Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
99. Pembunuh Yang Sebenarnya


__ADS_3

Malam sudah sangat larut. Namun Era masih enggan beranjak dari tempatnya kini berada. Hembusan angin malam di rooftop apartemen tak membuat Era merasakan dingin. Hatinya sungguh sakit saat mengingat Pasha terpental cukup jauh dari sebuah mobil yang telah menabraknya. Dan yang lebih sakit lagi adalah adalah, sampai saat ini Era tidak tahu bagaimana kabar Pasha.


Memang semua ini salahnya. Dirinya lah yang meminta pria itu pergi dari hidupnya. Hingga kecelakaan itu terjadi, dan penyebab utamanya adalah dirinya. Tidak salah memang, jika Mama Pasha tadi memintanya untuk pergi dan tidak lagi menanyakan keadaan Pasha yang baru saja menjalani operasi.


Dan, rasa sakit yang Era terima itu adalah sebuah bentuk karma yang pernah dirasakan oleh Pasha dulu. selama dua tahun ini. pria itu sangat mencintainya, namun Era justru memintanya pergi, hanya karena luka mendalam yang ia alami. Dan yang terjadi kini berbalik padanya. Era sebenarnya masih mencintai Pasha, namun sayang dia tidak bisa lagi bertemu dengan pria itu.


#Flashback On


Tadi siang Era datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Pasha. tentunya setelah keadaannya lebih tenang dan siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Pasha untuk minta maaf.


Rayyan sendiri juga mengatakan kalau operasi Pasha belum juga selesai. namun saat Era baru tiba di rumah sakit, bertepatan dengan selesainya tindakan operasi itu. dari jauh ia melihat brankar Pasha didorong keluar dari ruangan operasi menuju ruangan ICU. Langkah kaki Era terhenti saat melihat wajah sendu Mama Shanum yang begitu terpukul dengan musibah yang menimpa Pasha.


Setelah Pasha masuk ke dalam ruangan ICU, Era menghampiri Mama Shanum dan Papa Nabil. untuk apa lagi kalau bukan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada putra mereka.


Papa Nabil dan Mama Nabil yang sedang duduk di kursi tunggu depan ruangan ICU tampak sangat terkejut dengan kedatangan Era. Terlebih setelah mendengar cerita dari Rayyan tentang kesalah pahaman yang terjadi antara Pasha dan Era, hingga Pasha mengalami kecelakaan.


“Om, Tante!” sapa Era dengan lirih.


Mama Shanum melihat Era dengan tatapan tak terbaca. Sedangkan Papa Nabil menganggukkan kepalanya sambil mengulas senyum tipis. Bagaimana pun juga Era pernah berjasa di perusahaannya. Meskipun musibah yang menimpa anaknya masih ada campur tangannya dengan Era.


Mama Shanum cukup tahu bagaimana keadaan Pasha selama dua tahun ini setelah ditinggal pergi oleh wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya. jelas Mama Shanum juga tahu kalau diantara Era dan Pasha hanya terjadi kesalah pahaman. Tapi kenapa Era sampai berbuat seperti itu pada putranya. Kalaupun Era sangat membenci Pasha, harusnya ia bisa bicara baik-baik.


“Om, Tante! Maafkan, Era yang telah menyebabkan Pasha seperti ini. Era akui, kalau Era sangat egois.” Ucap Era dengan menahan tangisnya.


Mama Shanum pun yang sejak tadi diam, wanita itu tampak menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan sebelum bicara dengan Era.


“Era, Tante menganggap semua ini adalah musibah. Kita semua tidak akan tahu kalau kejadannya akan seperti ini.” Mama Shanum menjeda sejenak kalimatnya. Sedangkan Era masih tertunduk, mendengarkan ucapan Mama Shanum.


“Kamu nggak usaha mengkhawatirkan King lagi. operasinya berjalan lancar. Kita hanya menunggu King sadar saja. tapi, sebelumnya Tante minta maaf kalau harus mengatakan ini pada kamu.”


Era yang sejak tadi tertunduk, kini mengangkat kepalanya dan menatap wanita paruh baya itu dengan seksama. Perasaan Era semakin tidak enak saat Mama Shanum meminta maaf padanya. Untuk apa?


“Mulai sekarang, lebih baik kalian jalani hidup masing-masing. Tante yakin Pasha sudah lega setelah berhasil menemukanmu. Meskipun niat baiknya kamu tolak.”

__ADS_1


Era menggelengkan kepalanya. Air matanya meluncur begitu saja. entah kenapa lidahnya juga kelu tidak bisa menimpali ucapan wanita untuk mengatakan kalau dirinya sebenarnya masih mencintai Pasha. namun rasanya Mama Shanum maupun Papa Nabil tidak akan percaya begitu saja. kalaupun Era mengaku masih mencintai Pasha, kenapa Pasha sampai susah payah meminta maaf dan niat baiknya untuk memperbaiki kesalahannya, justru ditolak oleh Era.


“Kami tidak membencimu, Ra. Tapi Om rasa ini memang yang terbaik untuk kalian berdua. Om yakin, setelah ini kalian akan menemukan kebahagiaan kalian sendiri-sendiri.” Sahut Papa Nabil sepemikiran dengan sang istri.


