Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
38. Ditelan Bumi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Era bisa bernafas lega karena mantan kekasihnya sudah tidak lagi datang menemuinya. Mungkin Hagi takut dengan ancamannya. Dan Era tidak peduli lagi. asal pria itu sudah tidak menampakkan batang hidungnya lagi.


Sementara hubunganya dengan Pasha masih seperti biasanya. Walau perlakuan Pasha sangat manis. Hampir setiap hari pria itu selalu mengirimkan sesuatu pada Era. Namun tetap saja, Pasha terkadang masih membuatnya jengkel. Mungkin Pasha memang diciptakan sebagai manusia yang menjengkelkan.


Kurang seminggu lagi waktu yang diberikan pada Pasha akan berakhir. Namun sampai saat ini Pasha juga belum ada tanda-tanda untuk pulang. Era sendiri tidak ingin bertanya. Dia tidak ingin dikira terlalu mengharapkan Pasha kembali. Mungkin gengsi. Karena memang Pasha lah yang harusnya buru-buru ingin segera pulang.


Dan selama sisa waktu yang diberikan oleh Era, Pasha seperti hilang ditelan bumi. Era pernah mencoba mengirim pesan pada Pasha. namun sampai saat ini pesan itu belum terkirim. Tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi dengan Pasha, Era hanya bisa mendoakan saja.


***


Hari ini Era benar-benar sibuk dnegan pekerjaannya. Bukan hanya dia saja, melainkan semua tim divisinya. Karena setiap akhir bulan divisi HRD selalu melakukan penilaian kinerja kepada semua karyawan.


Karena kesibukan itu pula membuat Era sedikit melupakan tentang Pasha yang selama ini tidak ada kabar.


“Jul, ini data yang kamu minta. Sepertinya kamu perlu meminta pendapat pada direktur utama deh tentang beberapa karyawab yang digaris bawahi ini.” ujar Tatia saat memberikan berkas pada Era.


“Ok.kamu taruh di situ dulu. nanti aku akan bertemu langsung dengan Tuan Nabil.” jawab Era tanpa melihat Tatia yang kini sedang menatapnya.


“Jul, are you ok?”


Era menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu menatap ke arah sahabatnya. Tatia bukanlah orang yang bodoh yang tidak bisa mengerti perasaan sahabatnya. termasuk dengan sikap Era akhir-akhir ini yang berubah-ubah. Maka dari itu, Tatia ingin sekali bertanya atau mendengar keluh kesah sahabatnya itu. Tatia juga mengakui kalau semenjak dirinya hamil, sudah jarang sekali punya waktu berdua bersama sahabatnya.


“Sepulang kerja apa kamu ada waktu?” tanya Era.


Tatia hanya menganggukkan kepalanya. Walau sebenarnya dia sudah ada janji dengan suaminya, namun untuk kali ini ia akan meluangkan waktunya bersama Era.


“Ya sudah, aku melanjutkan pekerjaanku dulu. jangan lupa untuk menemui Tuan Nabil!”


“Ok. Thanks ya, Tia!”

__ADS_1


Era pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Hatinya sedikit lega setelah membuat janji dengan sahabatnya. tentu saja Era sangat senang. karena selama ini dia tidak punya teman dekat selain dengan Tatia. Dan semenjak Tatia hamil, Era juga tidak berani mengganggu waktu sahabatnya itu.


***


Kini sudah waktunya jam makan siang tiba. Era dan teman-temannya pun makan di kantin. Sambil menikmati makannya, Era mengecek ponselnya. Dia ingin tahu pesan yang dikirim pada Pasha beberapa hari yang lalu sudah terkirim apa belum.


Era menghembuskan pelan nafasnya. Ternyata masih sama. Ponsel Pasha kemungkinan tidak aktif, atau pria itu berganti nomor.


Era mendadak gelisah. Dia juga bingung. Kenapa hatinya seperti ini. kenapa justru dirinya yang seolah sangat membutuhkan kehadiran Pasha. sungguh Era merasa kalau akal sehatnya sudah tidak sehat lagi. dan semua itu gara-gara Pasha.


Akhirnya Era memilih menghapus pesan beserta semua riwayat percakapannya dengan Pasha. dengan begitu, mungkin ia tidak akan lagi melihat ponselnya dan mengharapkan Pasha membalas pesannya.


