
Kini mereka berdua sudah sampai outlet ponsel. Era langsung mencari ponsel yang sesuai dengan keinginannya, juga pas di kantongnya.
“Ada yang bisa dibantu, Kak? Mau yang merk apa?” tanya salah satu karyawan toko tersebut.
“Sebentar ya, Mbak. Mau lihat dulu.” jawab Era dengan tatapan fokus ke beberapa ponsel yang keluaran terbaru.
Saat Era sedang fokus memilih ponsel, beberapa karyawan perempuan tampak berbisik-bisik sambil melihat ketampanan Pasha. mereka bertanya-tanya, siapakah lelaki tampan yang sedang menemani perempuan itu. apa mungkin adiknya. Namun rasanya tidak mungkin. Karena terlihat jelas Pasha juga ikut memberikan saran pada Era tentang pilihan ponselnya. Dan kalaupun mereka kakak beradik, tidak mungkin adiknya seperhatian itu pada kakaknya.
“Jadi yang mana, Kak? Sepertinya pilihan adiknya juga sangat bagus, kok. Itu ponsel keluaran terbaru dengan fitur lengkap.” Ujar salah satu karyawati.
“Aku bukan adiknya. Aku kekasihnya.” Sahut Pasha yang tidak terima dikatai adik Era.
“Oh, maaf!” seketika karyawati itu dan beberapa temannya yang mendengar langsung terdiam. Sedangkan Era hanya menahan senyumnya saat melihat Pasha dianggap seperti adiknya.
“Yang ini saja deh, Mbak.” Pungkas Era setelah menemukan ponsel yang pas dengan keinginannya.
Era diminta untuk menunggu beberapa saat sebelum melakukan pembayaran. Setelah ponsel itu dicek, lalu diberikan pada Era. Dan Pasha pun langsung mengeluarkan kartu saktinya.
“Terima kasih!” ucap Era sambil mengambil kartu milik Pasha dan mengganti dengan miliknya sendiri.
Pasha hanya menghembuskan nafasnya pelan. Dia tidak ingin memaksa Era, terlebih berdebat di tempat umum seperti sekarang ini. dan setelah Era menyelesaikan pembayaran ponselnya, mereka berdua meninggalkan outlet ponsel tersebut.
“Nih, aku kembalikan.” Ucap Era sambil memberikan black card Pasha.
“Kenapa kamu menolaknya sih, Ra?”
“Kenapa? Kamu kira aku nggak punya uang apa? Kamu kira gajiku sebagai Kepala HRD kecil, hingga tidak mampu membeli ponsel?”
“Bukan begitu maksudku, Ra! Aku hanya ingin membelikan kekasihku, apa salahnya sih?”
“No! aku nggak setuju dengan pemikiran kamu. Kita hanya kekasih, dan aku,-“
“Ya sudah bagaimana kalau kita resmikan hubungan ini sebagai suami istri?” sahut Pasha dengan mengerlingkan matanya.
Arghhh
Era langsung meninggalkan Pasha begitu saja setelah menginjak sepatu pria itu. bahkan dia juga tidak peduli dengan rengekan Pasha. karena Era tidak menginjak dengan keras.
“Ra! Tunggu!”
__ADS_1
Pasha mengejar Era yang kini sedang berjalan menuju foodcourt. Setelah itu mereka berdua sampai bersamaan, dan langsung mencari tempat duduk yang nyaman.
Era memesan makanan dan minuman. Namun sayangnya Pasha tidak ingin makan, jadi hanya minum saja.
“Kamu diet?” tanya Era ingin tahu kenapa pria itu tidak memesan makanan.
“Kan baru saja makan di rumah kamu. Masak mau makan lagi. nanti kalau aku gendut gimana?”
“Kamu nyindir aku?” tanya Era dengan kesal. Pasalnya kalimat yang diucapkan oleh Pasha baru saja cocoknya diucapkan oleh kebanyakan perempuan yang sangat menjaga sekali pola makannya. Jadi kesannya Pasha seperti menyindirnya.
“Nggak. Bukan begitu.. haduhh salah ngomong deh.” Gerutu Pasha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lain kali dia akan lebih berhati-hati lagi kalau bicara dengan Era.
Melihat Pasha tidak bisa menjawab pertanyaannya, Era tidak mempedulikannya lagi. dia menikmati minumannya yang baru datang.
**
Seharian ini, di hari pertama kalinya mereka jadian, Pasha mengajak Era jalan-jalan. Meskipun Era sempat menolak, namun dengan sedikit paksaan dari Pasha, akhirnya dia mau. Karena Pasha mengajaknya jalan ke tempat yang cukup sejuk dan nyaman. Yaitu di daerah puncak, yang tak jauh dari kota.
