Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
23. Tidak Pantas


__ADS_3

Kini Pasha dan Era sudah berada di mobil dan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Awalnya Era sudah meminta kunci mobilnyan pada Pasha karena dia tidak ingin ikut pergi ke rumah sakit. Lagi pula jika untuk melihat bayi Queen, Era bisa datang langsung ke rumahnya daripada ke rumah sait di saat moodnya sedang kurang baik.


Namun Pasha tetap ngotot tidak mau memberikan kunci mobilnya dan memaksa untuk ikut ke rumah sakit.


Selama perjalanan, Era tampak diam. dia masih tidak percaya pada pertemuannya tadi dengan Hagi. Bagaimana bisa pria itu datang lagi setelah beberapa tahun yang lalu menorehkan luka di hatinya. Era berharap setelah ini tidak akan lagi bertemu dengan Hagi. Dan pertemuannya tadi hanya kebetulan saja dan tidak akan terulang lagi.


“Siapa pria tadi?” tanya Pasha yang masih fokus dengan kemudinya.


Pasha tidak tahan untuk tidak bertanya tentang sosok pria yang bertemu dengan Era tadi. dia juga sangat penasaran tentang hubungan masa lalu yang seperti apa yang pernah Era jalin dengan pria tadi.


“Siapa kamu yang beraninya ikut campur masalah pribadiku?” tanya Era tanpa mengalihkan tatapannya ke luar jendela.


Pasha tampak bingung. Memang benar dia bukan siapa-siapa bagi Era. Tapi hatinya terusik melihat Era dengan pria lain. Terlebih keduanya pernah menjalin hubungan. Pasha tidak rela jika suatu saat nanti Era kembali menjalin hubungan baik dengan pria tadi. meskipun dari raut wajah Era dia bisa melihat kalau perempuan itu tampak tidak suka dengan kehadiran Hagi.


“Tapi aku ingin tahu, Era. Apa salah jika aku ingin dekat dengan kamu?” jawab Pasha sekaligus menegaskan kalau dia tidak ingin menjadikan Era sebagai karyawannya saja.


“Apa maksud kamu? Ingat ya, Pasha! kita ini hanya sebatas atasan dan bawahan saja. kalau aku tidak melakukan kesalahan ke kamu dengan kejadian kopi panas tadi, aku tidak akan pernah berada satu mobil seperti ini denganmu. Bahkan makan berdua denganmu.”


“Kenapa? Apa karena aku masih kamu anggap bocah lagi dan tidak pantas dekat dengan wanita dewasa seperti kamu? Begitu?” Pasha sungguh sangat emosi jika lagi-lagi Era menyangkut pautkan perbedaan usia diantara mereka berdua.


“Nah, itu kamu tahu. Aku tidak perlu lagi menjawabnya.” Ucap Era dengan nada ketus.


Ckiittttt


Era hampir saja terjungkal kalau dia tidak menggunakan sabuk pengamannya saat tiba-tiba Pasha mengerem mobilnya mendadak. Dadanya bergemuruh hebat. Lalu tatapannya nyalang ke arah Pasha. sedangkan Pasha sendiri sama sekali tidak takut dengan tatapan nyalang Era. Dia tahu kalau Era pasti sangat marah karena dirinya berhenti mendadak. Setelah itu Pasha melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan badannya ke arah Era.


“Iya, benar kalau aku memang masih bocah. Tapi perlu kamu tahu kalau laki-laki di hadapan kamu ini yang masih kamu anggap bocah, bisa membuat bocah.” Ucap Pasha dengan suara tegas dan kepalanya condong ke arah Era.

__ADS_1


Era tampak gelagapan sekaligus ketakutan mendengar pernyataan Pasha baru saja. ini juga pertama kalinya Era tahu Pasha berbicara dengan nada serius padanya di luar jam kantor.


“Keluarlah! Aku mau pulang.” usir Era sambil mendorong dada Pasha agar tidak mendekat seperti itu. namun sayangnya Pasha justru menangkap kedua tangan Era dan menahannya. Setelah itu tanpa aba-aba Pasha langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Era.


