
Pasha tampak mengepalkan tangannya. dia benar-benar marah dengan Yeslin. Bisa-bisanya perempuan itu menyebar berita bohong tentang pertunangannya. Padahal sejak dulu ia tidak pernah suka dengan Yeslin.
“Ra, please dengarkan aku dulu. apa kamu percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Yeslin? Bukankah aku sudah pernah mengatakan kalau aku tidak pernah ada hubungan apapun dengan Yeslin.”
“Ya, aku tahu. Dan aku juga tidak percaya.” Jawab Era.
“Lalu kenapa kamu menolakku, Ra?” tanya Pasha bingung.
Era meletakkan makanannya di atas meja. Setelah itu mengajak Pasha duduk bersama di meja makan. Tentunya Era juga menyiapkan makanan untuk Pasha.
“Sha, apa kamu yakin untuk menjalani hubungan ini? kamu sadar nggak sih kalau kita ini banyak sekali perbedaaannya?” tanya Era.
“Secara stastus sosial, kita ini beda jauh. Apalagi masalah usia. Kamu masih bisa mendapatkan perempuan lain di luar sana yang seusia dengan kamu. Bukan yang lebih tua seperti aku ini.” lanjut Era.
“Ra, tolong dengerin! Cinta itu tidak memandang apapun. Termasuk status sosial. Di jaman modern seperti ini sudah tidak ada lagi perbedaan kasta atau status sosial untuk menjalin hubungan asmara. Apalagi usia. Apa kamu masih meragukan kemampuanku dan kedewasaanku kalau usiaku jauh lebih muda dari kamu? Apa perlu aku ganti KTP saja, biar nanti tahun kelahiranku aku ubah lebih tua dari kamu?”
“Mana bisa seperti itu.” Era hanya mencebikkan bibirnya.
“Lalu?”
“Nggak ada lalu-lalu an. Dah makan tuh, katanya lapar.” Jawab Era masih menggantung jawaban atas perasaan Pasha.
“Baiklah, Tante Cantik. Aku akan makan. Dan itu artinya kita sudah resmi menjadi pasangan kekasih.” Putus Pasha percaya diri.
Uhukkkk
“Pelan-pelan dong, Sayang!”
Mata Era langsung melotot tajam, sedangkan Pasha segera mengambilkan air putih untuk Era. Pasalnya Era juga terkejut saat Pasha memutuskan secara sepihak tentang status hubungannya.
Setelah minum air putih pemberian Pasha, Era kembali melanjutkan makannya tanpa banyak bicara. Terlebih membahas statusnya.
Diam-diam Era mencuri pandang pada Pasha yang sangat menikmati makanan hasil olahannya. Dia tersenyum tipis, karena itu artinya Pasha cocok dengan masakannya.
“Enak sekali, Ra masakan kamu. Boleh dong tiap hari dimasakin seperti ini.”
“Berani bayar berapa emangnya?”
__ADS_1
“Kamu minta berapa? Apa sekalian dibayar pakai mas kawin juga?” selorohnya membuat wajah Era memerah.
“Apa sih. Dah, aku mau mandi dulu. kalau kamu mau pulang silakan! Kalau nggak, ya terserah kamu.”
Era benar-benar masih canggung degan situasi saat ini. meskipun ia tidak menjawab secara langsung, dan tidak menolak ucapan Pasha, itu artinya ia sudah resmi menjadi kekasih Pasha.
“Aku nggak mau pulang. aku mau ikut mandi, boleh?” canda Pasha langsung dapat hadiah cubitan di perut pria itu.
“Ampunnn!!! Maaf! Iya deh, aku tunggu di sini saja. duh, Tante satu ini galak banget.”
“Jangan panggil aku Tante? Emang setua itu apa wajahku?” protes Era tidak terima.
“Iya, iya maaf. Dah buruan mandi sana!”
Pasha lebih memilih mengakhiri perdebatan itu, daripada melihat kekasih barunya itu negluarin tanduk. Dia juga tidak ingin momen pertama jadiannya diwarnai dengan perdebatan tidak penting.
Kini Pasha duduk di ruang tamu sambil menunggu Era mandi. dia memainkan gadgetnya. Ada beberapa pesan masuk, yang salah satunya dari sang kakak, Queen. Pasha memang belum menjawab rasa penasaran kakaknya semalam. Apalagi pagi-pagi sekali tadi ia sudah pergi. Namun Pasha juga tidak membalas pesan kakaknya yang menanyakan ada hubungan apa antara dirinya dan Era. Mungkin nanti saja saat sudah di rumah, Pasha akan menjawabnya.
