
“Rayyan!” seru Era sekali lagi.
Sedangkan si pemilik nama masih berada di posisinya. Tak bergerak sama sekali. Sesekali matanya mengerjap demi tidak terlihat oleh Era.
“Iya, Joel? Apa kamu baru saja menemui Papa?” tanya Rayyan setelah membalikkan badannya. Mengulas senyum tipis pada perempuan yang entah sejak kapan menghuni hatinya.
Bukannya Era menjawab pertanyaan Rayyan, perempuan itu justru menangis terisak saat melihat senyuman Rayyan. Memang Era hany menganggap Rayyan sebagai sahabat. Tidak lebih dari itu. namun, untuk mengatakan perpisahan rasanya sangat berat sekali untuk Era lakukan.
“Hei, kenapa kamu menangis?” Rayyan menghampiri Era. Menepuk punggung perempuan itu, lalu mengajaknya duduk di sofa ruang kerjanya.
Era tampak mengusap air matanya. isakannya masih terdengar lirih, namun bibirnya belum mampu berucap.
Kalau bisa memilih, Era ingin tinggal lebih lama lagi di sini, di negara ini. menjalani kehidupan barunya bersama suami, dan bisa dekat pula dengan Rayyan, sahabatnya. namun, hal itu pasti akan semakin melukai perasaan Rayyan. Era sungguh bingung. Dia sangat benci yang namanya perpisahan.
“Kapan kamu pulang ke Indonesia, Joel?” tanya Rayyan mengawali obrolannya.
“Besok, Ray.” Jawab Era singkat.
Mereka kembali terdiam satu sama lain. Keheningan tercipta untuk beberapa saat. Rayyan memang sudah berusaha legowo untuk melepas Era bahagia bersama pasangannya. Ya, semua ini hanya masalah waktu. Rasa sesak di hatinya itu akan tergerus oleh waktu dan berganti dengan kebahagiaan lain.
“Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan kamu, Joel. Maaf jika selama ini aku telah lancang menggunakan perasaanku dalam hubungan persahabatan kita.”
“Tidak, Ray! Mncintai itu hak seseorang. Aku tidak pernah menyalahkan kamu ataupun keadaan ini. justru aku di sini yang merasa bersalah karena tidak bisa menerima cinta kamu. Tapi aku percaya. Kamu adalah pria baik, Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik juga untuk kamu.”
“Benarkah?” tanya Ray sambil menautkan alisnya.
“Ya. Semua orang sudah ditakdirkan berpasang-pasangan.” Jawab Era dengan yakin.
“Ya sudah, tolong tanyakan pada Tuhan kalau gitu. Kapan jodohku datang dan seperti apa dia?” kelakar Ray mencairkan suasana.
Era yang tadinya terbawa suasana mellow akhirnya meledakkan tawanya. Keadaan sudah kondusif lagi. mereka berdua sudah seperti biasa. Dalam hatinya masing-masing berusaha untuk ikhlas.
Setelah Era berpamitan pada Ray, juga beberapa teman kerja lainnya, Era langsung pulang ke apartemennya untuk mempersiapkan keberangkatannya besok. Untuk masalah unit apartemennya dan mobilnya, sudah Era serahkan pada Rayyan.
Kini Era sudah tiba di unit apartemennya. saat baru saja membuka pintu, hidugnya sudah mencium asap masakan yang berasal dari dapurnya. Era perlahan melangkah ke sana. Ternyata Pasha sedang memakai apronnya dan tengah sibuk dengan penggorengan.
__ADS_1
Era diam memaku melihat suaminya memasak. Ini adalah pemandangan langka yang tidak pernah Era lihat dari Pasha sebelumnya. Selain pria itu berubah menjadi sosok yang lebih dewasa, ternyata Pasha juga mandiri. Bahkan bisa membuat olahan masakan sendiri.
“Eh, istriku sudah pulang?” sapa Pasha saat membalikkan badannya, sudah melihat Era berdiri di depan pintu dapur.
“Kamu masak? Memang bisa?” tanya Era masih tidak percaya.
“Aku hanya membuat masakan instan yang tersedia di sini. gampanglah kalau itu. masih enakan masakan kamu.”
