
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di bandara. Rayyan mengeluarkan koper kecilnya, yang entah apa itu isinya. Era sendiri masih dalam mode malas bicara setelah mendengar ucapan Rayyan tadi.
Rayyan menarik kopernya masuk menuju gate keberangkatan. Mengabaikan Era yang masih diam. dia juga tidak berniat untuk meminta maaf. Menurut Rayyan ucapannya tadi tidak ada yang salah. Lagi pula mau sampai kapan sahabatnya itu akan menutup hatinya. Ada seseorang yang dengan sukarela menerimanya malah diabaikan.
“Ray!” seru Era saat Rayyan sudah berjalan beberapa meter darinya.
Rayyan yang mendengar suara Era hanya menoleh sebentar tanpa menyahut sama sekali. Era menghampiri pria itu dan tiba-tiba langsung memeluk Ray dengan erat.
“Joel! Jangan seperti ini!” Rayyan dengan pelan melepas pelukan Era.
Era tampak kecewa. Namun yang lebih sakit adalah Rayyan. Buat apa Era memeluknya kalau hanya memberi harapan palsu. Persetan dengan kata sahabat. Di mana pun tidak ada persahabatan yang terjalin antara laki-laki dan perempuan. Pasti ada benih-benih cinta yang aan tumbuh. Seperti yang dialami Ray pada Era.
“Kamu marah sama aku, Ray?” tanya Era dengan nada sendu.
“Aku berangkat dulu. hati-hati bawa mobilnya.” Pamit Rayyan tanpa menjawab pertanyaan Era.
Era menarik tangan Rayyan yang sudah berbalik badan.
“Sepulang kamu dari Indonesia, aku akan menceritakan masa laluku padamu, Ray. Hati-hati!” ucap Era, lalu ia segera pergi.
Rayyan sendiri tampak bingung dengan kalimat Era baru saja. Tapi itu lebih baik, karena memang selama ini Era seperti sedang memendam masalahnya sendiri. Rayyan beharap setelah Era menceritakan masa lalunya, perempuan itu mau membuka hatinya. Entah itu dengan dirinya atau orang lain.
***
Kini Era sudah berada di kantor setelah mengantar Rayyan ke bandara. Semua teman-temannya sudah tahu kalau antara Era dan Rayyan adalah sahabat baik. Termasuk Mr. Chan, Papa Rayyan.
“Apa Ray tadi minta antar kamu, Joel?” tanya Mr. Chan saat pria itu berpapasan dengan Era.
Mr. Chan sudah kenal akrab dengan Era. Karena dari Rayyan juga. bahkan pria itu, juga dengan istrinya sangat berharap jika Era dan Rayyan berjodoh. Tapi mereka juga tidak ingin memaksakan kehendak anaknya. terlebih Mr. Chan tahu kalau Era sepertinya sangat sulit digapai hatinya.
“Iya, Mister. Mobilnya sekarang aku bawa.” Jawab Era.
Era sendiri juga bersikap biasa pada orang tua Rayyan. Apalagi mereka tinggal di luar negeri, jadi tidak terlalu formal cara bicaranya. Dan hal itu cukup membuat Era nyaman dengan keluarga Rayyan.
“Bulan depan kami akan pulang ke Indonesia karena ada acara pernikahan Khanza. Apa kamu berkenan ikut kami pulang, Joel?”
__ADS_1
Era masih diam. jujur saja dia belum siap ika harus pulang ke Indonesia. Bukan takut bertemu dengan orang masa lalunya. Karena memang tempat tinggal keluarga Rayyan sangat jauh dengan tempat tinggal Pasha. hanya saja Era belum siap menginjakkan kakinya di negara kelahirannya, dengan masih menyimpan rasa sakit hati akibat masa lalunya itu.
“Ehm, lihat nanti Mister. Kalau pekerjaanku banyak, sepertinya belum bisa.” Jawab Era cukup masuk akal.
Mr. Chan pun hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian mempersilakan Era memulai pekerjaaannya.
***
Setelah menempuh perjalanan udara selama belasan jam, akhirnya Rayyan tiba juga di bandara. Ia segera menuju rumah utama di mana yang menempatinya sekarang adalah adiknya bersama pembantunya.
