
Beberapa hari setelah dari luar kota dan tanpa sengaja seperti melihat bayangan Era, hari-hari Pasha tampak tidak tenang. Sampai sekarang pun degupan jantungnya tidak normal. Dia merasa seperti keberadaan Era sangat dekat dengannya. Pasha sendiri tidak tahu, kenapa bisa seperti ini. walau selama dua tahun itu ia tak henti-hentinya mencari Era, bahkan sampai sekarang. namun kenapa beberapa hari ini perasaannya sangat aneh.
Belum juga hilang rasa tidak nyaman itu, Pasha yang tengah melamun tiba-tiba mendapat pesan dari seseorang. Dia langsung membaca pesan itu dengan seksama.
“Nanti malam teman saya ingin bertemu dengan anda.”
Pesan singkat itu dikirim oleh Arga. Teman Rayyan yang menjadi perantara mencari keberadaan Era. Dan setelah membaca pesan itu, ada rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Pasha seolah ada titik terang yang bisa menunjukkan di mana Era berada sekarang.
Sementara itu, sejak kedatangannya di negeri ini beberapa waktu yang lalu, Era tinggal di kediaman orang tua Rayyan. Karena Mama Rayyan dan juga Khanza lah yang memintanya. Daripada harus tinggal di hotel.
Selama tinggal di rumah orang tua Rayyan, Era sama sekali tidak pergi kemana-mana. Masih ada takut dalam hatinya jika sewaktu-waktu bertemu dengan pria masa lalunya. Walau beda kota, tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan bertemu. Padahal jika Era bisa menelaah lebih dalam, kalau saja ia dipertemukan dengan Pasha secara tidak sengaja, bukankah itu artinya mereka memang sudah ditakdirkan berjodoh. Tinggal hati mereka saja yang harus ditata lagi, khususnya Era untuk bisa mengikhlaskan rasa sakit hatinya terhadap Pasha.
**
Malam ini Era sedang berkumpul dengan keluarga Rayyan di ruang makan untuk makan malam bersama. Namun Rayyan justru tidak ikut makan malam bersama. Pria itu sudah keluar sejak tadi dengan alasan ada janji temu dengan salah satu temannya.
“Kak Joel, kapan nih nyusul Khanza?” celetuk Khanza saat mereka sedang makan malam.
“Doain saja, aku santai saja sih sebenarnya.” jawab Era dengan tenang.
Sementara kedua orang tua Khanza hanya saling lirik. Mereka berdua tidak ingin ikut menimpali obrolan dua orang perempuan di hadapannya itu.
“Kenapa nggak sama Kak Ray saja? Kak Ray juga lumayan loh dijadikan suami. ya, walau seleranya adalah perempuan yang sedikit bawel, dan sekssi.” Ucap Khanza dengan kata terakhirnya ia memelankan suaranya agar tidak didengar kedua orang tuanya.
Sedangkan Era hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak berminat menjawab pertanyaan Khanza yang menurutnya hanya candaan saja. Khanza juga begitu. Perempuan itu hanya terkikik geli dengan ucapannya sendiri.
Sejak dulu Khanza memang dekat dengan sang kakak. Termasuk dengan selera perempuan yang disukai oleh kakaknya itu. setahu Khanza, saat ia masih tinggal di luar negeri bersama keluarganya, ia tahu selera perempuan seperti apa yang disukai oleh kakaknya. Yaitu perempuan yang bawel dan penampilannya yang seksii. Hanya saja, setelah Rayyan bertemu dengan Era, Khanza melihat perubahan dari kakaknya tentang selera perempuan.
Khanza sendiri sebenarnya tidak masalah jika sang kakak nantinya berjodoh dengan Era. Hanya saja dia berpikir kalau diantara kakaknya dan Era lebih cocok menjadi sahabat saja. kalau pun kakaknya sudah jatuh cinta pada Era, entah itu cinta sesaat atau cinta sungguhan dari lubuk hati terdalam kakaknya, Khanza tidak mau ikut campur terlalu dalam.
__ADS_1
Setelah tinggal di Indonesia Khanza sudah tidak tahu lagi tentang hubungan kakaknya dan Era. Terlebih dengan sang kakak, Khanza tidak pernah lagi bertanya masalah asmara Rayyan.