“Kenapa nggak beli saja, atau keluar ke resto yang tak jauh dari area sini?” Era mendekat sambil membantu menyajikan makanan yang baru saja dibuat oleh suaminya.
“Nggak. Aku malas keluar.” Jawab Pasha lalu duduk dan siap menikmati masakannya.
Era tersenyum tipis, lalu ia juga ikut bergabung bersama Pasha.
Mereka berdua menikmati makan siang itu dengan bahagia. Namanya juga pengantin baru. Apa saja pasti terasa indah.
***
Keesokan harinya Era dan Pasha sudah bersiap untuk menuju bandara. Papa Nabil dan Mama Shanum lebih dulu berangkat ke bandara.
Sebenarnya Era dan Pasha mau berangkat bersama dengan orang tuanya. Namun pagi tadi ada sedikit drama yang akhirnya Pasha meminta Mama dan Papanya berangkat lebih dulu.
Kalau saja Era tidak mempunyai senjata pamungkas, pasti Pasha masih akan tetap menahannya dalam pelukannya.
“Nanti setibanya di Indonesia, kita bisa menikmati malam pertama kita.”
Itulah kalimat yang Era ucapkan tadi pagi pada suaminya saat Pasha masih daam mode merajuk karena sang istri terus memaksanya untuk segera bersiap.
Kini Pasha dan Era sudah tiba di bandara. Kedua orang tua mereka juga sudah menunggu di gate keberangkatan.
“Kalian berdua baik-baik saja, kan?” tanya Mama Shanum yang sejak tadi tampak khawatir karena anak dan menantunya tak kunjung datang.
“Baik, Ma. Tadi hanya ada sedikit troble. Maaf.” Jawab Era.
“Troble? Memangnya kenapa? King, kamu masih sakit? Obatnya nggak lupa kamu konsumsi kan?” tanya Mama Shanum semakin khawatir.
__ADS_1
“Oh, nggak kok Ma. King baik-baik saja. dia tadi sedikit rewel karena jatah sus,-“
Pasha langsung membekap mulut istrinya yang hendak berucap frontal di depan Papa dan Mamanya. Bisa-bisanya perempuan itu akan berkata yang tidak-tidak. Biasanya para lelaki lah yang berkata tanpa filter. Nah ini malah kebalikannya.
Papa dan Mama Pasha pun hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi psangan pengantin baru itu. sedangkan Era merasa sangat puas karena berhasil mengerjai suaminya.
Kini mereka sudah berada di pesawat. Perjalanan udara belasan jam akan membawa mereka kembali ke Indonesia. Hal yang aneh kembali muncul di hati Era.
Beberapa waktu yang lalu dia melakukan perjalanan yang sama. Dan kini terulang lagi. meskipun masih ada sisa kenangan pahit itu, Era segera membuangnya jauh. Karena rasa pahititu sudah hilang tak berbekas. Berganti dengan rasa manis yang akan ia ciptakan bersama orang tercintanya.
“Maaf. Pasti dulu kamu sangat sulit melaluinya.” Ucap Pasha tiba-tiba. Sambil menggenggam tangan istrinya.
“Sudah. Jangan dibahas lagi.” Era menjawabnya dengan senyuman manis. Kemudian ia merebahkan tubuhnya pada pundak Pasha.
***
Perjalanan panjang itu telah membawa Era kembali ke tanah air. Tanah kelahirannya yang telah banyak mengukir berbagai kisah kehidupannya.
Setibanya di bandara, ada dua mobil yang menjemput mereka dan orang tua mereka. Dalam perjalanan pulang, Pasha tak bosan-bosannya memeluk sang istri. Era sampai tidak enak sendiri.
“Kenapa sih, Sayang? Kamu nggak suka aku peluk gini?” protes Pasha dengan raut wajah juteknya.
“Dah mulai lagi deh tantrumnya. Ternyata kata bocil sampai kapanpun masih melekat dalam dirinya.” Batin Era sambil tersenyum tipis menatap suaminya.
“Kamu mengumpatiku? Kamu mengataiku bocil?” todong Pasha tepat sasaran.
“Eh nggak kok. Kamu terlihat sangat tampan kalau sedang mode jutek seperti itu.” sahut Era gelapan sendiri.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!
Selamat hari raya Idul Adha buat kalian semua yang merayakan🙏🙏🤗🤗