
Jika semua karyawan Pasha tengah seru-seruan di aula menikmati acara fun game, berbeda dengan pasangan Era dan Pasha yang kini sedang nongkrong di sebuah kedai tak jauh dari Villa mereka.
Ya, tadi saat jalan-jalan keliling halaman, Era melihat ada sebuah kedai yang cukup menarik. Akhirnya ia mengajak Pasha datang ke sana. Apalagi di sana ada berbagai makanan dan minuman yang sangat asing bagi Era, dia pun memesan banyak sekali menu yang dia inginkan. Mungkin maksud hati Era mumpung ada si bos yang mentraktirnya. Namun berbeda dengan tanggapan Pasha.
Pasha merasa aneh saja dengan sikap Era. Biasanya perempuan itu tidak terlalu suka makan. Ya makan sewajarnya saja. namun kali ini porsi makan Era terlihat sangat banyak. Atau karena hawa daerah puncak yang dingin ini membuat perut Era kelaparan.
“Kelaparan atau lagi masa pertumbuhan sih kamu, Ra?” tanya Pasha saat Era sedang menyuap roti bakar ke mulutnya. Padahal roti bakar itu bukan milik Era, melainkan milik Pasha. berhubung Era masih belum kenyang, akhirnya ia meminta milik Pasha.
“Kamu ini banyak tanya. Apa karena nggak mau bayarin semua pesananku ini?” jawab Era dengan pertanyaan. Tak lupa mulutnya masih penuh dengan makanan.
“Nggak gitu sih, Ra maksudku. Mau kamu pesan semua makanan di sini, aku siap membayarnya kok. Aneh saja karena tidak biasanya kamu makan sebanyak ini.”
Era tidak mempedulikan ucapan Pasha lagi. perutnya masih terus protes minta diisi. Jadi ia fokus dengan makanannya. Sebenarnya Era juga heran dengan dirinya sendiri. Selain emosinya tidak terkontrol, porsi makannya juga semakin banyak akhir-akhir ini.
***
Cukup lama Era berdua dengan Pasha di kedai itu. mereka pun memutuskan kembali ke Villa. Karena acara fun game tadi juga kemungkinan sudah selesai. setelah itu malamnya nanti akan diadakan acara barbeque.
Malam pun tiba. Semua karyawan berkumpul di halaman depan Villa untuk persiapan acara Barbeque. Era juga ikut berkumpul di sana. Apalagi urusan makanan, dia sangat antusias sekali.
Karena semua karyawan berkumpul jadi satu, Pasha pun juga ikut di sana. Dia juga mencoba mengakrabkan diri dengan karyawannya yang selama ini jarang berinteraksi dengannya. Pasha juga terjun langsung ikut memanggang beberapa daging yang sudah disiapkan. Tentunya di sana juga karena ada Era.
Dengan menunjukkan interaksi kedekatannya bersama Era, sama artinya dengan Pasha mempertegas hubungannya dengan Era. Sontak saja hal itu membuat para kaum hawa langsung patah hati.
Banyak bisik-bisik dari mereka yang membicarakan Era dan Pasha. bagi mereka tidak masalah. Apalagi Era juga cantik, dan Pasha tampan. Meskipun mereka terpaut usia, di mana Era lebih tua dari Pasha. namun mereka sama sekali tidak menjulidinya. Namanya juga cinta. Bisa datang kapan saja dan pada siapa saja, tanpa memandang perbedaan usia.
Yeslin yang berada di sana sejak tadi tampak geram. Hatinya sangat panas melihat kedekatan sepasang kekasih itu. padahal Yeslin yang lebih dulu mengenal Pasha. tapi kenapa pria itu justru memilih perempuan lain, yang terhitung masih sebentar bertemu.
__ADS_1
Akhirnya Yeslin memilih pergi dari acara itu daripada hatinya panas terbakar api cemburu dengan melihat pemandangan tak sedap itu.
Malam semakin larut dan acara semakin seru. Kapan lagi bisa menikmati waktu kebersamaan seperti ini dengan teman kerja. Bagi yang sudah berumah tangga, mereka mungkin bisa melepas sejenak penat mereka dengan bekumpul bersama teman-teman seperti ini. asal tidak terjerumus dalam hal negative setelah acara gathering ini.
