
“Seren ke mana, Ma?” tanya Rayyan saat baru saja masuk ke ruang kerja papanya.
“Oh, dia tadi bilang mau keluar sebentar. Lagian makannya sudah selesai. kamu sih ditunggu sejak tadi nggak datang-datang.” jawab Mama Feby.
Rayyan pun langsung duduk bergabung dengan mamanya. Mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh mamanya. Sedangkan Papa Chan tampak sedang bicara dengan seseorang melalui sambungan telepon, setelah selesai makan baru saja.
Usai menghabiskan makan siangnya, Rayyan langsung kembali ke ruangannya. Mengingat jam istirahat sudah habis, karena memang tadi ia sedikit terlambat gara-gara mendapat telepon dari Era yang mengatakan akan berencana datang ke negara ini untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kandungannya. Karena di rumah sakit negara ini lah Era dulu menjalani operasi pengangkatan janinnya. Jadi ia akan berkonsultasi lebih dulu pada dokter yang menanganinya terakhir, setelah itu meminta saran agar bisa melakukan terapi.
Rayyan kini sudah berada di ruangannya. Namun Serena belum ada di ruangan itu. lantas ke mana perginya Serena?
Rayyan keluar lagi berniat untuk mencari Serena. Siapa tahu wanita itu tersesat dan tidak tahu arah jalan kembali ke ruangannya. Meskipun sangat mustahil. Dan saat baru saja ia keluar, Rayyan melihat Serena baru saja keluar dari pantry sambil membawa segelas minuman. Bukan minumannya yang mencuri perhatian Rayyan terhadap Serena. Melainkan seorang pria yang baru saja keluar bersama dari pantry bersama Serena.
Serena tampak mengagguk ramah pada pria itu saat mereka berdua hendak berpisah dan masuk ke ruangan masing-masing. Tatapan Rayyan sangat tajam tertuju pada Serena yang baru menyadari keberadaannya.
“Jam istirahat sudah selesai sejak tadi. dan kamu masih santai-santai?” tanya Rayyan.
“Maaf. Aku tadi hanya membuat minu,-“
“Aku nggak butuh alasan kamu,” Rayyan masuk ke dalam ruangannya dan diikuti oleh Serena.
“Apa seperti ini kinerja kamu saat menjadi sekretaris Zafir dulu? benar-benar tidak berkompeten.” Lanjutnya dengan menatap sinis ke arah Serena.
Serena tampak menundukkan kepalanya sambil memegang erat cangkir minumnya. Kenapa Rayyan tiba-tiba marah padanya. Padahal hanya alasan sepele, membuat minuman saja.
“Maaf, lain kali aku tidak akan mengulanginya.” Serena memberanikan diri menjawab ucapan Rayyan sambil menatap pria itu.
“Mudah sekali bilang maaf. Kalau semua karyawan di perusahaan bonafit seperti perusahaanku ini mudah bilang maaf atas kesalahannya, itu sangat merugikan perusahaan.”
__ADS_1
Serena hanya diam. dijawab pun tetap salah. Entah kenapa hari ini dia merasa kalau Rayyan sangat banyak omong. Biasanya atau selama beberapa hari mengenal pria itu, Rayyan bukan tipe pria yang cerewet. Atau memang sebenarnya Rayyan adalah orang yang cerewet?
Melihat reaksi Serena hanya diam saja, Rayyan semakin kesal. “Ngerti nggak?” sentaknya dengan emosi.
“Mengerti. Maaf.”
Rayyan langsung duduk di kursinya. Tentunya masih dengan emosi yang masih menyelimuti hati. Sedangkan Serena juga kembali ke tempat duduknya, melanjutkan pekerjaannya.
*
Setelah jam makan siang Rayyan melanjutkan pekerjaannya. Setelah itu dia ada meeting dengan kliennya di luar. Namun kali ini dia tidak didampingi oleh sekretarisnya, yaitu Serena. Karena dia akan meeting berdua dengan papanya.
Saat jam pulang kerja tiba, Rayyan masih belum kembali. Itu artinya pria itu masih sibuk. Akhirnya Serena pulang sendiri.
