Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
36. Tante Cantik


__ADS_3

“Nona Juleha? Apa anda mendengar saya?” tanya Tuan Nabil sampai melambaikan tangannya di depan wajah Era.


“Ah, Maaf Tuan!”


Era gelagapan sekaligus malu saat Tuan Nabil mengajaknya bicara justru ia malah melamun karena memikirkan ucapan Tuan Nabil baru saja. tapi untuk tanya langsung, kemana Pasha pergi, rasanya tidak mungkin.


“Bagaimana, Nona? Posis apa yang anda inginkan di kantor ini?” Tuan Nabil mengulangi pertanyaannya.


“Ehm, begini Tuan Nabil. saya membantu perusahaan ini bukan ingin mengharapkan imbalan. Saya membantu dengan ikhlas. Jadi, anda tidak perlu repot-repot untuk menawarkan saya tentang jabatan apa yang saya inginkan. Saya tetap di posisi saya sebelumnya saja.” jawab Era.


“Apa anda yakin? Padahal ini amanat dari King langsung, Nona.” Tanya Tuan Nabil untuk memastikan lagi.


Tentu saja Era sangat yakin. Dia bukan tipe orang yang gila jabatan. Menjadi kepala HRD saja sudah sangat beruntung. Walau masih ada jabatan lagi yang masih tinggi di atasnya. Namun Era sudah sangat nyaman dengan posisinya sekarang. terlebih teman-teman timnya yang kompak.


“Yakin, Tuan. Maafkan saya jika saya menolak tawaran anda.”


Tuan Nabil tampak menghembuskan nafasnya pelan. Pria itu juga tidak mau memaksa Era. Karena jujur saja Tuan Nabil juga sudah percaya Era menjadi kepala HRD.


“Ya sudah kalau Nona tidak mau. Nanti saya akan menyampaikan langsug pada King. Oh iya, untuk sementara waktu, jika anda membutuhkan apapun dengan Ceo, anda bisa datang langsung menemui saya. karena King sedang berada di luar negeri.”


Era hanya menganggukkan kepalanya. Kini dia sudah tidak penasaran lagi kemana Pasha pergi. Dan mungkin pria itu sangat sibuk hingga tidak sempat menghubunginya.


Setelah itu Era berpamitan keluar. Dia akan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.


***


Beberapa hari bekerja, Era merasa badannya sangat lelah. Bahkan dia malas untuk mengawali hari-harinya.


Era sendiri heran. Ada apa sebenarnya dengan dirinya. Terlebih semenjak Pasha pergi ke luar negeri dia merasakan keanehan dalam hatinya.


Ya, selama beberapa hari setelah ia tahu bahwa Pasha pergi ke luar negeri, hati Era mendadak galau. Pasha juga sampai saat ini belum menghubunginya. Di sini lah Era ingin menguji Pasha dimana pria itu sudah bertekat untuk mendapatkan hatinya.


Namun sayangnya Era yang menguji, justru dia yang galau sendiri. Sungguh aneh bukan. Tanpa Era sadari, ternyata secara perlahan hatinya mulai tertaut pada Ceo brondong itu. padahal selama ini hubungannya dengan Pasha selalu diwarnai dengan perdebatan. Dan di saat berjauhan seperti ini, rasa rindu itu datang secara tiba-tiba.

__ADS_1


Drt drt drt


Era yang tengah melamun setelah jam makan siang, terkejut saat mendengar suara vibrasi ponselnya di atas meja kerjanya. Dia segera mengambil ponsel itu untuk melihat siapakah gerangan yang siang-siang begini menelponnya.


“Bocah ngeselin”


Era membelalakkan matanya saat membaca nama id pemanggil itu. tentu saja itu adalah Pasha. panjang umur sekali bocah itu. baru saja dibatin, kini muncul juga. Era pun segera menerima panggilan itu. tapi tunggu dulu! kenapa jantungnya berdegup tak karuan seperti ini?


“Tenang… tenang!” gumam Era sambil mengusap dadanya, kemudian menggeser ikon hijau pada ponselnya.


“Ehm, ya?” ucap Era sambil menormalkan detak jantungnya.


“Selamat siang, Tante cantik!!!”


Mendengar suara pria yang beberapa hari tidak ia jumpai, membuat kedua sudut bibir Era tertarik ke atas. Bahkan panggilan Pasha yang dulu sempat ia benci, kini seolah sudah melekat di hatinya sebagai panggilan sayang yang khusus diberikan untuknya.


