Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
59. Pelukan


__ADS_3

Sementara itu di waktu yang sama, di tempat yang berbeda tampak sepasang sahabat sedang menikmati malam di sebuah rooftop apartemen. Apartemen tersebut adalah tempat di mana Tatia tinggal bersama suaminya. untung saja weekend ini Era bisa memiliki sahabatnya, karena suami Tatia sendiri sedang banyak kerjaan. Alhasil Tatia hanya diperbolehkan menghabiskan waktu dengan Era di rooftop apartemen.


Era sudah menceritakan semua masalahnya tentang Hagi pada Tatia. Memangnya pada siapa lagi kalau bukan pada sang sahabat sejati. dan reaksi Tatia benar-benar terkejut. Sama halnya dengan Era saat pertama kali mengetahui nominal uang yang telah dipinjam oleh Bibinya.


“Kenapa kamu yang harus tanggung sih, Jul? harusnya biarkan saja tuh sih Hagi ambil rumah yang ditempati oleh Paman Bibi kamu. Lagian tuh si Nola nggak bisa bantu apa? Padahal kerjaannya kan Cuma ngang kang doang. Pasti banyak tuh duitnya. Dan bisa buat bayar hutang Ibunya.”


“Huusss… mulutnya tolong dikondisikan kalau ngomong! Ada calon ponakanku tuh dalam perutmu.”


“Oh astaga!! Sorry.. maafin Mama ya, Nak!” ucap Tatia menyadari kesalahannya. Dia juga sambil mengusap perutnya.


Era hanya menghembuskan nafasnya kasar. Meskipun beban di hatinya sudah sedikit berkurang, namun kini dia bingung bagaimana lagi caranya mencari uang dalam waktu yang cepat agar Hagi juga tidak mengganggunya lagi.


“Bagaimana kalau kamu bilang sama brondong kamu itu saja, Jul? kan tajir tuh si Tuan Pasha. pasti tidak ada apa-apanya lah bagi dia untuk melunasi hutang itu.” saran Tatia.


“Gila kamu, Tat. Nggak akan pernah aku bilang ke dia, lalu dia bayarin semua hutang itu.”


“Ya elah, Jul! bilang saja pokok permasalahan kamu yang sebenarnya. aku yakin deh kalau Pasha sangat cinta sama kamu, apapaun akan dia lakukan. Apalagi Hagi sudah memanfaatkan kamu tuh. Daripada nanti Pasha tahu saat kamu sedang bersama Hagi. Jadi salah paham kan jadinya? Udah deh, percaya sama aku. lebih baik bilang jujur saja.”


Era tampak terdiam setelah mendengar saran dari sahabatnya. baginya kemarin sudah cukup jelas ia menceritakan masalahnya pada Pasha, dan meminta pria itu untuk tetap percaya pada perasaannya. Masak iya sekarang ia akan mengatakan pada Pasha tentang hutangnya. Apa itu bukan sama dengan meminta secara terang-terangan bantuan Pasha agar bisa melunasi hutang Bibinya.


Drt drt drt…


Belum juga Era menanggapi saran yang diberikan oleh Tatia, tiba-tiba saja ponselnya berdering ada panggilan dari seseorang yang baru saja ia bicarakan. Siapa lagi kalau bukan Pasha.


“Panjang umur dia!” gumam Era lalu mengangkat panggilan itu.


“Ya, halo?”


“…..”


“Lagi di luar sama teman. Ada apa?”


“…..”

__ADS_1


“Apa? Ok, aku pulang sekarang.”


Setelah menerima pangilan dari Pasha, Era pun berpamitan pulang. pasalnya saat ini juga Pasha sudah berada di depan rumahnya. Entah ada apa, dari suara yang Era dengar tadi, Pasha terlihat tidak baik-baik saja.


“Maksih ya, Tat! Aku pulang dulu.”


“Ya hati-hati! Semoga kamu lakukan apa yang aku sarankan tadi.” Tatia mengingatkan.


Era hanya mengendikkan bahunya. Dia juga masih bingung dan butuh waktu untuk berpikir lagi.


***


Beberapa menit perjalanan dari apartemen Tatia, kini Era sudah sampai rumahnya. Mobil Pasha juga masih terparkir di luar halaman rumahnya. Setelah itu Era memasukkan mobilnya ke halaman. Kemudian diikuti oleh Pasha.


