
Pukul dua belas malam Era terjaga dari tidurnya. Dia tidak menyangka kalau akan tidur selama itu. mungkin karena efek obat yang tadi ia minum. Keadaannya juga sudah lebih baik. Tinggal menyisakan perih di lambungnya saja, untuk pusingnya sudah hilang.
Tak lama kemudian perut Era berbunyi minta diisi. Dia pun segera bangun untuk membuat makanan yang mudah dan cepat dibuat. Maklum saja jam seperti ini dia malas untuk keluar rumah beli makan. Kalau keadaannya tidak sedang sakit, pasti Era akan kuliner malam.
Cklek
Era membuka pintu kamarnya. Lampu ruang tamu masih menyala dengan memperlihatkan penampakan seorang pria tengah tidur pulas di atas sofa. Era sangat terkejut saat melihat Pasha masih di rumahnya. Bahkan dia tidur begitu pulas dengan ponsel masih ada dalam genggamannya.
“Nekat sekali tuh bocah.” Gumam Era lalu menuju dapur untuk membuat makan.
Era membuat makanan dengan cepat lalu segera menyantapnya. Dia duduk di kursi yang ada di dapur itu sambil menikmati makanannya.
“Apa kamu hanya membuat makanan itu saja? perutku juga lapar.” Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Era.
Siapa lagi kalau bukan Pasha. pria itu memang wajahnya terlihat sayup setelah bangun tidur. Pastinya Pasha terbangun juga karena sedang kelaparan seperti Era.
“Siapa juga yang nyuruh kamu ke sini. kamu punya uang kan? Kamu bisa pulang dan beli makan di luar tanpa harus menyusahkan aku.” jawab Era dengan ketus.
Sebenarnya Era bukan tidak mau memberikan Pasha makanan. Dia juga masih memiliki jiwa kemanusiaan. Hanya saja sikap Era itu sebagai wujud atas penolakan Pasha yang sempat meminta untuk dekat dengannya.
Entahlah, Era masih tidak percaya dengan keberanian Pasha yang ingin dekat dengannya. atas dasar apa Pasha bisa mengatakan hal itu. mengingat sejak awal pertemuannya hingga dipertemukan kembali dalam ikatan pekerjaan, hubungannya dengan Pasha juga tidak baik-baik saja. selalu menyebalkan bin menjengkelkan.
Lantas apa alasan Pasha ingin dekat dengannya. apalagi setahu Era, Pasha sangat dekat dengan Yeslin. Dan perbedaaan usia juga menjadi tolok ukur bagi Era. Jelas, secara teori, pria yang usianya lebih muda dari wanita, tingkat kedewasaannya juga mempengaruhi.
“Please, Ra! Kamu tega aku kelaparan seperti ini?” Pasha langsung duduk di hadapan Era dengan menunjukkan muka melasnya.
Akhirnya Era tidak tega. Dia mengambil sisa makanan yang ia mask tadi lalu memberikannya pada Pasha. tanpa banyak bicara, Era kembali melanjutkan makannya. Bahkan ia tidak peduli dengan ucapan terima kasih Pasha.
Mungkin setelah makan, Era akan meminta Pasha pulang dari rumahnya. Tentunya akan mengjak Pasha bicara lebih dulu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah menyelesaikan makannya. Namun mereka masih betah duduk di kursi saling berhadapan.
__ADS_1
“Pulanglah! Aku baik-baik saja dan tidak perlu dijaga oleh siapapun.” Ucap Era.
“Nggak. Aku khawatir dengan keadaan kamu. Bagaimana kalau kamu sakit dan butuh bantuan tapi tidak ada seorang pun di sini?”
“Pasha! aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri. Jadi, lebih baik kamu pergi sekarang juga.” usir Era dengan menahan emosi di dadanya.
Pasha masih diam menatap Era. Memang dia percaya kalau Era adalah perempuan mandiri yang selalu mengatasi semua masalahnya sendiri, bahkan merawat dirinya sendiri jika sedang sakit seperti ini. namun karena Pasha sejak awal sudah tertarik pada perempuan yang super menjengkelkan itu, ada rasa tidak tega saat melihat Era sakit dan tinggal sendirian.