Era menangis tergugu. Mama Shanum bahkan sampai memeluk Era untuk menenangkannya. Betapa hancurnya perasaan Era saat ini. apalagi argument yang bisa ia keluarkan. Bibirnya bahkan sejak tadi tak mampu berucap apapun.


“Kamu baik-baik, Ya?” ujar Mama Shanum setelah mengurai pelukannya.


#Flashback Off.


***


“Joel, ini sudah sangat larut. Ayo turun!” ajak Ray menghampiri Era yang sejak tadi diam termenung dengan isakan lirihnya.


Rayyan sejak tadi menemani Era saat ia baru pulang dari rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Sebelumnya ia tidak tahu kalau Era sempat datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Pasha. namun sayangnya kedua orang tua Pasha memintanya pergi.


“Ini karmaku, Ray. Aku sekarang merasakan berada di posisi King. Aku memang orang yang sangat egois, Ray.” Gumam Era dengan suara yang begitu lemah.


“Jangan menyalahkan diri kamu sendiri, Joel! Kalau diantara kalian memang masih saling mencintai, aku yakin pasti ada jalan yang terbaik.” Tutur Rayyan dengan menahan sesak di dadanya.


Rayyan memaksa Era turun dari rooftop. Perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. sama halnya dengan dirinya. Namun, ia lebih mementingkan Era dan mengesampingkan perasaannya.


Dengan tubuh bergetar, Era turun dari rooftop digandeng oleh Rayyan. Setelah sampai unit apartemen Era, Rayyan meminta perempuan itu masuk kamar dan tidur. Sedangkan Rayyan memilih tidur di sofa ruang tamu. Dia tidak tega meninggalkan Era seorang diri. Apalagi sampai Era nekat berbuat sesuatu tanpa sepengetahuannya.


***


Keesokan harinya, Pasha sudah dipindah ke ruang perawatan. Setelah semalam kondisinya sempat melemah lantaran terus menanyakan Era, namun pagi ini Pasha sudah menunjukkan keadaan yang lebih baik. Walau dokter masih belum meemperbolehkan ia banyak bergerak.


Pasha saat ini sedang menikmati sarapannya dengan disuapi sang Mama. sedangkan Papa Nabil sedang duduk di sofa tak jauh dari brankar Pasha untuk mengerjakan tugas kantor.


“Sudah, Ma!” Pasha menolak suapan Mamanya yang entah sudah ke berapa kalinya nasi itu masuk ke dalam perutnya.


“Tinggal sedikit lagi, King. Nanggung loh!” bujuk Mama Shanum.

__ADS_1


“Perutku sudah kenyang.”


Mama Shanum pun tidak memaksa Pasha lagi. wanita itu pun meletakkan piringnya, lalu mengambil beberapa obat yang harus diminum oleh Pasha setelah makan.


“Ma, aku ingin bertemu dengan Era.” Ucap Pasha tiba-tiba.


Mama Shanum melirik suaminya sejenak. Seolah ingin mengatakan sesuatu pada Pasha tentang Era. Dan Papa Nabil memberi kode anggukan kepala. Lebih cepat lebih baik untuk mengatakan itu semua. Lagi pula keadaan Pasha sudah jauh lebih baik daripada kemarin.


“King, Mama yakin suatu saat nanti kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri, walau bukan bersama Era.”


“Secara tidak langsung, kecelakaan yang menimpa kamu juga gara-gara Era. Mama tidak menuduh Era sebagai pembunuh. Tapi Mama yakin kalau ini yang terbaik untuk kalian berdua.” Lanjut Mama Shanum.


Pasha tampak mengepalkan tangannya kuat. Dia tidak terima dengan ucapan Mamanya. Meskipun tidak menuduh Era sebagai pembunuh, tapi ada makna tersurat dari ucapan Mamanya itu.


“Tidak, Ma! Aku sangat mencintai Era. Era tidak salah. Era bukan pembunuh.” Ucap Pasha dengan menggelengkan kepalanya.


“Kalian berdua memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Untuk apa kamu berjuang pada wanita yang tidak mengharapkanmu lagi, King?” Mama Shanum mulai tersulut emosi.


Papa Nabil mendekat ke arah anak dan ibu yang sedang berdebat. Pria itu juga mencoba mengajak Pasha bicara dengan baik-baik. Menyetujui ucapan istrinya.


“Era nggak salah, Ma Pa! Era juga bukan pembunuh. Aku lah yang pembunuh sebenarnya.” ucapan Pasha membuat kedua orang tuanya saling melirik bingung.


“Apa maksud kamu, King?” tanya Mama Shanum.


“Pasha adalah pembunuh. Pasha yang telah menyebabkan Era kehilangan janin dalam kandungannya, janin yang merupakan darah dagingku. Sampai Era divonis dokter sulit hamil pun itu semua aku penyebabnya, Ma! Aku lah pembunuh yang sebenarnya, Ma! Tolong bawa Era ke,-“


Belum sempat melanjutkan ucapannya, Pasha tiba-tiba pingsan.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2