Era sudah sangat ngantuk. Namun sayangnya Pasha masih minta ditemani. Tanpa sadar akhirnya ia tertidur di pangkuan Pasha yang kebetulan saat ini mereka sedang duduk beralaskan tikar di halaman Villa.
Pasha tersenyum tipis melihat pujaan hatinya terlelap dengan bantalan pahanya. Hanya usapan lembut di kepala Era yang bisa Pasha lakukan.
Saat menatap wajah Era yang sedang terlelap, ada rasa tidak sabar dalam diri Pasha untuk segera memiliki perempuan itu. perempuan yang telah berhasil mencuri hatinya. Sekaligus perempuan yang sudah membuat harinya berwarna.
Karena udara malam semakin dingin, perlahan Pasha membangunkan Era agar masuk ke dalam kamar. karena tidak mungkin jika ia menggendong Era, sementara masih banyak orang yang sedang begadang di sana.
“Jam berapa ini? aku tidur dari tadi ya?” tanya Era sambil mengumpulkan nyawanya.
“Sudah larut malam ini, Ra. Kamu masuk ke kamar ya? Besok pagi kita jogging. Aku tunggu.”
***
Seperti yang dijanjikan Pasha kemarin malam, pagi ini acaranya hanya santai saja. Era yang sudah bangun dari tadi segera bersiap untuk jogging bersama Pasha. beberapa temannya yang lain juga sudah jalan sendiri-sendiri.
Era sudah keluar dari Villa untuk menemui Pasha yang sepertinya menunggu di bawah. Namun sayangnya pria itu tidak ada di sana. Era juga lupa tidak membawa ponsel.
“Kemana sih tuh bocah?” gumam Era sambil melihat kanan kiri.
Kebetulan ada teman Era yang lewat, dia bertanya barangkali bertemu Pasha, ternyata tidak tahu. Akhirnya Era memilih jalan sendiri. Mungkin saja nanti ia akan bertemu dengan Pasha di sana.
Era memilih jalan ke arah sebuah air terjun. Di sana ada beberapa tanda jalan menuju air terjun itu. dengan langkah yakin, Era mengikuti petunjuk jalan tersebut. Kalaupun tersesat, ia bisa bertanya beberapa warga yang tinggal di sekitar sana.
__ADS_1
“Rasain kamu! Aku jamin kamu tidak akan kembali ke Villa ini selamanya.” Gumam Yeslin dengan tersenyum devil saat melihat Era mengikuti petunjuk jalan yang sudah ia pindahkan posisinya.
***
Waktu sudah sore. Semua karyawan sedang berkemas karena sebentar lagi mereka akan pulang. namun ada salah satu karyawati yang sangat panik saat teman satu kamarnya belum kembali sampai saat ini. siapa lagi kalau bukan Era.
Semua orang juga ikut panik atas hilangnya Era. Salah satu karyawati pun sudah ada yang datang ke Villa karyawan laki-laki untuk dimintai tolong mencari Era.
mereka semua ikut panik dan langsung menyebar untuk mencari Era. Sedangkan Yeslin hanya diam saja seperti tidak peduli dengan hilangnya Era.
Sudah satu jam lebih Era tidak juga ditemukan. Teman-teman divisi Era semakin takut jika terjadi sesuatu dengan Era. Apalagi tadi ada yang melihat Era sedang menuju ke sebuah air terjun dengan mengandalkan petunjuk jalan yang ternyata salah.
“Bukankah itu Juleha?” pekik salah satu teman karyawan yang dari jauh melihat Era sedang berjalan dengan kondisi tubuh basah kuyup. Dan di sampingnya ada Pasha yang setia memeluk perempuan itu.
Mereka semua juga baru sadar kalau sejak tadi tidak melihat keberadaan Pasha. mungkin saja Era tidak hilang, justru sedang berduaan dengan Era. Namun sayangnya saat Era sudah tiba di Villa, terlihat jelas wajah pucat perempuan itu dengan tubuh bergetar kedinginan.
“Akhirnya kamu kembali juga, Jul!” ucap salah satu teman Era dan langsung membantunya untuk berganti pakaian.
Semantara Pasha yang ikut masuk ke dalam Villa karyawati, kini tatapannya sangat tajam tertuju pada sosok perempuan yang dicurigai telah membuat Era hampir celaka.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!