Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
S2 (126) Tidak Rela


__ADS_3

Perjalanan bisnis Rayyan ke luar kota sebenarnya hanya dua hari saja. namun ia mengatakan pada Serena, juga Papanya selama seminggu. Selebihnya, Rayyan memilih untuk tinggal di hotel.


Rayyan sengaja melakukan itu karena ia ingin membiasakan dirinya sebelum Serena pergi. Sekaligus memberikan kebebasan untuk Serena untuk melakukan apa saja yang wanita itu inginkan.


Rayyan bukanlah pria yang awam mengenai masalah perasaan. Meskipun dia tidak ingin terburu-buru mengatakan kalau dirinya sudah jatuh hati pada Serena, Rayyan juga tidak ingin merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Jadi dia berusaha terlihat biasa saja.


*


Hari ini Rayyan langsung berangkat ke kantor setelah beberapa hari tinggal di hotel. Sebenarnya ia ingin pulang ke apartemen dulu, tapi sayangnya Era dan Pasha mengatakan ingin bertemu dengannya dan sudah tiba lebih dulu di kantor.


Era dan Pasha baru datang tadi malam di negara ini, karena sudah memiliki janji untuk bertemu dengan dokter kandungan yang menangangi Era dulu. namun saat Era mengatakan ingin mampir dulu bertemu dengan Rayyan, Rayyan meminta mereka untuk datang langsung ke kantor saja daripada ke apartemen.


Mungkin Era sudah dikenal beberapa karyawan di perusahaan Rayyan. Jadi saat dia baru datang bersama suaminya, jadi ia langsung dipersilakan langsung masuk ke ruangan CEO.


Era bahkan langsung duduk di kursi milik Rayyan, karena ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di kursi seorang CEO. Sedangkan Pasha melirik ke salah satu meja kosong yang tak lain adalah meja sekretaris, yang tak lain adalah tempat Serena.


“Sayang, kamu lihat meja sekretaris itu? Ray memberikan Serena tempat yang satu ruangan dengannya.” ucap Pasha.


“Biar saja. aku juga tidak tahu apa alasan Rayyan meletakkan meja Serena satu ruangan dengannya.”


“Bagaimana kalau dia berusaha menggoda Rayyan?”


Cklek


Belum sempat mereka melanjutkan percakapannya, tiba-tiba si pemilik ruangan sudah datang. Rayyan yang melihat sahabatnya duduk di kursinya hanya berdecak sebal. Sedangkan Era hanya tergelak melihat sikap Rayyan.


“Apa kabar kalian berdua?” tanya Rayyan pada Pasha.


“Baik. Sorry, kita lebih dulu datang. dan maafkan tingkah istriku yang ingin mencicipi kursi CEO baru.” Jawab Pasha, dengan tatapan tertuju pada Era.


“Biarkan saja. nanti malah dia nangis kalau nggak diijinin duduk di sana. Di sini nggak ada yang jualan permen.” Kelakar Rayyan.


“Sialann kamu, Ray!” umpat Era dan kini sudah beranjak dari kursi kerja Rayyan.


Rayyan sendiri langsung duduk di kursinya. Sedangkan Era duduk di atas meja Rayyan, seperti sengaja membuat pria itu kesal.


Rayyan menatap Pasha dengan menggelengkan kepalanya, karena melihat tingkah Era yang menurutnya sangat konyol.


“Enak juga duduk di meja ini. kapan lagi bisa seperti ini.” ujar Era.


“Ya..ya.. suka-suka kamu lah, Joel. Mumpung masih di sini.” sahut Rayyan.

__ADS_1


Tak lama kemudian ponsel Pasha berdering. Sepertinya ada panggilan penting dari kantor. akhirnya dia meminta ijin untuk menerima telepon itu, dan langsung menuju balkon yang tak jauh dari Rayyan dan Era.


Sementara Era yang masih pada posisinya, dia ngobrol santai dengan Rayyan. Terutama menanyakan tentang Serena.


Era tidak ingin menceritakan tentang kejelekan Serena yang pernah menggoda suaminya dulu. bagi Era, Rayyan sudah cukup pandai untuk menilai seseorang.


“Selama ini dia bekerja dengan baik kok, Joel. Memangnya kenapa?”


“Nggak apa-apa sih. Apa dia masih single? Ya, siapa tahu saja dia berani menggoda atasannya, kan sama-sama single tuh.” Tanya Era.


Rayyan hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Era. Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba dia melihat pintu ruangannya sudah terbuka. Ternyata orang yang sedang dibicarakan sudah datang. dan tak lama kemudian Rayyan melihat tatapan mata Serena yang sangat sayu, hingga akhirnya,


Brukkk


“Seren!!”