Kedua orang tua Rayyan memiliki anak cabang perusahaan di Indonesia. Dan saat ini dipegang oleh Khanza, adik dari Rayyan. Kepulangan Rayyan selain untuk mengecek perusahaan cabang yang dipegang adiknya, pria itu juga ada pekerjaan lain. Pekerjaan di luar urusan kantor. sekaligus pekerjaan rahasia yang tidak seorang pun mengetahuinya selain keluarganya.
Kemungkinan Rayyan berada di Indonesia selama seminggu. Jadi selama itu pula ia mencoba untuk melatih hatinya agar terbiasa tanpa Era. Karena kemungkinannya sangat kecil untuk Era bisa menerima cintanya. Untuk itu mulai dari sekarang, ia berusaha untuk menyelamatkan hatinya dulu.
*
Setelah dua hari membantu adiknya mengatasi sedikit masalah di kantor, kini saatnya Rayyan bertemu dengan salah satu temannya yang berasal dari Indonesia dan selalu meminta bantuannya.
Rayyan kini sudah berada di sebuah apartemen milik teman lamanya untuk membahas pekerjaan yang akan ia lakukan.
“Klienku ini sedang mencari seseorang. Dia sudah menyewa beberapa ahli namun tetap tidak bisa menemukannya. Nah, maka dari itu aku meminta bantuan kamu. Data orang yang dicari juga belum diberikan sebelum klienku itu bertemu langsung denganku dan kamu tentunya.”
“Ya sudah, kapan kita bisa bertemu dengannya?”
Arga masih mencoba menghubungi kliennya itu. rupanya masih sibuk, karena panggilannya tak juga mendapat jawaban.
“Nanti aku kabari lagi deh, Ray. Sepertinya dia masih sibuk.”
“Baiklah, asal tidak lebih dari tiga hari. Karena aku harus pulang.”
Belum sempat Arga menjawab, ternyata kliennya itu menghubungi Arga dan Arga mengatakan untuk ketemuan nanti malam. itu pun saran dari Rayyan.
“Ya sudah, nanti malam aku jemput kamu, Ray. Dan aku sangat yakin kamu bisa mencari orang tersebut yang katanya sudah hilang dua tahun yang lalu.”
“Gila! Hilang dua tahun dan baru sekarang dicari. Kemana aja tuh orang. Emang yang hilang itu siapanya? Kakeknya? Neneknya? Aneh-aneh saja.”
__ADS_1
“Husss… katanya sih pacarnya. Tapi belum jelas juga sih. Nanti malam saja deh kamu ketemu langsung sama orangnya, agar lebih jelas informasinya.”
***
Malam pun tiba. Rayyan dan Arga sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan klien mereka. Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang.
Tampak seorang pria tampan yang usianya masih di bawah Rayyan sedang berjalan ke arah meja Rayyan dan Arga. Pria itu terlihat sangat dingin dengan wajah datar sulit tersenyum.
Arga memperkenalkan Rayyan pada kliennya. Dan lagi-lagi sikap pria itu masih datar. Hingga membuat Rayyan sangat kesal.
“Mau minta bantuan tapi lagaknya kayak orang nggak butuh.” Batin Rayyan sambil menatap pria itu.
“Saya nggak suka basa-basi. Saya membayar anda mahal, jadi saya harap anda bisa berhasil menemukan orang yang sedang saya cari.” Ucap pria itu dengan tatapan tajam ke arah Rayyan.
Rayyan sama sekali tidak takut dengan tatapan pria itu. sudah biasa ia menghadapi pria modelan seperti itu.
“Mana data personal orang yang kamu cari?” pinta Rayyan dengan gaya Bahasa tidak formal.
Pria itu memberikan sebuah amplop berisi data pribadi orang yang ia cari keberadaannya. Lengkap dengan beberapa fotonya.
Rayyan membuka amplop itu. membaca datanya juga mencocokkan dengan fotonya. Rayyan memandangi foto itu dalam diam. raut wajahnya terlihat biasa saja, namun menyimpan segudang pertanyaan.
“Siapa orang yang kamu cari ini?” tanya Rayyan.
“Bukan urusan anda. Tugas anda hanya menemukannya, tanpa harus ikut campur,-“
“Kalau begitu aku menolak pekerjaan ini.” sahut Rayyan dan langsung berdiri meninggalkan pria itu bersama Arga.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!