Cklek
Bau harum parfum milik Era menguar begitu saja menusuk indra penciuman Pasha. perempuan itu keluar dari kamar dalam keadaan yang sudah fresh, tentunya juga cantik. Bahkan saat Pasha melihat ke arah Era, matanya sampai tidak berkedip. Padahal Era hanya memakai baju santai saja.
“Aku mau beli ponsel.” Jawab Era sembari bersiap-siap mengambil kunci mobil sekaligus kunci rumahnya.
“Oh, ya sudah pakai mobilku saja. sekalian kita jalan-jalan.” Pasha pun bergegas keluar rumah.
Era terdiam sejenak. Ia bingung sendiri. Apa iya ia akan jalan dengan Pasha. rasanya Era masih sangat canggung. Bagaimana nanti dengan tanggapan orang-orang yang melihatnya. Apalagi sudah lama menjomblo, membuat perempuan hampir tiga puluh tahu itu seakan lupa dulu bagaimana rasanya jalan dengan kekasihnya.
“Kenapa masih diam di situ? Jadi, nggak?” Tanya Pasha kembali masuk ke dalam rumah saat menunggu Era tak kunjung keluar.
“Ehm, bagaimana kalau pakai mobil sendiri-sendiri saja?”
“Astaga Era!!! Mana bisa seperti itu. dimana romantisnya coba, di hari pertama kali ngedate, malah pakai mobil sendiri-sendiri.” Pasha sungguh gemas dengan sikap Era kali ini. dan ini pertama kalinya ia gemas dengan perempuan yang seringkali menyebalkan itu.
Tanpa banya bicara dan menunggu lama lagi, Pasha akhirnya menarik tangan Era dan membawanya masuk kedalam mobilnya.
“Kenapa? Apa kamu mau duduk di belakang, dengan alasan nggak nyaman duduk di depan?” tanya Pasha setelah mempersilakan Era menduduki jog depan.
__ADS_1
Era hanya mencebikkan bibirnya saja. mana mungkin juga ngedate, tapi duduknya nggak berdampingan. Memangnya Pasha sopirnya apa.
“Ya sudah cepat jalan!”
“Siap my princess!” jawab Pasha dan segera melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan.
**
Dalam perjalanan, Pasha memutar musik untuk penghilang rasa canggung. Meskipun sejak tadi ia terlihat biasa saja, namun jujur saja dia juga merasa gugup saat berdekatan dengan perempuan yang baru saja resmi menjadi kekasihnya itu.
Sedangkan Era yang awalnya canggung, perlahan ia mulai lebih rileks. Apalagi Pasha memutar lagu-lagu yang cukup membuatnya enjoy.
“Kamu suka lagu-lagu Coldplay?” tanya Pasha saat samar-samar ia mendengar Era bergumam ikut menyanyikan lagu tersebut.
“Ya kalau dibilang suka, ya suka sih. Lagunya enak-enak dan easy-listening.”
Apalagi lagu yang saat ini sedang diputar adalah lagu yang berjudul “Always In My Head”. Membuat keduanya kompak bernyanyi bersama. Namun sedetik kemudian, mereka tertawa bersama.
“Cocok banget ya lagunya sama penggambaran kita berdua?” tanya Pasha sambil mengerlingkan matanya.
“Ah lebay banget kamu.” Era menjawabnya dengan gelengan kepala.
Pasha hanya tersenyum senang. biarpun Era mengatakan kalau dirinya lebay, tapi itu tidak masalah. Karena memang suasana hatinya saat ini sedang bahagia. Dan lagu yang didengar saat ini juga sebagai harapan terbesarnya kalau sampai kapanpun Era akan selalu di hatinya.
Tak lama kemudian mobil Pasha sudah memasuki basement mall. Mereka berdua segera keluar dari mobil. Dan refleks Pasha menggandeng tangan Era.
“Jangan gini dong, Sha!” dengan pelan Era melepas tautan tangannya dari Pasha. dan wajah Pasha sedikit kecewa.
“Sorry, aku belum terbiasa.” Sesal Era.
“It’s Ok. Ya sudah, ayo!”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!