
Hari ini Pasha hanya mengantar Era pulang saja tanpa makan malam bersama dulu seperti biasanya. Pasha benar-benar banyak pekerjaan. Bahkan sepulang mengantar Era nanti ia akan kembali melanjutkan pekerjaannya di rumah.
“Nggak apa-apa kan, Ra kalau aku hanya mengantar kamu saja.” ucapnya saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Nggak apa-apa lah. Justru aku yang nggak enak kalau kamu sampai meluangkan waktu untuk menemani aku, tapi pekerjaan kamu terbengkalai.” Sahut Era pengertian.
“Duhh… penegertian banget sih sayangku ini.” ucap Pasha sambil mengusap lembut kepala Era.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di halaman rumah Era. Waktu juga hampir petang saat Era sampai rumahnya. Dan sorot lampu mobil Pasha menyorot menerangi teras rumah Era, di mana saat ini ada seseorang yang sedang duduk di sana.
“Siapa, Ra?” tanya Pasha yang tertuju pada seorang perempuan yang sedang duduk di kursi teras.
“Nggak tahu.” Jawab Era yang juga fokus pada perempuan itu.
Era turun dari mobil Pasha terlebih dulu. dia ingin melihat sekaligus memastikan siapakah perempuan yang datang ke rumahnya. Pasha juga akhirnya ikut turun, mengikuti Era.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Era pada perempuan itu dengan suara dingin.
Entah dari mana Nola tahu tentang tempat tinggal Era sekarang. padahal dia tidak pernah memberitahu paman dan bibinya agar mereka tidak datang menemuinya.
“Aku ke sini ingin mencari pekerjaan.” Jawabnya tak kalah dingin. Lalu tatapan Nola tertuju pada sosok pria tampan yang pernah ia jumpai beberapa waktu yang lalu.
Mendengar jawaban sepupunya, Era hanya tersenyum sinis. Sungguh Nola adalah perempuan yang sudah tidak punya lagi urat malu. Sudah melakukan kesalahan tanpa berniat untuk meminta maaf. Dan kini datang dengan maksud yang tidak jelas.
“Ya sudah kalau mau mau cari pekerjaan, kenapa harus ke sini? aku juga tidak membutuhkan pembantu.” Ucap Era tak kalah sinis.
“Ibu sedang sakit karena memikirkan hutangnya. Jadi aku disuruh Ayah mencari kamu untuk membantuku mencari pekerjaan. Nggak peka sekali sih.”
“Oh… jadi kamu juga menyalahkan aku karena Bibi sakit memikirkan hutangnya? Siapa yang hutang? Dan siapa yang makan? Kamu sebagai anaknya kemana saja selama ini, hah?” Era benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.
Sedangkan Pasha yang sejak tadi diam menyaksikan kedua saudara itu berdebat, hanya bisa menenangkan Era dengan mengusap lembut bahu kekasihnya.
__ADS_1
“Sudahlah, nggak usah diungkit lagi masa lalu itu. aku juga sudah tidak bersama Hagi lagi. kalau kamu mau dan masih cinta, kamu ambil lagi dia. Sekarang tujuanku ke sini hanya untuk meminta bantuanmu mencarikan pekerjaan.”
Era hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Nola yang tidak tahu diri. Baru kali ini juga ia bertemu dengan manusia yang sifatnya bukan seperti manusia. Padahal Paman dan Bibinya sejak dulu mendidiknya dengan baik. Bahkan memperlakukan dirinya dan Nola sama rata. Tidak ada pilih kasih sama sekali.
“Lebih baik kamu pergi sekarang dari rumahku! sampai kapanpun aku tidak akan pernah membantumu mendapatkan pekerjaan. Dan satu lagi, katakan pada Bibi agar tidak memikirkan hutang itu lagi. semuanya sudah beres.”
“Ck, sekarang kamu sombong sekali, Ra. Mentang-mentang punya gebetan kaya sekarang. Atau bisa jadi hutang itu dibayar pacar kamu yang masih bocah itu.” ucap Nola sambil melirik ke arah Pasha.
