
Era sejak tadi memang tahu kalau Pasha terus menghubunginya. Ia sengaja tidak menerima panggilan itu, karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan Hagi.
Era juga tidak ingin berbagi masalahnya dengan pria yang masih beberapa menjadi kekasihnya itu. apalagi ia baru saja menjalin hubungan dengan Pasha. terlebih belum saling memahami sifat masing-masing. Dan Era juga adalah tipe orang yang tidak mudah menceritakan masalahnya dengan orang lain. Kecuali dengan sahabatnya sendiri, yaitu Tatia. Namun untuk saat ini Era juga belum ingin berbagi dengan siapapun.
Bosan menyendiri di kamar, akhirnya Era keluar dan hendak membuat olahan masakan untuk makan malamnya yang sudah terlewat. Namun belum juga ia membuka kulkas untuk mengambil sayur, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Akhirnya Era membukakan dulu pintu rumahnya, sekaligus untuk melihat siapakah yang datang bertamu.
Cklek
“Hei! Kamu pasti belum makan malam kan, Ra?” Hagi memberikan paper bag yang berisi makanan.
Era tidak menyangka kalau yang datang itu adalah Hagi. Bahkan pria itu bersikap biasa saja dan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
“Bukan urusan kamu, aku sudah makan atau belum.” Jawab Era dengan ketus tanpa menerima paper bag itu.
“Ok. Kalau kamu tidak mau menerima makanan ini, aku akan masuk dan temani aku makan di dalam.” Sahut Hagi dengan santai.
Era pun segera mengambil paper bag dari tangan Hagi. Setelah itu ia segera mengusir Hagi dari rumahnya.
***
Setelah melihat Era dengan seorang pria yang dia yakini adalah mantan kekasihnya, akhirnya Pasha memutuskan untuk langsung pulang, tanpa berniat keluar dari mobilnya ataupun menemui Era.
Pasha benar-benar marah. Pikirannya semakin kacau. Apa sejak tadi Era tidak menerima panggilannya karena perempuan itu sedang asyik bertemu dengan mantannya.
“Semoga apa yang aku pikirkan salah.” Gumam Pasha sambil fokus dengan kemudinya.
Sesampainya di rumah, Pasha segera masuk ke dalam kamarnya. Moodnya benar-benar tidak baik malam ini. ia sudah berpikiran kalau Era marah dengannya gara-gara bekal, ternyata justru dirinya yang dibuat marah gara-gara Era bertemu dengan mantan kekasihnya.
Pasha memutuskan untuk langsung tidur, meskipun rasa kantuk belum menghampirinya. Berulang kali membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri, tetap saja matanya tidak bisa terpejam. Hatinya benar-benar resah. Marah dengan Era, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana jika ia mengungkapkan kemarahannya pada Era, namun justru Era meminta putus. Tidak. Pasha tidak ingin berpisah dengan Era. Hubungannya masih beberapa hari terjalin. Dia tidak ingin kehilangan perempuan itu. lantas, apa yang harus Pasha lakukan?
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Era bangun kesiangan. Mungkin efek dari memikirkan masalahnya semalaman penuh, hingga membuatnya tidur larut. Dan akhirnya bangun kesiangan.
Era langsung mandi dan bersiap pergi ke kantor. makan pun ia tidak sempat. Yang ada nanti malah terlambat. Dia hanya minum air putih saja, dan untuk sarapan bisa beli di kantin.
Era membuka pintu rumahnya. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada Hagi yang standby. Pria itu tersenyum hangat padanya. Sungguh Era tidak ingin datang terlambat ke kantor sekaligus membuat moodnya hancur hanya karena Hagi.
“Kamu mau kerja? Ayo aku antar!” ajak Hagi dengan santainya.
“Minggir! Aku bisa pergi sendiri.” Tolak Era dan segera pergi setelah mengunci pintu rumahnya.
Era masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mesinnya. Dia merasa ada yang aneh saat berada di dalam mobil. Terlebih saat hendak melajukannya.
“Sialll!” Era baru sadar kalau ban mobilnya kempes. Tentu saja itu adalah ulah Hagi.
