Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
52. Kecewa


__ADS_3

Daripada memikirkan pesan Hagi, Era lebih baik fokus dengan pekerjaannya hari ini. apalagi ini masih pagi. dia tidak ingin moodnya buruk hanya karena pesan tidak jelas itu.


Era kini sudah fokus dengan pekerjaannya. Perlahan ia sudah melupakan Hagi. Karena memang pekerjaannya benar-benar menguras banyak tenaga dan pikiran. Hingga waktu makan siang tiba pun Era masih terus menatap layar komputer di hadapannya. kalau saja sang sahabat, alias Tatia tidak masuk ke ruang kerja Era, pasti perempuan itu akan melupakan makan siangnya.


“Jul, temani aku makan siang di luar dong!”


“Bentar, Tat. Ini masih nanggung.”


“Astaga, Juleha!! Ini jam berapa? Apa sejak tadi kamu nggak lihat jam apa?”


Saking kesalnya, akhirnya Tatia terpaksa menark tangan Era untuk segera istrahat makan siang. Era juga baru sadar kalau jam makan siangnya sudah terlewati sepuluh menit. Dia pun menutup sementara komputernya, lalu pergi makan siang bersama Tatia.


Mereka berdua makan siang ke sebuah restoran yang tak jauh dari kantor. cukup menyeberang saja, sudah sampai restoran. Semua itu karena keinginan bumil yang sedang ngidam makanan yang ada di restoran itu.


“Kamu mau pesan apa, nanti biar aku yang bayar?” ucap Tatia.


“Wah, benar nih? Tumben nih kamu baik banget, Tat?”


“Sudah, jangan banyak komentar. Nanti keburu kesadaranku kembali, malaah kamu aku suruh bayar semuanya loh.” Sahut Tatia sambil fokus dengan gadgetnya.


Era pun segera melihat beberapa menu makanan, kemudian menyampaikannya pada pelayan restoran untuk dicatat. Sedangkan Tatia, minta disamakan saja dengan Tatia, hanya menambah salah satu jenis makanan yang membuat ia ngidam sejak tadi pagi. setelah itu mereka berdua diminta untuk menunggu sebentar.


Tatia masih sibuk dengan gadgetnya. Sedangkan Era hanya duduk santai sambil menunggu pesanan makanannya datang. tiba-tiba tanpa sengaja ia melihat Pasha juga ada di sana. Pria itu sepertinya sedang meeting dengan kliennya. Dan di sana juga ada Yeslin yang menemaninya.


Mungkin tidak masalah jika Yeslin ikut meeting dengan Pasha. karena memang posisi Yeslin adalah sebagai sekretaris pembantu. Jadi, kemungkinan hari ini Pasha yang meminta Yeslin untuk menemaninya.


Yang membuat Era sedikit kecewa pada Pasha bukan karena ada Yeslin di sana. Melainkan saat melihat Pasha sedang makan siang bersama kliennya. Padahal tadi ia sudah susah payah membawakan bekal makan untuk kekasihnya itu. dan sekarang Pasha malah makan di luar. Padahal Pasha tadi juga bilang akan sibuk setelah jam makan siang sampai sore.


“Mungkin meetingnya diajukan.” Batin Era.


Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Era dan Tatia segera menyantap makanan itu. sesekali Era juga melihat interaksi Pasha dengan kliennya itu. juga dengan Yeslin.


“Lihatin apa sih, Jul? aku perhatiin dari tadi kamu makannya nggak fokus.” Tanya Tatia penasaran.

__ADS_1


“Nggak lihat apa-apa, kok.” Era kembali fokus dengan makanannya.


Namun karena penasaran, Tatia pun mengikuti arah pandang Era. Dan dia tahu kalau ternyata di sana ada Pasha yang sedang meeting ditemani oleh Yeslin.


“Aku curiga deh sama kalian berdua.” Ucap Tatia tiba-tiba.


“Hah? Apa maksud kamu?” tanya Era bingung.


“Halahh… ngaku aja deh kamu, Jul. sebenarnya kamu mempunyai hubungan special kan dengan Tuan Pasha?” tanya Tatia to do poin.


“Nggak lah. Ngomong apaan sih kamu, Tat?”


