
Era pun menghampiri Tatia dan memeluk perempuan yang sudah lama menjadi sahabatnya itu. kemudian ia mengajak Tatia keluar menemaninya berpamitan pada rekan kerjanya yang satu divisi.
Tentu saja kabar resign Tatia membuat semua teman-temannya terkejut dan sangat kehilangan sosoknya. Tapi kembali lagi pada alasan Tatia. Mereka akhirnya pun mengerti dengan keadaan temannya itu. apalagi Tatia tadi semalam baru saja pulang dari rumah sakit. Dan hari ini harus segera pulang dan bed rest.
Setelah melepas kepergian Tatia, semua kembali melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Begitu juga dengan Era.
Bekal makan yang harusnya ia berikan pada Pasha, akhirnya ia makan sendiri. Daripada mubadzir, yang dibuatkan juga sampai saat ini tidak ada kabar.
Sore harinya, Era merasa sangat lelah sekali dengan pekerjaannya hari ini. padahal tidak ada pekerjaan yang cukup menguras pikirannya. Mungkin pikirannya sendiri lah yang membuat ia sedikit terbebani hingga berujung pada rasa lelah di tubuhnya.
Era sudah berkemas dan siap pulang ke rumahnya seperti kebanyakan karyawan lainnya. Hany saja seharian ini hati Era merasa hampa karena tidak bertemu dengan sang pujaan hati.
Kini Era baru menyadari arti dari keberadaan Pasha selama ini. baru kali ini tidak ada kabar dari pria itu sudah membuatnya cukup galau. Dan ternyata kehadiran Pasha membawa dampak besar di hidupnya.
Dengan perasaan malas, Era mengendarai mobilnya pulang. rasanya ia tidak ingin pulang. toh di rumah nanti juga akan menemukan kesendiriannya lagi. padahal sudah menjadi kebiasaannya. Tapi kenapa rasanya sangat berbeda dari sebelumnya.
Mau tidak mau akhirnya Era tetap pulang. Ia mencoba mensugesti dirinya untuk bisa bersikap seperti biasa agar tidak terlalu galau berlebihan. Dan sesampainya di rumah, Era melihat sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumahnya. Mobil yang sangat tidak asing dan pemiliknya juga tengah berdiri sambil bersandar di samping mobil itu. siapa lagi kalau bukan Pasha.
Pasha memberikan senyum manisnya saat Era masih di dalam mobil. Dan hal itu membawa reaksi lain di hati Era yang sejak tadi sangat resah.
Era mamasukkan mobilnya ke halaman rumahnya. Tak lama kemudian Pasha mengikutinya masuk. Pria itu terlihat sangat lelah, dengan kemeja kerja yang sudah digulung sebatas siku.
“Selamat sore My Princess!” sapa Pasha lalu menarik Era ke dalam pelukannya.
Era diam saja dipeluk Pasha secara tiba-tiba. Justru ia sangat menikmati pelukan hangat itu. pelukan yang sangat ia rindukan.
“Kenapa diam saja? kamu marah lagi?” tuduh Pasha.
“Nggak. Ngapain juga marah?” Era mengelak, lalu ia meraih kunci rumahnya dan membuka pintunya.
__ADS_1
Pasha mengikutinya sambil menahan senyum saat melihat wajah kekasihnya sedikit jengkel. Pasha sendiri paham, apa alasan Era bersikap seperti itu padanya.
Pasha langsung duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Era meletakkan tasnya lalu mengambil minum dari kulkas. Perempuan itu masih diam. mungkin menunggu Pasha memberi penjelasan atas ketidak hadirannya di kantor tadi. juga seharian kemarin tanpa kabar.
Grep
Era terkejut saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Tentu saja siapa lagi pelakunya kalau bukan Pasha.
“Maafkan aku. tadi aku tidak ke kantor karena ada meeting di luar. Dan ini juga baru pulang langsung ke sini.”
“Itu saja?” tanya Era yang masih belum puas dengan penjelasan Pasha.