“Bagaimana kalau untuk sementara kamu tinggal di rumahku saja? eh, selamanya juga sangat diperbolehkan.”
Era hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan makhluk yng sedang duduk di hadapannya itu. bagaimana bisa dengan mudahnya Pasha memintanya untuk timggal di rumahnya. Rumah orang tuanya pula.
“Sepertinya semakin malam otak kamu semakin error. Pulanglah! Jangan membuat kepalaku semakin pusing.” ujar Era lalu beranjak lebih dulu keluar dari dapur.
Pasha dengan cepat mencekal lengan Era. Dia ingin menjelaskan keseriusannya yang ingin dekat dengan perempuan itu. dan dia harap Era percaya dengan niat tulusnya.
“Lebih baik buang jauh-jauh niatmu itu. sampai kapanpun itu tidak akan terjadi. Sekarang pulanglah!” ucap Era tanpa berani menatap langsung mata Pasha. dia langsung menarik Pasha dan membawanya keluar rumah agar pria itu segera pulang. namun sayangnya Pasha tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau pulang sebelum mendapat jawaban pasti dari Era.
Era semakin jengkel dengan sikap Pasha. dia ingin mendorong paksa Pasha namun tiba-tiba dia ingat dengan luka yang ada di dada pria itu. akhirnya Aya mengurungkan niatnya. Dan sayangnya Pasha dengan cepat menangkap dan menahan kedua tangan Era. Kini Era yang justru didorong oleh Pasha hingga tubuhnya menempel di dinding.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Era sedikit gugup.
Era takut jika Pasha akan menciumnya lagi. jujur saja, meskipun ia suka dengan ciuman Pasha, tapi Era harus sadar dan membuang jauh pikiran itu.
“Apa kamu gugup jika aku akan menciummu lagi?” tanya Pasha sambil tersenyum smirk.
Era masih bergeming. Dia membuang tatapannya ke samping, tidak ingin melihat lebih lama mata Pasha yang selalu menatapnya dengan tajam.
“Aku akan pulang, jika kamu memberiku kesempatan.”
Era mau tidak mau menoleh ke arah Pasha. membalas tatapan tajam pria itu dan meminta penjelasan.
__ADS_1
“Apa alasan kamu mengatakan itu? masih banyak perempuan lain yang lebih dari aku. kamu juga bukan tipeku.”
“Jika aku bukan tipemu, aku akan membuat kamu menjadikan aku adalah pria atau suami idaman kamu. Lalu, alasanku ingin dekat denganmu, karena aku suka kamu. Jika aku mengatakan alasannya adalah cinta, pasti kamu tidak akan percaya.”
“Gila kamu! Cepat pulang!!” sentak Era yang tidak tahan berlama-lama berada di posisi seperti itu. tapi sayangnya tubuh Pasha terlalu berat untuk Era hempaskan begitu saja. karena sama sekali tidak mengubah posisinya.
“Aku akan pulang jika kamu memberiku kesempatan.” Pasha tetap pada pendiriannya.
“Terserah kamu!” jawab Era pasrah.
Perlahan Pasha pun melepas Era dari kungkungannya. Hatinya begitu lega setelah mendengar jawaban Era. Meskipun prosesnya nanti Pasha yakin akan semakin sulit.
“Baiklah. Itu artinya kamu memberiku kesempatan untuk mendekatimu. Sekarang juga aku akan pulang. besok aku akan ke sini lagi sebelum ke kantor.” pamit Pasha.
“Bodo amat!” Era segera menutup pintu rumahnya walau Pasha baru saja keluar dan masih di depan rumahnya.
Setelah menutup pintu, Era memegangi dadanya yang berdetak begitu cepat.
“Kenapa jantungku seperti ini? apa ini efek dari obat yang aku minum tadi?” gumam Era dan segera melangkah masuk ke kamarnya.
“Selamat beristirahat, Era! Cepat sembuh!” teriak Pasha melalui celah pintu rumah.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1