Pasha tahu kalau Era bukanlah tipe perempuan yang menyukai dengan kemewahan. Termasuk dengan cara menghabiskan waktu luangnya. Seperti sekarang ini. Pasha menghentikan mobilnya di sebuah café yang berada di tepi jalan dan bisa langsung melihat view pegunungan dengan tumbuhan hijaunya. Ditambah dengan tempat yang menunjang yang memang disediakan untuk pasangan.
Era tampak berdiri sambil menghirup udara banyak-banyak yang cukup membuat hatinya adem. Rasanya memang sudah lama ia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini. karena kesehariannya disibukkan dengan rutinitas kantor. kalaupun libur, dia lebih memilih malas-malasan di rumah saja.
“Terima kasih ya. Aku sudah lama tidak pergi ke tempat ini.”
“Kalau kamu suka, setiap weekend kita bisa pergi ke sini lagi.”
“Ya lain kali lagi saja. jangan sering-sering.”
Pasha mendekati Era. Dia memegang bahu Era, hingga perempuan itu menoleh ke arahnya. Tangan Pasha terulur menyelipkan rambut Era ke telinganya.
“Cantik.” Ucap Pasha dengan tatapan tak lepas dari mata Era.
“Ya. Karena aku perempuan. Sudah, tuh minuman kamu nanti keburu dingin.”
Pasha hanya melongo mendnegar jawaban Era. Padahal niatnya ingin romantis pada kekasihnya itu. tapi sayangnya jawaban Era benar-benar di luar ekspektasinya.
Sedangkan Era sendiri sebenarnya berbunga-bunga hatinya saat mendapat pujian dari Pasha. namun sayangnya rasa gugupnya lebih mendominasi. Akhirnya ia memilih menghindar.
Bagi Pasha tidak masalah jika tanggap Era seperti itu saat ia memujinya. Dengan begitu ia bisa tahu bagaimana sikap dan sifat Era yang sesungguhnya. bahkan menurutnya Era itu unik. Berbeda dengan kebanyakan perempuan.
__ADS_1
Cukup lama mereka menikmati kebersamaan itu di lereng pegunungan yang sangat sejuk. seiring waktu, mereka berdua cukup asyik saat sedang ngobrol. Bukan lagi seperti Tom and Jerry. Dan hal itu mampu membuat hati keduanya berbeda.
Era sungguh tidak menyangka kalau sikap Pasha yang bijaksana saat di kantor, pria itu juga sangat menyenangkan jika diajak ngobrol. Kini Era tahu kalau perbedaan usia bukanlah patokan dari sebuah hubungan.
Benar usia Pasha memang lebih muda darinya. Namun dengan kedekatan yang baru beberapa jam terjalin ini, Era bisa menilai kalau Pasha adalah sosok pria yang baik, pengertian, dan lebih istimewanya lagi selalu mengalah.
Begitu juga dengan Pasha. dia semakin terpesona dengan kepribadian Era yang menurutnya sebagai perempuan yang tangguh, mandiri, dan juga menyenangkan.
***
Waktu hampir petang. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang. apalagi besok mereka sudah kembali ke dunia pekerjaan.
“Sha, jangan kasih tahu siapa-siapa ya tentang hubungan kita? Termasuk orang kantor.” ucap Era yang memang merasa tidak enak jika secepat itu hubungannya dengan Pasha diketahui banyak orang.
“Ok. Kamu tenang saja. nanti kalau sudah saatnya mereka tahu, kamu bilang aku saja.” jawab Pasha dengan tenang.
Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba. Pasha menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Era. Namun Era melarang pria itu ikut turun. Takutnya nanti Pasha malah nggak pulang-pulang.
“Yahh… padahal aku ingin bermalam di sini loh.” Canda Pasha.
“Ya sudah, terima kasih banyak ya atas waktunya seharian ini. aku pulang dulu.” Pungkas Era dan segera membuka pintu mobil.
“Kok nggak bisa sih?” keluh Era saat tidak berhasil membuka pintu mobil.
Namun saat Era menoleh ke arah Pasha agar pria itu membukakan pintu, ternyata bibir Era malah menyentuh sesuatu yang kenyal dan hangat. Sepertinya Pasha memang sengaja melakukan itu. Era sendiri juga masih terkejut dan hanya diam saja saat bibir Pasha menempel di bibirnya.
Cup
“Selamat beristirahat!” ucap Pasha setelah berhasil menyapukan lidahnya sejenak pada bibir Era.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1