“Sorry, nunggu lama ya?” ucap Era saat Pasha sudah keluar dari mobilnya dan menghampirinya.


Bukannya menjawab pertanyaan Era, Pasha justru langsung memeluk Era. Era cukup shock dan juga bingung dengan sikap Pasha yang tiba-tiba seperti ini. ada apa sebenarnya.


“King, jangan seperti ini! nanti ada yang lihat.” Era mengurai pelukannya, lalu membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Pasha masuk.


Pasha sejak tadi tidak peduli dengan beberapa panggilan yang masuk ke ponselnya. Entah itu dari Papanya, Mamanya, ataupun kakaknya. Dia tidak ingin membahas hal itu dulu. yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan hatinya dengan bertemu sang tambatan hati yang sesungguhnya.


“Ada apa?” tanya Era saat melihat Pasha sejak tadi diam.


Pasha tampak mengusap wajahnya dengan kasar, setelah itu ia menarik Era ke dalam pelukannya. Era juga tidak menolak. Justru membiarkan Pasha memeluknya. Mungkin pria itu sedang ada masalah, jadi butuh sandaran. Tapi, bukankah dirinya juga sedang ada masalah. Akhirnya Era ikut membalas pelukan Pasha. berharap rasa resah yang menggelayuti hatinya juga sedikit sirna dengan berpelukan dengan pujaan hatinya.


Pasha tersenyum tipis saat merasakan Era membalas pelukannya. Hatinya juga mulai tenang. Benar memang kata banyak orang, kalau pelukan bisa meredamkan emosi yang ada di hati kita.


Beberapa saat kemudian mereka mengurai pelukan. Era terlihat sedikit canggung karena telah membalas pelukan Pasha.


“Terima kasih.” Ucap Pasha.


Era hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia beranjak dari sofa dan menuju dapir untuk membuatkan Pasha minuman, sekaligus menghindar dari kecanggungan itu.

__ADS_1


Era membuat dua gelas coklat hangat untuk menemani dirinya ngobrol dengan Pasha malam ini. saat sedang sibuk mengaduk coklat itu, tiba-tiba saja ada sepasang lengan yang memeluknya dari belakang. Era hampir berteriak. Untung saja segera sadar kalau ada Pasha di rumahnya.


“Harum sekali sih Ra, rambut kamu.” Ucap Pasha sambil menciumi rambut Era yang tergerai.


“Ehm, iya karena aku keramasnya pakai shampoo, bukan pakai abu gosok.” Jawaban Era sontak membuat Pasha tertawa.


“Kamu ini bisa saja sih, Ra jawabnya.” Pasha sangat gemas dengan Era. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


“Lepas dong, King! Ini sudah selesai, ayo kita kembali ke ruang tamu.”


“Kalau aku nggak mau bagaimana?” Pasha justru meletakkan dagunya pada pundak Era. Hembusan nafas Pasha bahkan sampai terasa di leher Era. Sungguh posisi seperti sangat menegangkan bagi Era.


“Apa kamu gugup kalau aku seperti ini?” tanya Pasha sambil menahan senyumnya.


Era sendiri hanya diam. dia juga mengumpat dalam hati. Kenapa pertanyaan yang jelas-jelas Pasha sudah tahu jawabannya, masih juga ditanyakan. Apa pria itu tidak bisa merasakan hawa di tubuhnya yang sudah memanas akibat hembusan nafas yang menusuk kulit leher itu.


Arghhh…


Era memekik saat Pasha tiba-tiba membalik tubuhnya hingga saling berhadapan. Untung saja tadi Era tidak sedang mengangkat nampan berisi coklat hangat.


Pasha menatap dalam mata Era yang sangat meneduhkan itu. tak lama kemudian pria itu mencondongkan kepalanya mendekati wajah Era. Era pun semakin gugup, namun dia tidak bisa bergera sama sekali. Dan..


Cup


Era merasa sangat geli saat Pasha tiba-tiba mengecup leher jenjangnya. Namun sedetik kemudian matanya melotot saat menyadari ciuman Pasha bukan pada bibirnya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2