“Ya sudah kalau nggak mau jujur. Aku dan teman-teman yang bakal cari kebenaran itu sendiri. Sekarang pilih mana? Aku dan teman-teman yang akan mengorek informasi itu, atau kamu jujur sama aku, dan aku janji tidak akan bilang ke siapa-siapa?” tanya Tatia sambil memberi pilihan yang sedikit mengintimidasi.


Era pun hanya menghela nafasnya pelan. Dia tidak mau jika hubungannya diketahui banyak orang apalagi teman-temannya. Jadi lebih baik ia jujur langsung pada sahabatnya, sekalian meminta Tatia agar tutup mulut.


“Iya. aku dan Pasha sudah jadian.” Jawab Era pasrah.


“Bisa diam nggak sih mulut kamu, Tat? Malu dilihat orang.” Bisik Era merasa tak enak sendiri dengan pengunjung lainnya.


“Sorry!”


Tanpa sengaja, kedua pasanga netra itu saling bertemu. Yaitu Era dan Pasha. lalu Era segera memutus kontak mata itu, dan kembali melanjutkan makanannya. Sedangkan Pasha merasa bersalah pada Era karena sekarang ia sedang makan siang di luar. Padahal tadi pagi Era membawakan bekal makan untuknya. Pasha juga ingat kalau kotak bekal itu masih ada di atas meja kerjanya.


“King, kenapa sih malah ngelamun?” bisik Yeslin yang sudah mencium bau-bau mencurigakan lantaran pandangan Pasha yang tertuju pada Era.


Pasha hanya melirik Yeslin saja tanpa berniat membalas ucapan perempuan itu. Kemudian ia kembali melanjutkan makannya.


Sedangkan Era dan Tatia yang lebih dulu menyelesaikan makan siangnya, mereka berdua segera kembali ke kantor. bahkan Era tidak berminat untuk bertegur sapa dengan Pasha saat melewati pria itu.


Setibanya di kantor, Tatia kembali menginterogasi sahabatnya itu tentang hubungannya dengan si Ceo brondong. Pasalnya saat di restoran tadi, Era hanya mengatakan pada Tatia kalau dirinya memang sudah jadian dengan Pasha.


“Ada apa sih? Masuk sana ke ruang kerja kamu!” usir Era saat Tatia mengikutinya.

__ADS_1


“Belum jelas kali, Jul cerita kamu tadi. aku masih belum percaya kalau kamu jadian sama Tuan Pasha. apa kamu juga mencintai dia? Ahh… so sweet banget deh. Padahal selama ini kamu bilang dia menjengkelkan. Eh ternyata…”


“Udah ngomongnya? Sekarang kamu kembali ke ruanganmu, Ok? Dan satu lagi, kamu harus janji untuk tidak bilang ke siapapun tentang hubunganku dengan King.”


“Ciee…. Sekarang manggilnya King. My King maksudnya?” ledek Tatia.


“Udah sana! Dasar bumil banyak omong!”


Mau tidak mau akhirnya Tatia keluar dari ruangan kepala HRD. Mereka akan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


Sementara Era yang sedang menyalakan kembali layar komputernya, tiba-tiba ada pesan masuk dari Pasha. dia membukanya terlebih dulu.


“Sorry, Ra. Aku makan siang di luar. Tapi aku nanti tetap memakan bekal dari kamu kok.”


Era hanya membacanya saja tanpa berminta untuk membalasnya. Dia lebih mementingkan pekerjaannya. Biarlah Pasha mau makan bekalnya tadi atau tidak. Yang penting ia sudah memenuhi keinginan pria itu yang ingin dibawakan bekal.


Setelah jam makan siang sampai sore hari menjelang jam pulang kantor, Era fokus dengan pekerjaannya. Dia sama sekali tidak sempat untuk melihat ponselnya yang ternyata banyak sekali pesan masuk.


Saat Era sudah selesai membereskan pekerjaannya, dan hendak pulang, ia membuka ponselnya dan membaca salah satu pesan dari nomor yang tadi pagi menghubunginya.


“Dalam waktu dua puluh menit kamu tidak datang ke café, aku akan datang ke rumah kamu.”


Era menghembuskan nafasnya kasar. Akhirnya mau tidak mau Era datang ke café itu untuk menemui Hagi, sekaligus ingin tahu apa mau pria itu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2