Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
21. Khawatir


__ADS_3

Era segera menuju ruangan Ceo. Tidak mungkin juga ia mengganti baju Pasha dengan yang baru, karena tidak tahu ukurannya dan juga pasti sangat mahal. Setidaknya ia meminta maaf dan menebus kesalahannya.


Setibanya di ruangan Pasha, Era mengetuk pintu beberapa kali. Mendengar seruan Pasha yang menyuruhnya masuk, Era langsung masuk begitu saja. ternyata di dalam sudah ada Yeslin yang membantu melepas kemeja Pasha.


Entah kenapa hati Era sedikit terusik melihat pemandangan itu. apalagi dia juga sering melihat kebersamaan Pasha danYeslin, yang kemungkinan besar mereka berdua menjalin hubungan.


“Kok bisa seperti ini sih, King?” tanya Yeslin yang tampak begitu peduli pada Pasha. apalagi terlihat jelas Yeslin sedang meniup-niup dada Pasha yang memerah kena tumpahan kopi.


Pasha masih mengabaikan keberadaan Era, karena ia masih merasakan sakit di kulitnya. Sedangkan Yeslin sendiri semakin menunjukkan kepeduliaannya terhadap Pasha di depan Era. Biar semua orang tahu kalau hubungannya dengan Pasha sangat dekat.


“Maaf, saya permisi!” pamit Era karena merasa diabaikan. Padahal niatnya ingin menebus kesalahannya pada Pasha.


“Tunggu!”


Sayangnya Era sudah keluar dari ruangan Pasha dan seolah tidak mendengar panggilannya. Setelah itu Pasha tersadar kalau sejak tadi Yeslin sedang berada di hadapannya membantu melepas kancing kemejanya.


“Apa yang kau lakukan? Keluarlah sekarang juga!”


Yeslin terkejut sekaligus takut dengan amarah Pasha yang baru kali ini ia lihat. Tanpa menunggu lama, perempuan itu segera keluar dari ruangan Pasha.


***


Seharian ini Era bekerja dengan tidak tenang. Terlebih setelah kesalahan yang ia lakukan pada Pasha. karena sampai sekarang pun dia tidak melihat Pasha keluar dari ruangannya. Era khawatir jika luka Pasha serius, hingga membuat pria itu tidak turun untuk makan siang. Karena sejak tadi Era juga terus mengamati Pasha saat jam makan siang tidak tampak batang hidungnya.


Era melihat jam di tangannya sudah waktunya pulang. perempuan itu tampak memegang kotak kemasan kecil yang berisi salep luka bakar, yang rencananya akan diberikan pada Pasha. namun dia menunggu sampai semua karyawan pulang.


Akhirnya Era memutuskan menunggu Pasha di basement saja. tidak mungkin juga dia masuk ke ruangan pria itu. khawatirnya ia melihat pemandangan romantis seperti tadi pagi.


Setibanya di basement, Era masuk ke dalam mobilnya. Kebetulan mobil Pasha juga masih ada di sana. Itu artinya Pasha memang belum pulang.


Cukup lama Era menunggu Pasha, namun pria itu tak kunjung pulang. perasaan Era semakin tidak tenang. Khawatir jika luka Pasha parah hingga pria itu tidak bisa pulang. namun, tak lama kemudian Era melihat sopir perusahaan sedang berjalan menuju mobil Pasha. itu artinya Pasha tidak ada di kantor. dan kemungkinan mobilnya akan diantar pulang oleh sopir perusahaan.


Era segera keluar dari mobilnya dan menghampiri sopir perusahaan itu.


“Pak Adam, tunggu!”

__ADS_1


Pria paruh baya yang merasa namanya dipanggil segera menoleh ke arah Era.


“Eh, Nona Juleha? Ada apa, Non? Kok belum pulang?” tanya Pak Adam.


“Pak Adam mau ke mana? Bukankah Pas,- eh maksud saya Tuan Pasha kan biasanya pulang sendiri tanpa sopir?” tanya Era penasaran.


“Oh, iya memang kebetulan saya mendapat perintah dari Tuan Pasha untuk membawa mobilnya,-“


“Kemana memangnya Tuan Pasha sekarang?” sahut Era semakin tidak tenang.


