mau. Karena Nola tidak berarti apapun baginya. Dulu Nola hanya pelampiasan hasrattnya saja. apalagi Nola yang lebih dulu menggodanya. Dan hubungannya dengan Nola pun tidak bertahan lama, karena ternyata perempuan itu tidak sekali dua kali menggoda pria lain. Hingga pada akhirnya Hagi memutuskan hubungannya dengan Nola. Dan dia sangat menyesal telah menghianati Era. Perempuan yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di hatinya.
“Ok! Terserah kamu. Tapi semua itu tetap ada syaratnya.” Hagi menjeda sejenak kalimatnya.
“Selama proses kamu melunasi hutang-hutang Bibi kamu, jangan larang aku mau melakukan apapun. Misalnya mengajak kamu makan malam, atau menjemput kamu, atau yang lainnya. Dan, jika kamu menolaknya, aku mengambil rumah keluarga Bibi kamu itu, lalu membuat mereka menjadi gelandangan.”
Era terdiam cukup lama setelah setelah mendengar semua perkataan Hagi. Sebenarnya bisa saja dia membiarkan Hagi mengambil rumah Bibinya. Kalaupun Paman dan Bibinya diusir, Era bisa mengajaknya untuk tinggal di rumahnya yang sekarang. namun Era kembali berpikir. Pasti Bibi dan Pamannya juga tidak mau sampai kehilangan rumah itu. apalagi rumah itu adalah rumah peninggalan kakaknya, yang tak lain orang tua Era. Pasti paman dan Bibinya sangat bersalah sampai kehilangan rumah itu. apalagi diambil sebagai jaminan hutang.
Era saat ini benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia bergegas meninggalkan Hagi. Hagi sendiri hanya tersenyum tipis setelah kepergian Era. Itu artinya Era menerima syarat yang ia ajukan.
***
__ADS_1
Era kini sudah sampai rumahnya. Badannya benar-benar lelah. Tidak hanya itu saja. pikirannya juga. hari ini benar-benar hari yang paling mengejutkan baginya.
Era meletakkan tas kerjanya di atas meja, setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekaligus menjernihkan pikirannya.
Cukup lama Era berdiam diri di dalam kamarnya. Dia juga sampai melewatkan makan malamnya. Dia benar-benar bingung. Apakah lebih baik menghubungi Bibinya? Tapi saat ini keluarga Bibinya juga masih dalam keadaan berduka. Ia tidak ingin menambah masalah lagi.
***
Sementara itu malam ini, Pasha yang sudah berada di rumahnya setelah ada meeting di luar dengan kliennya, sejak tadi ia menghubungi ponsel Era, namun sampai sekarang tidak ada jawaban. Ponsel Era aktif. Lalu kemana kah kekasihnya itu.
“Angkat dong, Ra! Kamu jangan buat aku khawatir! Apa kamu marah padaku gara-gara bekal makan siang tadi?” gumam Pasha.
Mungkin sudah belasan kali Pasha menghubungi Era. Namun tak sekalipun Era mengangkatnya. Akhirnya Pasha nekat pergi ke rumah Era, untuk memastikan kalau kekasihnya itu baik-baik saja dan tidak sedang marah dengannya.
Beberapa menit berkemudi, Pasha sudah sampai kompleks perumahan Era. Namun saat hampir sampai rumah kekasihnya itu, Pasha melihat ada sebuah yang parkir tepat di depan pagar rumah Era. Pasha pun melajukan mobilnya pelan, untuk melihat siapakah yang datang bertamu ke rumah kekasihnya.
Pasha mengepalkan tangannya saat melihat seorang pria sedang berdiri di depan pintu rumah Era. Dan di sana juga ada Era.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!