“Iya. memang hanya itu. aku sudah jujur loh, Ra.” Jawab Pasha merasa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Era yang kesal langsung melepas pelukan Pasha. dia mengambil kotak makan dari dalam tasnya dan mencucinya. Pasha yang tahu pun langsung merasa bersalah.
“Ponsel kamu, kamu jual? Atau hilang? Atau nge’hang, atau sengaja kamu non aktifkan agar tidak terganggu dengan keberadaanku? Begitu?”
“Apaan sih kamu, Ra? Kamu jangan nuduh yang bukan-bukan. Aku serius hari ini ada meeting, jadi sengaja tidak datang ke kantor.”
“Lalu kemana saja kamu kemarin seharian? Ponsel kamu tidak aktif loh, King sejak hari sabtu setelah kamu mengantarku pulang. dan lagi, kemarin malam aku melihat kamu dari café dengan perempuan. Apa itu memang sengaja kamu lakukan?” tuduh Era dengan menahan amarahnya agar tidak meledak.
“Oh astaga!!! Maafkan aku, Ra! Aku benar-benar,-“
“Sudah, cukup! Dari tadi aku bosan dengar kamu bilang maaf. Sepertinya kata maaf sangat mudah sekali keluar dari mulut kamu. Tapi tidak ada maknanya apa-apa.” Sahut Era dan langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan Pasha yang masih di dapur.
Kini Pasha duduk di sofa ruang tamu, menunggu Era yang tak kunjung keluar. Dia sangat menyesal karena memang setelah mengantar Era pulang dari liburan hari sabtu kemarin sudah tidak memegang ponsel sama sekali. Karena di rumah ia kedatangan sepupunya yang sedang liburan semester. Otomatis waktu Pasha terganggu dengan sepupunya yang super duper usil itu. bahkan ia tidak sempat mengecek ponselnya yang dalam keadaan non aktif karena kehabisan daya. Untuk keperluan pekerjaan pun ia menggunakan telepon rumah dan ponsel khusus untuk urusan pekerjaan. kedengarannya tidak masuk akal. Namun kenyataannya memang seperti itu. sampai sekarang pun ia tidak membawa ponsel pribadinya.
Cukup lama Pasha berdiam diri di ruang tamu menunggu Era. Sampai perutnya lapar pun Era tak kunjung keluar. Mengetuk pintu kamar Era juga perempuan itu tidak memberi respon. Dan sepertinya Era benar-benar marah dengannya.
__ADS_1
Tapi Pasha tidak putus asa. Dia kembali mengetuk pintu kamar Era. Dan tak lama kemudian pintu itu terbuka.
“Ra!” wajah Pasha tampak melas menatap Era dengan raut wajahnya yang masih dingin.
“Dengerin penjelasanku dulu, Ra!”
Dengan malas, Era pun menuju sofa dan diikuti oleh Pasha. kemudian Pasha menjelaskan semuanya. Tentang hal membuat Era salah paham dengannya. bahkan Pasha berani bersumpah kalau apa yang dia katakan itu bukanlah kebohongan. Dia juga mau mengajak Era ke rumahnya untuk menunjukkan secara langsung siapa perempuan yang semalam bersamanya.
“Nggak perlu!” tolak Era dengan wajah masih masam, namun hatinya jga sudah lega.
“Ya sudah. Itu artinya kamu sudah percaya dengan penjelasanku. Sekarang senyum dong, Ra! Jangan cemberut gitu!” bujuk Pasha sambil membelai kepala Era.
Era merasa risih dan sedikit jual mahal tentunya. Ia menurunkan tangan Pasha yang bermain-main dengan rambutnya. Tiba-tiba saja,
Krukkkkk…..
Pasha menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah suara perutnya terdengar jelas di telinga Era. Sedangkan Era yang masih dalam mode setengah kesal, akhirnya lepas juga tertawanya saat mendengar suara keroncongan perut Pasha.
“Kamu ini Ceo tajir, beli makan saja tidak bisa.” Gerutu Era lalu langsung menuju dapur untuk membuat makan malam. Pasha pun mengikuti Era ke dapur, dengan hati yang sudah lega karena Era sudah tidak marah lagi dengannya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1