Rayyan berlari mendekati Serena yang sudah tergeletak di lantai. Era juga sangat terkejut melihatnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Rayyan segera membawa Serena ke rumah sakit. Sedangkan Era dan Pasha juga ikut, karena mereka juga akan bertemu dengan dokter untuk membahas tentang terapinya.


Rayyan kini sudah berada di dalam mobil. Dia duduk memangku kepala Serena. Raut wajahnya terlihat sangat cemas saat melihat Serena yang sangat pucat. Entah apa yang terjadi selama seminggu ini dengan Serena. Karena Rayyan tidak tahu sama sekali.


Setibanya di rumah sakit, Serena langsung mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan. Rayyan menunggu di luar dengan berabagai macam pikiran buruk berkecamuk di benaknya.


Rayyan tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkin inilah saatnya ia memberitahu yang sebenarnya pada Era tentang hubungannya dengan Serena. Walaupun hubungan itu sebentar lagi akan berakhir.


“Serena istriku.”


“Apa???” ucap Era dan Pasha bersamaan.


“Ceritanya panjang. Nanti aku akan menceritakan semuanya pada kalian. lebih baik kalian bertemu dengan dokter kandungan dulu. semoga sukses usaha kalian.” ucap Rayyan beserta doa tulus untuk pasangan Era dan Pasha.


***


Saat ini Serena sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah beberapa saat yang lalu menjalani pemeriksaan, kini keadaan Serena sudah lebih baik. Namun sayangnya, obat yang diberikan dokter masih membuat wanita dua puluh tujuh tahun itu tertidur pulas.


Rayyan sedang duduk di samping brankar Serena. Tangannya mengusap lembut lengan Serena. Bahkan ingin sekali terulur pada perut rata Serena, di mana di sana telah bersemayam janin, calon buah hatinya.


Ya, Serena sedang hamil. Usia kandungannya yang masih satu minggu, ditambah lagi dengan perubahan cuaca yang membuat wanita itu sulit beradaptasi, membuat kondisi tubuh Serena sangat lemah.


Mendengar kabar kehamilan Serena, ada secuil harapan dalam dirinya untuk mempertahankan wanita itu. namun, dia juga cemas. Bagaimana jika nanti Serena mengetahui kehamilannya? Mengingat sebelumnya Serena sudah sangat yakin ingin pergi darinya, karena dia bisa memastikan tidak akan hamil.


Tak lama kemudian Rayyan membaca pergerakan tangan Serena. Wanita itu sudah mulai sadar dari pingsan sekaligus tidurnya.

__ADS_1


Hal pertama yang dilihat Serena saat baru saja membuka matanya adalah Rayyan. Pria yang sudah seminggu ini absen dari pandangannya dan sempat membuat hatinya hampa.


“Kamu sudah bangun? Apa yang kamu rasakan?” tanya Rayyan dengan khawatir.


“Aku baik-baik saja. aku tidak perlu dirawat di rumah sakit.” Jawab Serena dan langsung mencoba bangun.


“Jangan bangun dulu! biar dokter memeriksa keadaanmu.”


“Tidak perlu. Aku sudah sehat. Aku ingin pulang.”


“Iya, nanti kita pulang. sekarang kamu istirahat dulu. tunggu dokter memeriksa keadaan kamu.”


“Tidak. Aku tidak ingin pulang bersama kamu. Aku akan pulang ke Indonesia.”


Rayyan menggelengkan kepalanya lemah. Melihat keinginan keras Serena yang ingin pulang, sekaligus ingin berpisah darinya, Rayyan sangat yakin kalau Serena pasti tidak akan terima tentang kabar kehamilannya.


“Kamu tidak boleh pulang. setidaknya tunggu sampai sembilan bulan ke depan, Seren!”


“Kenapa?” tanya Serena dengan gelisah seolah hal buruk sedang menimpa dirinya.


“Karena di sini, ada anakku. Kamu sedang mengandung anakku, Seren.”


Air mata Serena luruh begitu saja setelah mendengar kenyataan yang sama sekali tidak ia inginkan. Padahal ia sudah sangat yakin kalau tidak akan hamil, dan sebentar lagi terbebas dari Rayyan.


“Kamu marah dengan kabar kehamilan ini?” tanya Rayyan, namun tidak mendapat jawaban dari Serena.


“Kumohon, Seren! Bertahanlah selama sembilan bulan ke depan. Setelah itu aku janji, akan membebaskan kamu. Aku akan memberikan kompensasi apapun yang kamu inginkan. Tapi, jangan pernah sekalipun untuk berniat pergi membawa anakku.”


Serena langsung memunggungi Rayyan. Air matanya tidak berhenti mengalir. Memang sebelumnya dia tidak ingin mengandung anak Rayyan, tapi entah kenapa saat Rayyan memintanya untuk menjaga janin dalam kandungannya, ada semacam rasa tidak rela jika anak itu nanti akan menjadi milik Rayyan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2