
Hari-hari berikutnya Era fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak lagi memikirkan Pasha yang sudah hilang kabar. Mungkin nanti jika prisa itu sudah kembali, baru Era akan memulai fokus dengan hubungannya dengan Pasha.
Era juga tidak peduli dengan Yeslin lagi. perempuan itu masih saja memanas-manasinya dengan kabar pertunangannya dengan Pasha yang tinggal beberapa hari lagi. Era selalu menanggapinya dengan senyuman. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Era sampai mengatakan ada Yeslin kalau acara pertunangannya dengan Pasha nanti, Era akan memberikan hadiah khusus. Bukannya Yeslin senang, namun perempuan itu terlihat semakin kesal.
Padahal kenyataannya kabar itu adalah tidak benar. Karena sampai saat ini Yeslin juga tidak bisa berkomunikasi dengan Pasha. pernah ia menghubungi perusahaan cabang yang ada di luar negeri untuk menanyakan Pasha, namun ia tidak mendapat jawaban apapun.
***
Hari ini Era sedang sibuk di depan layar komputer. Saat tengah fokus meneliti beberapa dokumen penting, tiba-tiba saja ada pesan masuk ke ponselnya.
Era terdiam membaca pesan itu. bahkan tanpa sadar, ia sampai menitikan air matanya. entah siapa orang yang mengirim pesan itu, namun Era terlihat tidak berminat untuk membalas pesannya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun air matanya masih sesekali menetes.
Kalau menurut perkiraan dari kabar pertunangan yang Pasha dan Yeslin, dua hari lagi Pasha akan pulang. dan itu artinya Era akan mendengar langsung penjelasan Pasha, termasuk keseriusan hubungannya.
Era tampak memijit keningnya yang berdenyut. Mungkin karena beberapa hari ini sangat sibuk, ia sampai kurang beristirahat dengan baik. Dia teringat kalau mempunyai riwayat penyakit lambung, dan tidak ingin kambuh lagi, akhirnya Era menghentikan sejenak pekerjaannya. Dia melirik jam tangannya sudah hampir jam makan siang tiba. Era pun memutuskan untuk keluar dari ruangannya lebih dulu dan mengisi perutnya.
Usai mengisi perutnya, Era masih menikmati sisa waktu istirahatnya dengan ngobrol bersama teman-temannya yang kebetulan juga sedang makan siang di kantin. Karena tim dari divisi Era semuanya sangat kompak. Bahkan makan siang pun mereka selalu bersama.
“Eh, sudah lama nggak kelihatan Tuan Pasha, ya? Kemana tuh Ceo brondong?” ucap salah satu teman Era.
Sudah umum bagi teman-teman Era dengan menyebut Pasha sebagai Ceo brondong. Pasalnya teman-teman divisi Era memang usianya rata-rata tiga puluh tahun ke atas.
“Iya, nih. Mataku sepet tiap hari lihatin Gala terus. Yang bening nggak ada lagi. kamu tahu nggak, Jul?” sahut teman Era yang lainnya.
“Ck, cobaa aja kamu lihat aku dengan tatapan penuh cinta, pasti nggak sepert tuh mata.” Sahut Gala dengan kesal.
“Memangnya ada hubungan Apa Tuan Pasha sama Juleha? Kok kamu tanyanya pada Juleha?” sambung Gala yang memang sebenarnya sangat penasaran.
“Nggak tahu tuh. Kenapa kalian tanya aku? coba aja tanya langsung sama bapaknya.” Kali ini Era langsung yang menjawab.
__ADS_1
“Serius nggak tahu? Bukannya kalian memang dekat? Sampai-sampai sakit saja dijengukin ke rumah, ciee…”
“Bener tuh kata Juleha, kalau mau tahu langsung, mending tanya langsung sama Tuan Nabil deh. Aneh-aneh saja.” sahut Tatia membela sahabatnya.
“Eh, itu ada Nona Yeslin. Siapa tahu dia tahu kemana Tuan Pasha sekarang. sumpah, kerjaku nggak semangat kalau nggak lihat wajah tuh brondong.”
Teman Era itu pun segera beranjak dari duduknya. Kemudian berbasa-basi pada Yeslin untuk bertanya langsung kemana Pasha sekarang.