Era tampak melototkan matanya saat benda kenyal nan hangat itu menempel tepat di bibirnya. seketika ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Hingga sampai Pasha mulai menelusupkan lidahnya masuk ke rongga mulutnya, Era masih diam. entah apa yang sedang dipikirkan oleh Era saat ini. namun yang pasti ia merasa pernah mengalami kejadian ini. tapi di mana? Era masih berpikir keras dan hal itu semakin dimanfaatkan oleh Pasha untuk mengeksplor kenikmatan dalam rongga mulut Era. Apalagi kini ia melakukannya dalam keadaan Era sadar. Tidak sedang mabuk seperti dulu.


“Mimpi” batin Era berkata.


Ya, Era baru sadar kalau ia pernah merasakan ciuman ini persis dengan mimpinya saat itu. namun setelah itu Era sadar kalau sejak tadi Pasha tampak asyik membelitkan lidahnya dan mengu lumnya penuh kelembutan. Era segera sadar dan tidak boleh terbuai dengan ciuman Pasha yang memabukkan ini. walau ia sendiri sama sekali tidak membalasnya. Lalu dengan kasar Era mendorong dada Pasha.


“Kurang ajar!!”


Dengan nafas tersengal dan wajah memerah, Era terlihat sangat marah dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Pasha. namun bukannya Pasha marah, tapi dia justru tersneyum sinis pada Era.


“Sekarang kamu percaya kan? Kalau laki-laki bocah ini bisa membuat bocah.” Ucap Pasha dengan tatapan tak terbaca.


“Keluar sekarang dari mobilkuuu!!!” umpat Era penuh amarah.


Brakk


Era menutup pintu mobil bagian kemudi dengan keras setelah berhasil mengeluarkan Pasha dari mobilnya. Tidak peduli lagi dengan keadaan Pasha, Era langsung melajukan mobilnya pulang, meninggalkan Pasha di tepi jalan sendirian.


***


Kini Era sudah sampai rumahnya. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. bukan karena setelah bertemu Hagi, mantan kekasihnya. Melainkan kacau setelah apa yang baru saja Pasha lakukan padanya.


“Tidak! Tidak mungkin rasa itu sama seperti pada mimpiku waktu itu.” gumam Era sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


Era masih belum mengganti pakaiannya. Dia berbaring di atas sofa ruang tamu sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Pasha. jelas rasa itu masih tertinggal dan seperti melekat di bibirnya.


“Gila! Tidak mungkin aku terbuai dengan ciuman brondong macam Pasha. pria menjengkelkan dan menyebalkan.” Gerutu Era saat menyadari ada rasa aneh dalam hatinya.


Tak ingin terlalu memikirkan kejadian baru saja, Era pun segera masuk ke kamarnya dan mandi. setelah itu ia memilih untuk langsung tidur agar tidak memikirkan ciuman Pasha tadi.


Sayang sekali harapan tak sesuai dengan realita. Bahkan sampai waktu menjelang pukul dua dini hari, mata Era tak kunjung menemui kantuknya. Bayang-bayang ciuman Pasha masih menari-nari di otaknya. Karena Pasha adalah satu-satunya pria yang telah berhasil mendapatkan ciuman pertamanya.


**


Mata Era terlijat jelas memerah karena menahan kantuk. Bagaimana tidak ngantuk, kalau jam lima pagi dia baru tidur. Dan jam enam sudah harus bangun untuk memulai aktivitasnya sebelum berangkat ke kantor.


Di kantor, Era beberapa kali menguap. Rasanya ia ingin sekali tidur siang ini. sungguh selain rasa kantuk yang tidak bisa ditahan, Era selalu pusing jika kurang tidur seperti ini. apalagi jadwal hari ini sangat padat. ada meeting dengan beberapa karyawan dan juga karyawan baru yang beberapa waktu lalu sudah diterima bekerja di perusahaan ini.


Pukul setengah dua belas siang Era baru saja selesai meeting. Dia keluar lebih akhir daripada karyawan lainnya. Selain masih ingin merekap hasil meeting tadi, Era juga merasakan kepalanya semakin pusing.


“Apa sebaiknya aku ijin pulang saja, ya?” gumamnya sambil berjalan keluar dari ruang meeting.


Setelah di luar ruangan, Era tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan matanya berkunang-kunang. Sedetik kemudian, pandangannya terasa gelap, dan


Bruukkkk


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2