
Pukul sebelas siang Era baru saja bangun dari tidur panjangnya. Wanita itu terbangun juga karena teriakan cacing dalam perutnya yang sudah protes meminta makanan.
Era mengucek matanya. tubuhnya masih polos dan selimut yang menutupinya pun sudah turun sampai pinggangnya. Alhasil dua buah asetnya yang kini menyerupai macan tutul terpampang nyata. Dia pun segera menarik selimut untuk menutupinya kembali.
Era melihat ke sekeliling kamar yang sangat sepi. Matanya membulat sempurna saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
“Astaga!! Bagaimana ini? aku sangat malu keluar kamar. pasti semua orang akan menertawakanku.” Gumam Era resah sendiri.
Era segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. rasanya masih sangat nyeri di bagian intinya. Cara jalannya pun sudah agak lain. Semua itu karena ulah suami bocilnya yang sudah menggempurnya habis-habisan.
Era mengisi bathtub dengan air hangat. Biarkan dia keluar kamar nanti saja. toh pasti sudah jadi omongan sama keluarga suaminya tentang hal ini. yang penting saat ini dirinya ingin beerendam dengan air hangat untuk menghilangkan rasa capek setelah malam panjang bersama sang suami.
Cukup lama Era berendam di sana. Setelah dirasa cukup dan tubuhnya sudah rileks, ia pun segera keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono.
“Selamat siang, Sayang!” sapa Pasha yang baru saja masuk dengan nampan berisi makanan lengkap beserta minumannya.
Era hanya tersenyum menatap suaminya. kalau dia tidak ingat sedang kelaparan, sudah dipastikan kalau saat ini juga Pasha dapat amukan darinya. Keasyikan berendam tadi memang membuat Era lupa dengan rasa laparnya.
“Pasti kamu lapar kan? Ayo sini makan dulu!” tutur Pasha dengan manisnya.
Era hanya mengangguk samar, kemudian ia duduk mengambil piring itu. sedangkan Pasha yang mengambil alih untuk mengeringkan rambut Era yang masih dalam balutan handuk.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku sangat malu untuk keluar kamar kalau jam segini baru bangun.” Keluh Era sambil menikmati makanannya.
“Kenapa malu? Mereka semua juga memaklumilah kalau kita memang sepasang pengantin baru. Lagi pula di rumah hanya ada Mama. yang lain sudah sibuk di kantor.” tutur Pasha membuat hati Era sedikit lebih tenang.
Setelah mengeringkan rambut Era, Pasha juga mengambilkan baju ganti untuk istrinya. Sungguh Era seperti ratu yang diperlakukan istimewa oleh rajanya.
**
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat. Sudah satu bulan Era menjadi istri Pasha. dan selama satu bulan itu juga pasangan mengantin baru itu mempersiapkan pesta pernikahannya. Meskipun Pasha sudah mempercayakan semuanya pada Wedding Organizer, tetap saja dia dan sang istri masih disibukkan dengan beberapa hal. Seperti fitting baju pengantin, dan mengecek kelengkapan persiapan acara pernikahan itu.
Pesta pernikahan Pasha digelar sangat mewah di salah satu hotel berbintang yang ada di kota. Mengingat posisi Pasha di perusahaan adalah sebagai CEO sekaligus penerus bisnis sang Papa, tamu undangan yang hadir nanti pun dari kalangan pengusaha.
Dan hari itu pun tiba. Pesta pernikahan Era dan Pasha digelar begitu mewah. Semua tamu undangan sudah hadir untuk memenuhi ballroom hotel. Keluarga besar Pasha juga sudah hadir di sana. Begitu juga dari keluarga dari pihak Era yang hanya Paman dan Bibinya saja.
Sebenarnya Era tidak ingin memberitahu mereka atas pernikahannya. Mengingat masih ada rasa sakit di hatinya akibat ulah sang Bibi dulu. namun, karena bujukan Pasha, akhirnya Era mau memberitahu Paman dan Bibinya.
Tak lupa dari keluarga Rayyan juga telah hadir di sana. Jadi, semuanya berkumpul jadi satu menyambut hari bahagia pasangan penganti Era dan Pasha.
Era dan Pasha tampak bahagia duduk di pelaminan. Mereka berdua menjadi sorotan para tamu undangan yang sangat takjub dengan kecantikan Era dan ketampanan Pasha. benar-benar seperti Raja dan Ratu.
Tak jauh dari posisi pengantin yang sedang bahagia itu, ada sosok pria yang masih menyimpan rasa sakit hati yang mendalam. Namun dia juga tidak menaruh dendam lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan.
Era pernah mengatakan pada Rayyan kalau rasa cinta itu akan hilang seiring berjalannya waktu kalau memang tidak ditakdirkan bersama. Namun kenyataannya, sampai sekarang Rayyan masih belum bisa menghilangkan nama Era dari hatinya yang terdalam. Apakah memang masih butuh waktu lebih lama lagi.
Rayyan pun akhirnya menuju ke sebuah minibar yang ada di hotel itu. kebetulan dia juga menginap di hotel ini. jadi, nanti kalau sudah kelelahan dia bisa langsung masuk ke kamarnya.
Rayyan memesan minuman. Dia menikmatinya sendiri sambil merenungi nasib percintaannya. Bayang-bayang kebersamaannya bersama Era selama kurang lebih dua tahun terus muncul dalam benaknya. Ia sama sekali tidak bisa melupakannya. Semakin dilupakan, semakin teringat.
“Joel, aku mencintaimu.” Gumamnya dengan terus meneguk minuman beralkohol itu.
“Ah, kenapa Tuan Pasha harus menikah sih? Padahal kalau dia mau denganku, aku bisa menunjukkan pada Willy kalau juga bisa memikat pria kaya dan tampan.” Ucap seorang wanita yang duduk di sebelah Rayyan, namun dalam posisi saling membelakangi.
Rayyan tidak peduli dengan gumamn wanita yang sedang duduk di belakangnya. Saat ini posisinya sama-sama duduk di depan meja bartender, namun posisi mereka membelakangi. Ditambah lagi suasana minibar itu yang cukup remang-remang. Jadi mereka tidak begitu peduliatau melihat siapa saja yang datang ke minibar ini.
Kedua orang itu juga terus meneguk minuman berulang kali. Sampai akhirnya mereka sama-sama kehabisan minumannya.
“Tambah lagi!”
__ADS_1
“Tambah lagi!”
Ujarnya bersamaan. Setelah itu mereka melirik dengan sengit.
“Aku dulu!” ucap Rayyan tanpa peduli kalau orang di sampingnya adalah perempuan.
“Heh, aku duluan!” seru si wanita itu dengan suara membentak namun sudah dalam keadaan mabok.
Sedangkan si bartender itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia menuangkan minuman secara bergantian pada Rayyan dan wanita itu.
“Bersulang dulu!” ucap Rayyan pada wanita itu sambil mengangkat gelasnya.
Wanita itu, yang sebelumnya marah-marah pada Rayyan akhirnya juga ikut mengangkat gelasnya.
Ting
Suara dentingan gelas mereka seketika membuat keduanya tergelak. Lalu mereka pun segera meminum minumannya bersama.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
Rayyan enaknya dibahas sekalian di sini apa nggak ya? Kalau dibuat novel baru othor nggak bisa janji kapan. Mungkin masih lama. Apalagi dengan regulasi NT yang baru dan cukup membuat resah para othor. Gimana nih, guys?
__ADS_1