
Rayyan meembiarkan Serena terus menggedor pintu kamarnya dari dalam. Mungkin saat ini cara itulah yang terbaik untuk Serena agar tidak kabur dari Rayyan. Entahlah, ucapan Serena tadi secara tidak langsung mengusik hati Rayyan. Serena sangat yakin kalau dia akan kedatangan tamu bulanannya, dan minggu depan dipastikan akan pergi meninggalkan Rayyan. Namun Rayyan tidak ingin hal itu terjadi. Rasanya dia tidak rela jika Serena pergi dalam waktu yang cepat. Namun, untuk melakukannya lagi, hingga membuat Serena hamil, rasanya juga bukan ide yang bagus.
Sementara itu Serena yang sedang di dalam kamarnya, dalam keadaan dikunci dari luar, akhirnya merasa lelah dan memutuskan untuk merendam tubuhnya dengan air hangat.
Serena menyadari kalau mendekati waktu datang bulannya seperti ini, emosinya pasti akan meluap-luap.
*
Rupanya Rayyan tidak bisa membiarkan Serena dalam keadaan terkunci dari luar dalam waktu lama. Hanya satu jam saja dia sudah khawatir dengan keadaan wanita itu. apalagi Serena tadi baru saja pulang dari kantor. pasti dia juga belum makan. Namun, jika membuka pintu kamar Serena, apakah Serena akan tetap kabur darinya. Akhirnya Rayyan berpikir keras bagaimana caranya agar Serena tidak berniat kabur lagi darinya.
Beberapa saat kemudian Rayyan membuka pintu kamar Serena. Di dalam kamar itu tampak temaram. Mungkinkah Serena sudah tidur. Tapi wanita itu belum makan.
Rayyan menyalakan lampu kamar. ternyata Serena sedang tertidur di tas ranjang dengan masih mengenakan handuk kimono. Tak lupa dengan rambutnya yang masih digulung dengan handuk.
Rayyan menelan salivanya susah payah saat melihat pose tidur Serena dengan handuk kimono yang sedikit tersingkap ke atas. Alhasil menampakkan paha mulus wanita itu.
Kepingan ingata saat menghabiskan aktivitas panas bersama Serena kini memenuhi otak Rayyan. Namun sekuat tenaga Rayyan menepis gejolak aneh dalam dirinya itu. setelah itu Rayyan menepuk pelan pipi Serena. Mencoba membangunkannya, dan mengajaknya makan.
Sekali tepukan hingga tiga kali tepukan, akhirnya Serena mengerjapkan matanya. wanita itu tampak terkejut saat melihat Rayyan sudah berdiri tak jauh darinya.
“Maafkan aku!” ucap Rayyan.
Ya, minta maaf terlebih dulu memang salah satu cara agar Serena tidak lagi marah dengannya. sedangkan Serena masih diam, dan memperbaiki posisi duduknya agar nyaman.
“Maafkan atas ucapanku tadi. dan, aku mohon kamu jangan berniat pergi dari sini.”
“Kenapa? Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku nggak kenal kamu. Kamu orang asing yang tiba-tiba datang dan mengahncurkan hidupku. Tak hanya sampai di situ saja. kamu juga memaksaku menjalani pernikahan konyol ini. ijinkan aku pergi!” ucap Serena menggebu-gebu dengan amarah yang siap untuk diluapkan.
Rayyan langsung terduduk di bawah Serena. Jelas saja hal itu membuat Serena semakin terkejut. Apalagi drama yang akan dilakukan oleh Rayyan.
“Baiklah. Kamu bisa melakukan apa saja semaumu. Aku tidak akan melarang ataupun memaksamu untuk melakukan apa yang aku inginkan. Tapi satu hal, jangan berniat pergi dari sini.” ucap Rayyan dengan suara yang sangat rendah. Siapapun pasti tidak akan menyangka kalau Rayyan akan merendahkan dirinya memohon pada seorang wanita yang baru datang di kehidupannya.
“Sampai kapan?” tanya Serena dengan tatapan yang tertuju langsung pada mata Rayyan.
“Sampai seminggu ke depan. Seperti apa yang kamu katakan tadi. jika memang kamu tidak hamil, aku akan membebaskan kamu.”
“Bangunlah! Aku tidak suka melihat pria merendahkan dirinya seperti ini.” ujar Serena membantu Rayyan bangun.
Kedua pasang tangan itu secara tidak langsung saling berpegangan. Ada getaran aneh yang mereka rasakan. Namun mereka juga sama-sama menepis perasaan aneh itu.
*
Kini Serena dan Rayyan sudah duduk berhadapan di meja makan. Di hadapan mereka sudah ada seporsi nasi goreng seafood buatan Rayyan. Berhubung perut Serena sudah kelaparan sejak tadi, dia tidak sungkan-sungkan lagi untuk segera melahap nasi goreng itu.
__ADS_1
Rayyan hanya tersenyum tipis melihat Serena yang menikmati nasi goreng buatannya dengan lahap. Itu artinya dia suka dengan masakannya. Walau hanya bisa membuat nasi goreng.
Selesai makan, Serena langsung masuk ke dalam kamarnya. Karena tidak ada hal penting lagi yang dibicarakan dengan Rayyan.
Keesokan harinya, Serena bangun tepat waktu. Tidak terlambat seperti kemarin.
Serena langsung menuju dapur untuk membuat makanan sebagai menu sarapannya. Dia akan memasak lebih, bukan hanya untuk dirinya saja. melainkan untuk Rayyan juga. karena semalam pria itu sudah membuatkan nasi goreng.
