
Tatapan Pasha langsung tertuju pada Serena yang sedang duduk tak jauh dari Rayyan. Pria itu ingat jelas siapa Serena. Bahkan wanita itu pernah menggodanya secara terang-terangan, dengan menunjukkan body sekssinya.
“Kamu kenal, King?” tanya Era pada suaminya. karena Era sendiri lupa kalau dulu saat bertemu kembali dengan Pasha di pernikahan Khanza, Pasha sedang berdua dengan Serena.
“Oh, iya. aku rasa kamu memang kenal dengan Serena. Dia mantan sekretaris Zafir. Sekarang jadi sekretarisku.” Sahut Rayyan.
Pasha masih diam dan memperhatikan Serena yang kembali menundukkan kepalanya setelah tadi mengangguk sopan padanya. Pasha merasa ada yang aneh dan sedikit curiga dengan hubungan Serena dan Rayyan. Dia tidak ingin Rayyan dirayu oleh Serena seperti dirinya dulu. karena Pasha memang sudah menyimpulkan kalau Serena bukanlah wanita baik-baik.
Sedangkan Serena yang diakui Rayyan bukan sebagai istrinya, hanya diam saja. selain dia tidak mengharapkan untuk diakui, dia juga tahu kalau Rayyan tidak mungkin menganggap dirinya sebagai istri di hadapan orang yang dicintainya.
“Oh ya, kamu mau ke mana, Joel?” tanya Rayyan mengalihkan pembicaraan.
“Kita mau pergi honeymoon. Ya kan, Sayang?” sahut Pasha sambil memeluk pinggang istrinya, menunjukkan kemesraannya.
“Ya sudah kalau begitu, selamat menikmati honeymoon kalian. semoga selalu bahagia. Kita duluan ya, sebentar lagi mau take off.” Ucap Rayyan dan segera menarik kopernya pergi menuju pesawat.
Serena hanya mengangguk sopan pada Pasha dan Era. Setelah itu mengikuti Rayyan yang berjalan lebih dulu.
Kini Rayyan dan Serena sudah berada di dalam pesawat. Mereka duduk berdampingan. Namun sejak tadi tidak ada pembicaraan apapun. Serena pun memilih untuk tidur saja karena hati dan tubuhnya benar-benar lelah.
Rayyan melirik ke sebelah. Lebih tepatnya ke arah Serena yang sedang tidur. Entah apa yang sedang Rayyan pikirkan saat melihat wajah Serena yang sedang tidur.
“Semoga aku tidak salah dengan keputusan ini.” batin Rayyan kemudian ikut memejamkan mata.
**
Perjalanan belasan jam itu akhirnya membawa Rayyan dan Serena di tempat tujuan. Serena yang sejak tadi tidur, dia tidak tahu kalau pesawat sudah landing.
__ADS_1
“Bangun! Kita sudah sampai.” Rayyan menepuk pelan pipi Serena agar wanita itu bangun. Namun rupanya Serena sangat nyenyak tidurnya, hingga tepukan di pipinya tidak terasa.
“Seren! Kita sudah sampai.” Ucap Rayyan tepat di telinga Serena. Sontak saja wanita itu langsung bangun dan terkejut dengan suasana di sekelilingnya.
“Kamu mau turun atau tetap di sini?”
Tanya menjawab, Serena pun segera bersiap. Meskipun nyawanya belum terkumpul semua. Mengingat dirinya sedang berada di negara orang. Tidak ada satupun orang yang dia kenal jika ditinggal pergi oleh Rayyan.
Setelah turun dari pesawat, Rayan mengajak Serena pulang ke apartemennya. apartemen yang baru dibeli Rayyan kemarin.
Rayyan sengaja mengajak Serena tinggal di apartemen. Tidak mungkin dia mengajak tinggal bersama dengan orang tuanya. Meskipun orang tuanya tidak keberatan sama sekali. Hanya saja Rayyan lebih mementingkan kenyamanan Serena.
Sesampainya di apartemen, Rayyan mempersilakan Serena masuk dan menunjukkan kamar mana yang akan ditempati.
“Ini kamar kamu. Di sini kamu bebas melakukan apapun dan sesukamu. Asal jangan punya niatan untuk kabur dariku. Oh iya, mulai besok kamu akan bekerja di perusahaan Papa. Dan kamuakan menjadi sekretarisku. Aku tahu kamu pandai berbahasa asing. Jadi tidak sulit untuk kamu adaptasi di negara ini.” ucap Rayyan dan segera pergi meninggalkan Serena tanpa menunggu jawaban wanita itu.
Serena sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Dia pun masuk ke dalam kamar yang cukup luas itu. kamar yang sangat berbeda dengan kamar apartemennya dulu.
Sementara itu Rayyan yang sudah berada di dalam kamarnya, dia segera menghubungi Mamanya kalau sudah sampai. Sekaligus memberitahu Mamanya kalau ia dan Serena tinggal di apartemen.
Mama Feby terdengar marah saat tahu kalau Rayyan memilih tinggal di apartemen bersama menantunya. Namun setelah Rayyan menjelaskan semuanya, akhirnya wanita itu mulai memahami maksud putranya. Terlebih hubungan Rayyan dan Papanya masih kurang baik.
**
Tengah malam Serena terbangun setelah beberapa saat istirahat. Dia merasa perutnya keroncongan karena tadi memang belum sempat makan malam. akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur untuk melihat apakah ada bahan makanan yang bisa dia makan.
Suasana unit apartemen yang ia tempati sangat sepi. Mungkin Rayyan juga sudah tidur. Namun sayangnya saat Serena sudah sampai dapur, dia melihat Rayyan sedang duduk di kursi sambil menikmati makanan buatannya sendiri. Ternyata mereka berdua sama-sama kelaparan.
__ADS_1
Meskipun agak canggung, namun Serena berusaha biasa saja. dia berjalan melewati Rayyan yang sedang makan. Lalu membuka lemari dapur, barangkali ada makanan instan yang bisa dimasak.
Ternyata di sana hanya ada spaghetti dan roti tawar. Karena memang kemarin orang suruhan Rayyan hanya mengisi bahan makanan itu saja. sedangkan Serena sendiri tidak suka dengan spaghetti.
Rayyan hanya diam saja menikmati spaghetti sambil sesekali melirik Serena yang sejak tadi berdiam diri di depan barstool. Akhirnya Serena hanya mengambil air putih dan selembar roti tawar.
“Kamu mau makan apa?” tanya Rayyan.
“Makan roti ini saja.”
“Apa selembar roti bisa membuat perutmu kenyang? Bagaimana kalau anakku sudah tumbuh di dalam perutmu dan kamu hanya memberikannya selembar roti tawar.” Tanya Rayyan panjang lebar.
“Aku nggak suka spaghetti.” Jawab Serena dengan lirih.
Rayyan hanya menghela nafasnya pelan. Kemudian ia mengambil ponselnya untuk memesan makanan melalui aplikasi.
“Kamu mau makan apa?” tanya Rayyan pada Serena yang masih berdiri tak jauh darinya.
“Apa saja yang penting ada nasinya.” Jawab Serena.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!