Serena sudah keluar dari area kantor menuju halte untuk mencari taksi yang akan mengantarnya pulang. namun setelah setengah jam menunggu, tak ada satu pun taksi yang melintas di sana. Karena Serena juga tidak tahu kalau di jam seperti ini jarang sekali taksi yang melintas di sana. Walaupun di saat jam pulang kerja. Mungkin ada jadwal sendiri bagi taksi atau kendaraan umum untuk melintas di jalan itu.
Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan halte. Si pengemudi mobil itu membuka kaca jendelanya, lalu tersenyum pada Serena.
Serena berpikir sejenak. Menunggu satu jam lagi rasanya sangat lama. Akhirnya ia menerima tawaran Maxim. Menurutnya pria itu juga sangat baik.
Serena menunjukkan alamat apartemennya pada Maxim. Pria itu memang sangat ramah dan sopan. Bahkan hanya mengantar Serena sampai depan apartemen saja.
“Terima kasih banyak, Max atas tumpangannya.” Ucap Serena sebelum keluar dari mobil pria itu.
“Tidak masalah. Aku suka membantu. Ya sudah, selamat beristirahat, Seren!” jawab Maxim dengan tersenyum tipis.
Serena pun langsung masuk ke dalam. Tanpa ia sadari ternyata saat mobil Maxim tadi berhenti, Rayyan juga baru saja pulang. dia tadi sempat mampir ke kantor setelah meeting. Niatnya ingin menjemput Serena, ternyata wanita itu sudah pulang. dan saat sampai apartemen, Rayyan melihat Serena baru saja keluar dari mobil seseorang. Dia mengepalkan tangannya melihat Serena yang sudah berani menumpang pada pria asing.
__ADS_1
Serena baru saja masuk ke dalam unit apartemen Rayyan. Badannya benar-benar lelah. Setelah ini rasanya sangat enak jika berendam di air hangat. Namun saat ia sudah meraih handle pintu kamarnya, tiba-tiba mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
“Wow, hebat sekali ya? Baru saja tinggal beberapa hari di negara ini, kamu sudah cepat mendapatkan kenalan baru. Trik apa yang kamu pakai untuk menggaet pria asing?” ucap Rayyan mencibir.
“Apa maksud kamu?” tanya Serena dengan berusaha tenang dan tidak tersulut emosi.
“Nggak usah pura-pura. Mungkin memang ini sudah menjadi keahlian kamu untuk menggoda pria agar bisa takhluk pada pesona kamu.”
Serena benar-benar emosi dengan ucapan Rayyan yang sarat akan hinaan terhadap dirinya. Matanya sudah berkaca-kaca, namun sekuat mungkin ia menahannya agar tidak tumpah di hadapan Rayyan.
“Sekarang apa bedanya dengan kamu? Kamu juga pria asing yang sama sekali tidak aku kenal. Lebih baik Maxim yang berlaku sopan padaku, meskipun aku baru saja mengenalnya. Tidak seperti kamu.”
“Berani kamu bilang seperti itu padaku?” sentak Rayyan sambil mencengkeram rahang Serena.
“Kenapa? Kamu marah? Lepaskan aku sekarang juga! aku tidak sudi hidup dengan pria asing seperti kamu yang hanya bisa menghina dan merendahkanku.” Ujar Serena dan langsung mendorong tubuh Rayyan agar menjauh darinya.
“Oh, apa kamu mau menunggu kabar kehamilanku? Aku pastikan aku tidak hamil anak kamu. Karena minggu depan tamu bulananku akan datang. jadi sekarang juga lebih baik aku pergi dari sini.” lanjut Serena dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar. Menyadari atas ucapannya yang telah menyakiti hati Serena. Kemudian dia mengikuti Serena yang masuk ke dalam kamar dan mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Rayyan tidak akan membiarkan Serena pergi. Dengan cepat ia mengambil kunci kamar Serena dan mengunci wanita itu dari luar.
“Buka!! Rayyan, buka!!” teriak Serena dari dalam.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!