“Rasa nasi gorengnya juga tidak terlalu buruk.” Gumam Serena sambil mengingat nasi rasa nasi goreng buatan Rayyan.
Beberapa menit kemudian Serena sudah menyelesaikan masaknya. Namun sejak tadi ia belum melihat tanda-tanda Rayyan keluar dari kamarnya. Tidak mungkin pria itu masih tidur. Lalu Serena melihat sebuah catatan kecil yang menempel di pintu kulkas. Entah sejak kapan catatan itu menempel di sana. Karena saat mengambil bahan makanan tadi, Serena tidak melihatnya.
“Kamu bebas melakukan apa saja di apartemen ini. aku sedang ada perjalanan bisnis keluar kota. Kamu bisa minta antar jemput sopir kalau pergi ke kantor. kamu hubungi saja no ponsel di bawah ini. semoga harimu menyenangkan, Seren!”
Serena terduduk lemas di kursi makan. Ada apa dengan hatinya. Kenapa terasa ada yag hilang setelah membaca pesan Rayyan.
“Tidak! Ini tidak mungkin. Aku harusnya senang karena tidak melihat dia di sekitarku.” Gumam Serena.
**
Setelah menghabiskan sarapannya seorang diri, Serena pun langsung bersiap untuk pergi ke kantor. karena belum mengerti dengan jalanan menuju kantornya, juga tidak tahu kendaraan apa yang akan ia gunakan. Akhirnya Serena menghubungi nomor ponsel sopir pribadi yang diberikan oleh Rayyan tadi.
Sesampainya di kantor, Serena langsung menuju ruangannya. Tanpa sengaja ia satu lift bersama Maxim. Pria tampan yang sangat baik dan sudah mengantarnya pulang kemarin.
“Hai juga.” balas Serena.
Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara mereka berdua. Hingga sampai lift terbuka, mereka pun langsung menuju ruangan masing-masing.
Cklek
“Pagi, Pa!” sapa Serena terkejut saat melihat Papa Chan sudah duduk di kursi kerja Rayyan.
“Pagi juga. selama Ray perjalanan ke luar kota, Papa akan sering bekerja di sini. karena Papa akan menggantikan tugas Ray sementara apa kamu keberatan?” tanya Papa Chan.
“Oh, tidak Pa.”
“Baiklah. Mungkin Ray seminggu di luar kota. Lebih tepatnya sebelum musim dingin tiba, minggu depan. Maklum saja, kalau musim dingin, pekerjaan kantor akan sering dilakukan di rumah.” ujar Papa Chan seolah sedang memberitahu Serena.
Serena hanya menganggukan kepalanya. Setelah itu ia langsung duduk di kursinya dan memulai pekerjaannya.
*
Awalnya Serena mencoba untuk biasa saja saat Rayyan ada perjalanan bisnis di luar kota. Mengingat pria itu hanyalah orang asing di hidupnya. Namun, siapa sangka? Sehari Rayyan berada di luar kota, sudah membuat Serena merasa hampa. Bahkan selama beberapa hari selanjutnya, Serena lebih sering uring-uringan terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Pagi ini pun Serena sangat malas bangun dari tidurnya. Beruntungnya sedang weekend. Jadi malas-malasan sepertinya bukan ide yang buruk.
“Lusa dia akan pulang.” gumam Serena sambil menghitung hari.
Tubuh Serena tiba-tiba terasa lemas. Bahkan sedikit meriang. Akhirnya mau tidak mau dia harus bangun dan membuat makanan, setelah itu minum vitamin.
Serena baru ingat kalau beberapa hari lagi akan tiba musim dingin. Mungkin tubuhnya yang tiba-tiba tidak fit inilah dampak dari perubahan musim yang akan tiba. Jadi tubuhnya belum bisa beradaptasi dengan baik.
Waktu weekend yang harusnya dinikmati Serena dengan bepergian kemana-mana akhirnya hanya sebuah angan belaka. Pasalnya selama dua hari, dia hanya berada di dalam kamar terus. Badannya tidak bisa diajak kompromi. Bahkan waktunya kembali ke kantor pun, Serena benar-benar malas.
“Aku harus kuat. Aku harus sehat.” Gumam Serena menyemangati diri.
Seperti biasa, Serena pergi ke kantor diantar jemput oleh sopir pribadi. Dia juga tidak mau susah-susah mencari angkutan umum ataupun taksi.
Setibanya di kantor, Serena merasa kepalanya tiba-tiba berdenyut. Dia pun mempercepat langkahnya masuk ke dalam lift agar cepat sampai di ruangannya. Kalau tidak, bisa-bisa pingsan.
Keringat dingin sudah mulai membasahi tubuhnya saat Serena baru saja keluar dari lift. Nafasnya sudah berat, namun ia memaksakan diri untuk segera masuk ke ruang kerjanya.
Cklek
Mata Serena yang sudah mulai sayu kini harus melihat pemandangan di mana ada seorang wanita sedang duduk di atas meja Rayyan. Bahkan Rayyan juga ada di sana, duduk tersenyum menatap wanita itu.
“Seren!” Seru Rayyan setelah menyadari pintu ruangannya terbuka.
Tatapan Serena pun sudah gelap, dan…
Brukkk
“Seren!!”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
Hayolohhh... Siapakah wanita itu?
Apakah Serena hamidun ya? Kok sampe pingsan gitu...
__ADS_1