Era keluar mobil sambil menatap kesal pada Hagi. Pria itu tersenyum tipis dan mempersilakan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di belakang mobil Era.
Karena tidak punya banyak waktu lagi untuk memesan taksi atau menghubungi seseorang, akhirnya Era menerima ajakan Hagi yang akan mengantarnya pergi ke kantor. pria itu tersenyum menang. Meskipun wajah Era jutek karena ulah liciknya, namun Era tetap menerima ajakannya.
Sepanjang perjalanan Era menutup rapat mulutnya. Bahkan saat Hagi mengajaknya bicara, Era memilih bungkam.
***
Sesampainya di depan gerbang kantor, Era segera keluar dari mobil Hagi tanpa mengucapkan terima kasih. Buat apa juga bilang terima kasih, kalau kenyataannya Hagi telah menyusun rencana licik itu.
“Ra, tunggu!” panggil Hagi saat Era sudah keluar dari mobilnya.
Era hanya menghentikan langkahnya tanpa berminat untuk menoleh. Namun tiba-tiba ia merasa tangannya dipegang oleh seseorang.
“Ini buat sarapan kamu. Pasti kamu nggak sempat sarapan kan tadi?” Hagi memberikan satu box nasi pada Era. Setelah itu dia langsung pergi begitu saja. Era pun terpaksa menerimanya, dan segera masuk sebelum jam kantor mulai.
Setelah check lock, Era masuk ke ruangannya. Teman-teman Era yang sudah berangkat sejak tadi, sama-sama menatap heran pada dirinya. Tumben sekali temannya sekaligus kelapa HRD yang selalu berangkat awal, kini datang di saat jam kerja sudah dimulai. Ya, karena setelah ra Check Lock tadi, jam kerja sudah dimulai. Beruntung sekali ia masih selamat.
__ADS_1
Era tidak peduli dengan tatapan teman-temannya. Ia segera masuk ke ruangannya sendiri. Namun saat ia sudah duduk di kursi kerjanya, Era melihat sebuah tepak makan di atas mejanya. Tepak makan yang ia berikan pada Pasha kemarin. Dan itu artinya Pasha tadi sudah masuk ke ruangannya untuk mengembalikan tepak makannya.
Krruukkk….
Perut Era keroncongan. Ia ingat kalau tadi memang belum sempat sarapan. Dan sekarang jam kantor sudah dimulai. Tidak mungkin juga ia keluar beli makan. Atau memesan makan melalui aplikasi online. Karena pasti akan memakan waktu lama, dan perutnya sudah lapar saat ini juga.
“Makan ini saja. nggak apa-apa benci sama orangnya, tapi tidak dengan makanannya.” Gumam Era lalu membuka bekal makan yang diberikan oleh Hagi tadi.
Padahal makanan yang semalam diberikan oleh Hagi ia buang. Karena ia merasa bisa memasaknya sendiri. Berbeda dengan sekarang. dalam kondisi darurat.
***
Seharian ini Era bekerja dengan fokus. Dia sama sekali tidak membuka ponselnya. Daripada membuat moodnya buruk, jika ada pesan yang tidak mengenakkan. Sedangkan untuk masalahnya dengan Hagi, Era juga masih mencari jalan keluar.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Era menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Namun dia teringat kalau tadi tidak membawa mobil. Dan bisa dipastikan kalau Hagi sudah menunggunya di depan kantor. tapi Era tidak mau pulang dengan pria itu lagi.
Era keluar dari ruang kerjanya. dia menuju basement, dan berharap di sana ia mendapatkan pertolongan.
Sesampainya di basement, Era melihat mobil Pasha masih berada di sana. Bahkan mobil itu juga sudah melaju hendak keluar kantor.
“Stop!!!” Era terpaksa menghadang mobil Pasha, tanpa peduli dengan tatapan beberapa karyawan yang masih berada di sana.
Untung saja Pasha melajukan mobilnya dengan pelan. Hingga ia tidak sampai menabrak Era yang tiba-tiba menghadangnya.
“King, please antar aku pulang!” ucap Era yang sudah berdiri di samping mobil setelah Pasha membuka kaca mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!