“Rumah sakit. Mak,-“


“Apa? Apa lukanya sangat parah, Pak sampai Pasha dilarikan ke rumah sakit?” Era benar-benar tidak menyangka kalau kopi panas yang tidak sengaja ia tumpahkan tadi sampai membuat Pasha masuk rumah sakit. Padahal ia sudah membelikan salep mahal agar luka bakar pasha cepat sembuh.


Pak Adam pun terlihat semakin bingung dengan pertanyaan Era. Pria itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Padahal dia tadi belum selesai bicara, namun dipotong begitu saja oleh Era.


“Pak Adam! Cepat katakan, di mana Pasha dirawat?” tanya Era dengan raut wajah cemas.


“Siapa yang dirawat di rumah sakit?” seru seseorang yang sudah berdiri di belakang Era.


Era sungguh terkejut saat mendengar suara seseorang yang sejak tadi ia khawatirkan keadaannya. Era pun menoleh ke belakang di mana saat ini Pasha sedang memandanginya dengan seksama. Lalu, siapa yang sakit dan dirawat di rumah sakit. Jangan sampai Era salah dengar dengan apa yang dikatakan oleh Pak Adam baru saja.


Namun Pasha tidak mengindahkan ucapan Pak Adam. Dia yang sejak tadi mendengar ucapan Era serta kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Era membuat Pasha sangat penasaran, siapa yang sedang dirawat di rumah sakit.


“Bukannya kata Pak Adam kamu yang dirawat di rumah sakit?” tanya Era sedikit salah tingkah.


“Maaf Nona Juleha. Saya tadi salah ucap, tapi Nona sudah keburu mengartikan lain. Yang dirawat di rumah sakit,-“


“Bukan aku. tapi Kak Queen yang sedang melahirkan. Lalu, apa kamu mengkhawatirkan aku tadi? dan kamu pikir aku yang masuk rumah sakit akibat kesalahan yang kamu perbuat tadi pagi?” tebak Pasha tepat sasaran.


“Ehm, nggak juga. ya sudah kalau begitu.” Pungkas Era dan segera pergi meninggalkan Pasha dengan perasaan malu.


“Oh iya, ini obat luka bakar yang paling ampuh untuk menyembuhkan lukamu.” Era berbalik badan lagi dan memberikan salep yang sudah ia beli pada Pasha.


Pasha menerima salep itu dengan perasaan berbunga-bunga. Ternyata Era sangat perhatian padanya dan berusaha menebus kesalahannya.

__ADS_1


“Hanya dengan salep ini belum cukup untuk menebus kesalahan kamu.” Seru Pasha menghentikan langkah Era yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


“Apa maksud kamu?” tanya Era bingung.


“Salep ini masih belum cukup untuk menebus kesalahan kamu. Bahkan aku masih bisa membeli yang paling mahal daripada ini.”


Era tampak mengepalkan tangannya. pria tanggung di hadapannya ini benar-benar sangat sombong.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?”


“Pak Adam! Tolong bawa mobil saya pulang. saya akan ke rumah sakit. Saya akan diantar oleh Era.” Ujar Pasha.


“Baik, Tuan!” Pak Adam langsung masuk ke dalam mobil Pasha dan menjalankan perintahnya.


Sedangkan Era yang masih berada di sana sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Pasha. setelah Pak Adam melajukan mobil Pasha, pria itu meminta kunci mobil Era.


“Mau ke mana kamu?” tanya Era bingung.


“Ke rumah sakit lah. Kamu nggak ingin jenguk Kak Queen yang baru saja melahirkan?”


“Lalu, kenapa kamu yang bawa mobilku? Katanya kamu yang minta diantar?”


“Sudah, ayo kita berangkat! Kamu jangan banyak bicara. Pusing kepalaku.”


Mau tidak mau Era mengikuti Pasha menuju mobilnya. Padahal dia sangat khawatir dengan keadaan Pasha setelah mendapat luka bakar tadi. pasalnya saat ini Pasha hanya mengenakan kaos oblong agar lukanya cepat sembuh.


“Biar aku saja yang nyetir. Kamu kan nggak terbiasa naik mobil murahan. Yang ada nanti malah kamu tabrakin mobilku.”


“Jangan khawatir! Aku sudah pernah mengemudikannya.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2