Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
91. Menghindar


__ADS_3

Mendadak makanan yang sedang menuju tenggorokan Era serasa tercekat. Untung saja ia tidak tersedak, jadi Era bisa segera mengambil air putih untuk diminum.


Era tersenyum tipis menanggapi ucapan Papa Rayyan baru saja. memang sudah lama ia akrab dengan keluarga Rayyan. Ternyata mereka mengharapkan dirinya agar bersatu dengan putranya. Entahlah, Era sangat sulit menyikapi perasaannya sendiri. Karena jujur saja, walau Rayyan adalah pria yang sangat baik, bahkan nyaris sempurna, namun pria itu tidak mampu menggetarkan hatinya. Era juga tidak tahu apa alasannya. Apakah karena hatinya sudah mati, atau karena hatinya masih tersangkut di hati yang lain.


“Papa dan Mama doakan saja. Semuanya Tuhan yang menentukan.” Sahut Rayyan saat ia hanya melihat senyuman tipis Era tanpa kata-kata.


Rayyan memang mencintai Era. Tapi dia bukan pria egois. Tapi berusaha juga tidak ada salahnya, asal bukan pemaksaan. Maka dari itu, nanti saat pernikahan adiknya, ia akan bicara langsung dengan Pasha.


**


Usai makan malam itu, mereka berempat hanya berbincang-bincang sebentar. Setelahnya, Rayyan mengantar Era pulang ke apartemennya.


Suasana di dalam mobil saat perjaalanan menuju apartemen Era terasa begitu hening. Rayyan sangat tidak suka dengan kecanggungan ini. ia sudah terbiasa dengan sikap Era yang ceria dan santai. Tidak seperti ini.


“Joel! Kenapa diam sih? Sakit gigi kamu?” celetuk Rayyan dengan tatapan masih fokus ke depan.


Era pun hanya melirik sekilas, tanpa berniat menimpali ucapan Rayan. Sedangkan Rayyan yang tadinya fokus dengan kemudianya, kini ia melirik ke arah Era, dan tanpa Era sadari ternyata mobil Rayyan menepi dan berhenti.


“Mau aku antar ke dokter gigi?” tanya Rayyan, setelah mobilnya berhenti.


“Apa sih, Ray? Nggak lucu tahu.” Sahut Era dengan kesal.


Rayyan menghembuskan nafasnya pelan. Dia mengerti dengan suasana hati Era saat ini. terlebih setelah percakapannya dengan kedua orang tuanya tadi. percakapan yang lebih banyak menjurus ke arah hubungan dirinya dan Era.


“Sorry kalau perubahan sikap kamu ini gara-gara percakapan dengan Mama dan Papa tadi. jangan terlalu diambil pusing, Joel. Santai saja. maklum kedua orang tuaku memang sudah menginginkan aku menikah sejak dulu. jadi, mereka berharapnya kita,-“


“Antar aku pulang sekarang juga, Ray! Aku lelah dan ingin istirahat.” Sahut Era tak ingin mendengar kelanjutan kalimat Rayyan.


Rayyan pun langsung menyalakan mesin mobilnya, dan melajukannya menuju apartemen Era tanpa berkata apapun. Mungkin lebih tepatnya ia ingin memberikan Era ruang dan waktu untuk memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh orang tuanya tadi.

__ADS_1


Sesampainya di basement apartemen Era, Rayyan membukakan pintu mobil untuk Era. Perempuan itu masih diam seribu Bahasa.


“Terima kasih atas jamuan makan malamnya tadi, Ray. Aku masuk dulu. selamat malam!” ucap Era, namun langkahnya terhenti saat Rayyan mencekal tangannya.


“Joel! Sekali lagi maafkan ucapan Mama dan Papa tadi. aku tidak ingin ucapan Mama dan Papa tadi menjadi beban pikiran kamu. Aku ingin selamanya kita seperti ini, seperti biasa. Apapun nanti keputusan kamu.’ Ucap Rayyan sarat dengan makna pasrah.


“Selamat malam! istirahatlah! Oh iya, aku harap satu hal yang wajib kamu turuti dari ucapan Mama tadi. yaitu, ikutlah kami pergi ke Indonesia saat pesta pernikahan Khanza nanti.”


Era hanya mengangguk samar, sebelum akhirnya ia lebih dulu masuk menuju unit apartemennya dan meninggalkan Rayyan yang masih berdiri di samping mobilnya.