“Era! Kenapa diam saja?” Pasha mendadak bingung sendiri saat Era tak menyahut panggilannya.


“Ehm, ada apa?” sahut Era sedikit gelagapan, namun lagsung mengubah suaranya menjadi datar agar tidak diketahui oleh Pasha.


Sumpah demi apapun, Era rasanya ingin guling-guling sekarang juga setelah mendengar kalimat Pasha baru saja. bocah itu benar-benar bisa membuat hatinya tak karuan.


“Ada apa sih? Langsung bilang saja, nggak perlu banyak drama basa-basi.”


“Jangan jutek gitu dong! Aku benar-benar rindu kamu loh. Maaf ya, beberapa hari ini aku tidak menghubungi kamu dan tidak sempat pamit ke kamu tentang kepergianku ke luar negeri.”


Era mendengarkan semua penjelasan Pasha. di mana saat ini dia sedang ditugaskan Papanya untuk menangani masalah pada perusahaannya yang ada di luar negeri. Pasha juga berjanji akan pulang secepatnya. Bahkan tidak ragu-ragu lagi Pasha mengungkapkan rasa rindunya pada Era.


“Jangan dikira kalau kita sedang jauhan seperti ini, aku tidak bisa menakhlukkan hati kamu ya, Ra! Waktuku masih banyak, kan? Dan aku tetap melanjutkan misi itu.” ucap Pasha sangat yakin.


“Ya, terserah kamu lah. Yang penting aku memberimu waktu selama satu bulan. Dan ingat perjanjian kita. Kalau tidak berhasil, salah satu diantara kita harus angkat kaki dari kota ini.”


“Aku berani jamin kalau diantara kita tidak ada yang pergi dari kota ini. aku akan buat kamu selamanya menetap di kota ini, dan menetap di hatiku.”

__ADS_1


Pasha mengatakannya dengan sangat yakin. Tapi kenapa tidak dengan Era. Walaupun dia mulai menyadari kalau semenjak kehadiran Pasha, hidupnya pun berwarna. Era sempat teringat dengan ucapab Yeslin tempo hari kalau status sosial dirinya dan Pasha sangatlah jauh berbeda. Apa iya di jaman yang modern seperti sekarang ini, status sosial masih menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan jodoh. Entahlah.


Era hanya bisa menyerahkan semuanya pada sang pemilik kehidupan. Yang terpenting sekarang ini ia berusaha yang terbaik saja. dan menghargai setiap kerja keras yang dilakukan oleh Pasha. padahal kalau Era bisa menyadari dan meyakinkan hatinya, tidak sampai satu bulan pun dia sudah bisa memberikan jawaban pada pria itu.


Setelah berbincang banyak hal dengan Pasha, Era kembali melanjutkan pekerjaannya. Justru sekarang ia merasa seperti mendapatkan semangatnya lagi setelah beberapa hari tampak loyo. Tentu saja semangat itu dari Pasha.


Seperti biasa, setelah jam pulang kantor usai, Era langsung pulang. selain memang tidak acara apapun, dia ingin istirahat saja di rumahnya.


“Jul, mau pulang sekarang?” tanya Gala pada Era saat mereka sedang berada di basement.


“Iya. kenapa memangnya?”


“Kebetulan hari ini aku ulang tahun, dan aku mengundang teman-teman dari divisi kita untuk makan-makan. Apa kamu bisa?”


Era tampak berpikir. Padahal menolak rejeki itu tidaklah baik. Dan baru kali ini juga Gala mengadakan acara makan-makan. Mengingat pria itu termasuk dalam kategori prai pelit dan perhitungan. Tapi entah kenapa Era bawaannya ingin pulang saja.


“Begini saja, aku pulang dulu ya? Karena aku masih ada urusan penting. Nanti kalau sudah selesai, aku nyusul deh.”


Akhirnya Gala mengiyakan. Setelah itu Era pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Era yang belum sempat masuk ke halaman rumahnya tampak menghentikan sejenak mobilnya saat melihat seseorang yang pstur tubuhnya sangat ia kenali.


“Bukankah itu Hagi?” gumam Era sambil terus memperhatikan Hagi.


Era melihat dengan jelas kalau Hagi tampak membawa sesuatu yang baru saja dia ambil dari kursi teras rumahnya. Setelah itu Hagi membuangnya ke tong sampah. Era pun buru-buru keluar dari mobilnya menghampiri Hagi.


“Sepertinya ada yang tidak beres nih.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2