“Kalau iya, kenapa? Apa urusan kamu? Cepat pergi dari sini sekarang juga!”
“Cih, kamu juga tidak ada bedanya dengan aku. Berapa kali tempur tuh sampai dia bisa bayarin hutang yang sang,-“
Plakkkk
Nafas Era tersengal dengan amarah yang sudah di ubun-ubun. tamparan yang baru saja ia berikan pada Nola rasanya masih belum seberapa dengan apa yang diucapkan oleh perempuan itu.
Pasha segera menepis tangan Nola yang hendak membalas tamparan itu. dia juga marah dengan ucapan sepupu Era.
“Hei, Nona! Kamu mau pergi dari sini sekarang juga atau pergi dalam keadaan tidak utuh?” ucap Pasha dengan mata memerah.
“Ra, cepat buka pintu rumah kamu!” Pasha memaksa Era masuk ke rumahnya. Sedangkan Nola juga masih berusaha meraih Era. Umpatannya pun tidak berhenti dengan mengatai Era yang tidak tahu diri.
“Dasar, jal**g teriak jal**g!” umpat Nola saat Pasha sudah berhasil membawa Era masuk ke dalam rumah.
Pasha mengambil ponsel dalam saku celananya untuk menghubungi seseorang. Sementara dirinya masih tetap di dalam menenangkan Era yang masih emosi.
“Ra, sudah! Emosi jangan dilawan dengan emosi!”
“Tidak bisa! Aku harus beri dia pelajaran. Aku kasihan sama Paman dan Bibi karena ulah Nola yang sejak dulu seperti itu.”
“Bisa diam nggak sih, Ra?” suara tegas Pasha berhasil menghentikan Era yang sejak tadi terus memberontak ingin keluar menemui Nola.
__ADS_1
“Aku juga tidak terima orang aku cintai dikatai seperti itu. jadi tolong, biarkan aku yang mengatasi semuanya.”
Era pun langsung diam. meskipun amarahnya masih memenuhi hatinya. Setelah itu Pasha memintanya untuk masuk ke dalam kamar.
Tak lama kemudian dari luar tampak sebuah mobil berhenti di depan rumah Era. Tentu saja itu adalah orang suruhan Pasha yang baru saja ia hubungi untuk membawa pergi Nola.
“Hei, apa-apaan ini? lepaskan aku!” teriak Nola saat berada dalam jeratan dua orang pria berbadan kekar.
Pasha keluar dari rumah Era untuk menemui Nola. Tatapannya masih penuh amarah atas umpatan Nola yang ditujukan pada Era baru saja.
“Bukankah tadi aku sudah memberimu pilihan. Mau pergi sendiri atau pergi dalam keadaan tidak utuh? Dan sekarang kamu harus terima dengan pilihan kedua itu.”
“Berengsekk!!! Lepaskan aku! dasar bocah! Pantas saja kamu jadi kekasih Era. Karena sifat kalian berdua sama-sama busuk.”
Pasha pun langsung mencengkeram rahang Nola, sampai perempuan itu mengadu kesakitan. Dan ini pertama kalinya bagi Pasha berbuat kasar pada seorang perempuan.
“Aku jamin, apa saja yang kamu ucapkan baru saja akan berbalik pada dirimu sendiri. Dan aku pastikan kalau setelah ini kamu tidak akan bisa lagi melihat keindahan dunia. Rasakan penderitaanmu!” ujar Pasha dengan suara dinginnya.
“Cepat bawa dia pergi dari sini, dan jangan sampai bisa kembali lagi ke negara ini.” ucap Pasha pada dua anak buahnya.
Pasha masuk ke dalam rumah Era. Tidak peduli dengan teriakan Nola yang meminta tolong untuk dibebaskan.
Sesampainya di dalam rumah, Pasha melihat Era sedang duduk dengan tatapan kosong. Air matanya juga masih membasahi pipinya. Mengingat apa yang baru saja Nola katakan padanya.
“Kamu tenang ya, Ra! Jangan dipikirkan lagi. aku sudah mengatasi semuanya.” Pasha memberikan pelukan hangat untuk menenangkan hati Era yang masih kalut.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!