Jujur saja Era sangat tidak tega melihat raut wajah penuuh kepasrahan yang ditunjukkan oleh Rayyan. Tapi dia sendiri juga bingung dengan perasaannya sendiri.


***


Beberapa hari berlalu. Setelah acara makan malam dengan keluarga Rayyan waktu itu, Era sekarang memilih untuk menjaga jarak dengan kedua orang tua Rayyan. Terlebih jika sedang berada di kantor. namun dengan Rayyan, Era masih bersikap seperti biasa. Bahkan Rayyan lah yang menurut Era agak menghindarinya.


Rayyan lupa kalau hari ini dia juga ada meeting di kantor. padahal kemarin Era sudah memberitahunya. Karena meeting kali ini sangat penting, dan merupakan meeting rutin dengan beberapa staff penting perusahaan.


“Kemana sih si Ray? Sejak tadi susah sekali dihubungi.” Gumam Era menahan kesal sambil memegang ponselnya dan beberapa kali menghubungi Rayyan.


Era melihat jam tangannya. kurang lima belas menit lagi meeting akan dimulai. Dan keberadaan Rayyan sangat penting pada meeting ini.


Pikiran buruk pun tiba-tiba menghampiri Era. Beberapa hari ini ia merasa kalau sahabatnya itu terlihat menghindarinya. Apakah berdampak pada meeting hari ini. karena ada dirinya, jadi Rayyan memilih pergi tanpa memberi kabar apapun. Sedangkan untuk bertanya pada Mr. Chandra sepertinya bukan solusi jitu.


“Nona Joele, semuanya sudah lengkap. Meeting sudah bisa dimulai.” Ujar salah satu staff yang keluar ruangan untuk memberitahu Era.


“Baik. Tiga menit lagi meeting akan dimulai.” Jawab Era dengan tenang.


Dan dalam waktu tiga menit itu Era gunakan untuk menghubungi Rayyan. Mengirim pesan pun juga ia lakukan. Tapi sampai waktu tiga menit itu habis, Rayyan juga belum membalas pesan ataupun menerima panggilannya. Akhirnya mau tidak mau Era lah yang akan menghandle meeting kali ini.

__ADS_1


Sore harinya, menjelang jam pulang kantor tiba, Era yang baru saja ada kepentingan dengan salah satu karyawan, ia melihat Rayyan tampak berjalan memasuki ruangannya. Dia pun segera menghampiri pria itu sebelum masuk ke dalam ruangannya.


“Nggak gitu juga Ray cara kamu kalau ingin menghindariku.” Ucap Era tiba-tiba.


Rayyan yang hendak membuka handle pintu ruangannya pun menoleh ke sumber suara. Apalagi melihat raut wajah Era yang tampak kesal, membuat Rayyan semakin bingung.


“Apa maksud kamu, Joel?” tanya Rayyan bingung.


“Kalau kamu mau mengindariku, jangan diikut campurkan masalah ini dengan pekerjaan. Kamu harusnya bisa bersikap professional. Kalau begini caramu, lebih baik aku saja yang pergi. Aku akan mengajukan resign agar kamu tidak perlu susah-susah menghindariku.” Tutur Era panjang lebar.


“Joel, jujur aku tidak mengerti maksud kamu. Beberapa hari ini aku memang sibuk. Lalu, menghindarimu? Siapa yang menghindarimu?”


“Nggak usah banyak ngeles. Terlihat jelas, dengan kamu tidak menghadiri meeting tadi siang, karena kamu tidak ingin berada satu ruangan denganku.”


“Astaga!!!” pekik Rayyan setelah menyadari kesalahannya yang membuat Era salah paham.


Rayyan pun akhirnya minta maaf pada Era. Beberapa hari ini ia memang sibuk dengan tugas yang diberikan oleh Papanya. Termasuk dengan hari ini. ia sampai lupa kalau ada meeting dengan beberapa staff, karena ia sedang pergi ke luar kota untuk meeting sekaligus meninjau proyek yang ada di sana secara langsung.


“Maafkan aku ya, Joel! Jangan marah! Oh iya, aku sudah membeli ini..” ucap Rayyan sambil menunjukkan ponselnya dimana ia sudah membeli tiket penerbangan untuk pergi ke Indonesia beberapa minggu lagi.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2