Mereka berempat kembali melanjutkan makan malamnya. Sesekali membahas tentang persiapan pernikahan Khanza yang hanya menghitung hari saja. Era pun menawarkan diri, bersiap untuk membantu apapun demi kelancaran pernikahan Khanza nanti.
“Ah, Kak Joel jadi tamu special saja sudah cukup. Karena semuanya sudah diserahkan pada EO, Kak. Oh iya, nanti Kak Joel dandan yang cantik juga ya? Biar Kak Ray klepek-klepek.” Ucap Khanza lagi-lagi dengan candaannya yang menurut Era sangat absurd.
“Nggak perlu dandan yang cantik Joel juga sudah cantik natural. Ya nggak, Joel?” sahut Mama Feby ikut menimpali.
Khanza sendiri hanya memutar bola matanya. padahal niatnya meminta Era berdandan cantik itu dalam artian sedikit sekssi. Tapi sepertinya Era juga tidak nyaman jika diminta dandan seperti itu.
***
Sementara itu Rayyan saat ini sudah berada di rooftop hotel di mana ia akaan bertemu dengan Pasha. sedangkan Arga diminta untuk tetap di mobil menunggu Ray, tanpa harus ikut naik.
Beberapa saat menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Rayyan sengaja memilih tempat ini agar ia bisa bicara leluasa dengan Pasha. sedangkan Pasha sendiri bingung, kenapa Rayyan memintanya bertemu di tempat yang sepi seperti ini.
Rayyan yang sejak tadi berdiri sambil memperhatikan keramaian kota langsung menoleh ke arah Pasha, pria yang usianya lebih muda darinya.
Tunggu dulu, Rayyan baru sadar kalau Pasha usianya terpaut sekitar empat sampai lima tahun dengannya. dan Pasha pernah menjalin hubungan dengan Era yang usianya sama dengannya. jadi Era lebih tua daripada Pasha.
Bukan maksud Rayyan membicarakan perbedaaan usia. Hanya saja dia menyimpulkan sendiri kalau Era memang memiliki selera laki-laki yang lebih muda darinya. Begitu juga dengan Pasha yang suka dengan perempuan yang lebih tua darinya.
Mendadak hati Rayyan sesak. Apakah Era sampai saat ini masih mencintai Pasha. walaupun pria itu sudah menyakitinya terlalu dalam.
“Bagaimana, Tuan Rayyan?” tanya Pasha tidak sabaran, karena sejak tadi melihat Rayyan diam saja.
Rayyan pun segera menyadarkan lamunannya. Lalu ia menatap ke arah Pasha dengan sorot mata yang tidak bisa berbohong kalau pria itu masih mencintai Era.
“Kamu masih ingat dengan bayaran yang aku minta waktu itu?” tanya Rayyan.
__ADS_1
Pasha mengerutkan keningnya sambil mengingatnya. Kemudian ia ingat kalau Rayyan tidak meminta imbalan uang saat berhasil menemukan Era. Dan apakah itu artinya Rayyan berhasil menemukan Era.
“Tentu saja saya ingat. anda akan meminta apa saja setelah menemukan calon istri saya. sekarang katakan, di mana Era? Dan apa yang anda minta sebagai bayarannya?” tanya Pasha antusias.
Rayyan tersenyum getir mendengar Pasha menyebut Era sebagai calon istrinya. Sebesar apakah cinta Pasha terhadap Era. Itulah pertanyaan yang muncul di dalam benak Rayyan.
“Aku sudah menemukan orang yang kamu cari. Dan bayaran yang aku minta bukan berupa uang. Aku hanya minta kamu tinggalkan perempuan itu.”
Deg
Mata Pasha melotot tajam tidak percaya sekaligus terkejut. Apa maksud ucapan Rayyan. Dan kenapa Rayyan memintanya untuk meninggalkan Era.
“Apa maksud anda, Tuan Ray?” tanya Pasha dengan dada bergemuruh.
“Apa tidak cukup jelas ucapanku tadi? tinggalkan perempuan yang bernama Era itu. selama ini dia cukup menderita karena ulah kam,-“
Bugh
Pasha seketika melayangkan pukulan pada rahang kiri Rayyan, sampai pria itu terjungkal.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1