Yeslin yang merasa dekat dengan Pasha, mendapat pertanyaan seperti itu, apalagi ia tahu kalau yang bertanya adalah teman Era, jadi ia justru sengaja melebih-lebihkan jawabannya.
“Oh, King sedang berada di luar negeri. lusa dia pulang, sekalian untuk melangsungkan pertunangan kita. Memangnya ada apa?”
Semua teman Era dan juga Era yang masih duduk tak jauh dari posisi Yeslin berada tampak terkejut. Namun Era dan Tatia berusaha tetap tenang, tak ingin menunjukkan perubahan wajahnya seperti teman-teman yang lainnya. Apalagi Era tahu kalau Yeslin selalu bicara seperti itu. padahal firasatnya perempuan itu hanya membual.
Setelah mengatakan itu Yeslin langsung pergi meninggalkan sekumpulan teman-teman Era. Sedangkan teman-teman Era yang masih terkejut juga antara percaya dan tidak dengan ucapan Yeslin baru saja.
“Sudah, sudah! Lebih baik kita masuk sekarang. jam makan siang sudah habis.” Sahut Era mengakhiri kegiatan ghibah teman-temannya.
***
Kini Era kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia kembali fokus meneliti beberapa dokumen penting kepegawaian. Ucapan Yeslin tadi, sudah tidak ia pedulikan lagi. karena lebih jelasnya Era akan bertanya langsung pada Pasha nanti saat pria itu sudah pulang. kalaupun kabar itu benar adanya, Era akan berlapang dada menerimanya.
Saking sibuknya Era dengan pekerjaannya setelah jam makan siang sampai menjelang sore, Sejak tadi Era sama sekali tidak membuka ponselnya. Bahkan saat jam makan siang juga dia tidak membawa ponselnya. Hingga terdengar suara deringan ponselnya, Era baru mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya.
***
Hari berganti hari. Seperti yang dikatakan oleh Yeslin kalau hari ini Pasha akan pulang dari luar negeri setelah beberapa waktu menangani masalah perusahaan Papanya sekaligus menyelesaikan proyek di beberapa tempat terpencil.
Saat ini Pasha sedang dalam perjalanan ke bandara yang akan membawanya pulang ke tanah air. Dengan wajah lelahnya, Pasha mengambil ponselnya yang selama beberapa hari tidak ia aktifkan.
__ADS_1
Alasan Pasha tidak mengaktifkan ponselnya yaitu karena ia ingin fokus dengan pekerjaannya. Jadi ia memakai ponsel khusus yang sengaja untuk berhubungan dengan orang-orang kantor. selain itu, lokasi proyek yang berada di tempat terpencil sangat susah sekali jaringannya.
Pasha membuka ponselnya. Banyak sekali pesan yang masuk. Namun tak satupun pesan dari seseorang yang sangat ia harapkan, yaitu Era. Karena pesan yang masuk kebanyakan dari Yeslin.
Ada rasa sesal dalam hati Pasha karena tidak sempat memberi kabar pada Era. Namun juga ada rasa sesal karena perempuan itu tak sekalipun menanyakan kabarnya. Akhirnya Pasha mencoba melakukan panggilan pada Era sebelum peswatnya take off.
“Kenapa tidak bisa dihubungi?” gumamnya.
Beberapa kali Pasha mencoba menghubungi Era dan hasilnya tetap sama. Mengirim pesan pun tidak tersampaikan karena memang ponsel Era sedang tidak aktif. Akhirnya Pasha mengabaikannya dulu. setelah ini dia juga akan bertemu pujaan hatinya itu.
***
Perjalanan udara yang ditempuh Pasha selama kurang lebih empat jam akhirnya membawa pria itu pulang ke tanah air. Ada rasa rindu yang menyesakkan dada saat teringat wajah Era yang beberapa waktu ini sempat ia abaikan. Padahal hari ini juga Pasha akan mendapatkan jawaban langsung dari Era atas tantangan yang perempuan itu berikan.
Pasha tidak berharap kalau diantara dirinya dan Era yang angkat kaki dari kota ini. dia berharap Era menerima cintanya.
Kini Pasha sedang dalam perjalanan menuju kantor. karena waktu masih siang, jadi ia ingin ke kantor dulu sekalian ingin bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1