Usai makan siang yang tidak membuatnya berselera, Era kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan sekarang juga ia akan bertemu langsung dengan atasannya yang tak lain adalah Tuan Nabil.


Setibanya di ruangan direktur utama, Era dipersilakan duduk. Ternyata di sana ada Yeslin yang sedang fokus bicara dengan Tuan Nabil di sofa. Sedangkan Era diminta untuk menunggu sebentar.


“Om jangan lupa nanti datang ke acara makan malam! Mama dan Papa pasti sangat senang dengan kedatangan Om dan Tante.”


Kedua orang tua Yeslin memang sudah lama tinggal di luar negeri. sedangkan Yeslin di rumah sendiri bersama pembantunya. Namun rumahnya dekat dengan rumah Queen.


Kemarin, kedua orang tua Yeslin baru saja datang dari luar negeri. malam ini juga kedua orang tua Yeslin mengadakan makan malam yang mengundang serta keluarga Tuan Nabil. mengingat mereka dulu pernah menjalin kerjasama sedang perusahaan yang saat ini dipegang oleh Falan, suami Queen.


“Sekalian nanti Yeslin minta Papa dan Mama, Om juga untuk membahas kelanjutan hubunganku dengan King.” Ucap Yeslin sengaja memanas-manasi Era.


“King kan lagi di luar negeri, Yes! Kita bahas nanti saja kalau masaah itu.” jawab Tuan Nabil yang memang tidak ingin membahas sekaligus ikut campur urusan asmara putranya. Meskipun Yeslin selama ini dekat dengan Pasha, namun sebagai orang tua, Tuan Nabil tetap menyerahkan semuanya pada Pasha.


“Iya, nih. Sayangnya King sedang berada di luar negeri. ya sudah biar nanti Yeslin hubungi King saja, Om, setiap hari juga kita saling contact.”


“Hemm… sekarang berkas ini kamu berikan pada Wisnu. Setelah itu kamu temani dia mengerjakan seperti yang Om perintahkan tadi.”

__ADS_1


Era yang sejak tadi juga berada di ruangan itu jelas mendengar semua yang dibicarakan oleh Yeslin. Mungkin dia tidak percaya begitu saja dengan yang dikatakan oleh Yeslin yang ingin membahas hubungannya dengan Pasha. sekalipun kedua keluarga itu terlihat saling dekat. Namun, dengan ucapan Yeslin yang mengatakan kalau perempuan itu setiap hari berkomunikasi dengan Pasha, Era agak ragu. Apakah itu benar. Namun kalaupun semuanya tidak benar, kenapa Tuan Nabil tidak bereaksi apapun karena ponsel Pasha susah dihubungi. Dan kalau ternyata benar, itu artinya Pasha yang sengaja menjauhinya.


Kecewa. Tentu saja. meskipun semua itu belum benar. Tapi Era sangat menyesal karena telah jatuh hati pada sosok pria yang sebelumnya tidak masuk ke dalam kriterianya.


“Ada yang bisa saya bantu, Nona Juleha?”


“Oh, ini Tuan. Saya ingin meminta tanda tangan anda. sekalian anda cek beberapa nama karyawan yang saya garis bawahi di sini. apakah mereka pantas medapatkan kenaikan jabatan selama masa kerjanya yang lumayan lama dengan kinerja yang semakin meningkat?”


“Baiklah. Terima kasih, Nona. Nanti akan saya teliti ulang.”


Setelah itu Era pamit keluar dari ruangan direktur utama. Hatinya kini kembali sedih saat mengingat ucapan Yeslin tadi.


“Bu Era, tunggu!”


Era berhenti dan menoleh ke sumber suara yang baru saja memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Yeslin.


“Ada yang bisa saya bantu, Nona Yeslin?” tanya Era dengan sopan.


“Tidak sih. Saya hanya ingin menyampaikan kalau minggu depan saya akan bertunangan dengan King. Tentunya setelah dia pulang dari luar negeri.”


“Oh begitu. Selamat ya, Nona! Saya senang mendengarnya.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


Maap ya jika alurnya masih belibet alias kacau🙏🙏


__ADS_2