Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
64. Semakin Besar


__ADS_3

Era tampak berpikir sejenak. Rasanya tidak ada salahnya juga ajakan Pasha untuk pergi jalan-jalan. Selain untuk refreshing sejenak dari masalahnya dengan Hagi, ia juga bisa menghindari pria itu yang kemungkinan bisa muncul kapan saja dalam waktu dekat ini.


“Boleh deh kalau kamu maksa.” Jawab Era dengan pura-pura kesal.


“Nah gitu dong! Awalnya itu memang harus dipaksain, Ra. Kalau sudah enak dan nyaman, baru terbiasa. Kamu pastinya akan minta sendiri tanpa harus dirayu dulu.” ucap Pasha sambil mengu lum senyum.


“Apaan nih maksudnya?” tanya Era sambil memicingkan matanya.


“Jalan, Ra! Jalan-jalan. Kan tadi kita lagi bahas jalan-jalan. Memangnya apa yang kamu pikirkan? Jangan-jangan kamu yang berpikiran mesyuum ya, Ra? Hayo ngaku aja!”


Era sungguh malu sekali karena merasa terjebak dengan omongannya sendiri. Akhirnya Era beranjak lebih dulu dengan alasan mencuci tangannya, demi menghindari pertanyaan Pasha yang seolah menyudutkannya.


“Ra, mau kemana sih? Jangan menghindar deh, Ra! Aku tahu kemana arah pikiran kamu tadi?” Pasha masih terus menggoda Era. Bahkan ia sekarang juga mengikuti Era yang pergi ke dapur untuk mencuci tangannya.


“Benar kan apa yang aku tanyakan tadi?” Pasha masih belum putus asa menggoda kekasihnya.


“Bisa diam nggak? Ngomong nggak jelas lagi, aku tumpahin muka kamu pakai sabun cuci piring ini.” ancam Era mode galak.


“Ampun Tante Era! Nggak lagi deh ngomong kayak tadi.” Akhirnya Pasha menyerah juga, karena tidak tega membuat Era malu di hadapannya.


Kemudian mereka berdua kembali ke ruang tamu. Pasha masih enggan untuk pulang. dia masih betah berlama-lama dengan Era. Apalagi setelah mendapat tamparan dari Yeslin, tentu hati Era masihtidak baik-baik saja sampai sekarang. walau perempuan itu terlihat biasa saja. dan lagi, Pasha juga ingin menghibur kekasihnya dari masalah yang sedang terjadi dengan sang mantan yang mencoba menjeratnya.


“Ra!” panggil Pasha saat Era sedang sibuk dengan gadgetnya.


“Hem!” sahut Era tanpa mengalihkan tatapannya pada benda pipih itu.


“Nikah yuk, Ra!”


Benar saja, Era langsung menoleh ke arah Pasha dengan tatapan terkejut. Bisa-bisanya pria itu mengajak nikah dengan mudahnya. Memangnya nikah itu seperti beli tiket nonton bioskop apa.


“Apaan sih kamu, King! Dari tadi bicaranya ngaco terus.”

__ADS_1


“Kamu sih, ada aku di sini yang jelas-jelas sangat menarik dibandingkan apapun, malah sibuk dengan benda pipih itu. aku cemburu loh, Ra! Makanya aku ajakin kamu nikah aja, biar kamu bisa fokus terus sama aku.” ujar Pasha mendramatisir.


“Bicara kamu lama-lama semakin ngalantur ya, King! Dah pulang sana! Sepertinya kamu butuh istirahat, biar otak kamu nggak geser.”


“Eeee…. Enak aja kalau bilang. Justru aku di sini tuh nemenin kamu, biar otak kamu yang nggak geser.” Sahut Pasha tak mau kalah.


Era pun akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja. Karena memang tadi ia sedang berbalas pesan dengan Tatia. Jadi bukan benar-benar niat mengabaikan keberadaan Pasha.


Mereka berdua pun kembali bersantai sambil menikmati cemilan yang selalu Era sediakan. Banyak sekali yang mereka bicarakan. Dan obrolan itu mengalir ringan hingga membuat keduanya saling dekat satu sama lain.


“Memangnya kapan kamu siap nikah, Ra? Sorry, usia kamu menurutku sudah matang untuk menjalani hidup berumah tangga.”


“Persiapan nikah itu bukan dilihat dari usia saja. sudah matang atau belum, masih banyak sekali faktornya. Salah satunya siapnya mental.”


“Oh, jadi kamu belum siap mental gitu maksudnya? Aku sudah siap segalanya kok, Ra. Tenang saja, aku bisa mengatasinya.” Sahut Pasha penuh percaya diri.


Era lama-lama gemas sendiri dengan perkataan Pasha yang sejak tadi terlalu percaya diri. Ia pun langsung melempar bantal tepat mengenai wajah Pasha. namun sayangnya Pasha sudah bisa membaca pergerakan Era. Hingga ia bisa menangkap bantal itu. Era pun tidak tinggal diam. dia justru menekan bantal itu lagi sampai menutupi wajah Pasha. alhasil mereka berdua tampak seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. Era semakin menekan bantal itu, namun Pasha juga berusaha menghindar.


Tenaga Era ternyata kalah dengan Pasha yang kini balik menyerang Era dengan posisi Era di bawahnya. sedetik kemudian Pasha melempar bantal itu. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Tanpa menunggu lama, Pasha mendaratkan bibirnya pada bibir manis Era agar perempuan itu mau diam dan tidak berulah lagi.


Dua detik


Tiga detik


Hingga hitungan lima detik Pasha tidak mendapat penolakan dari Era. Pria itu mulai menelusupkan bibirnya ke rongga mulut Era. Era juga rasanya seperti terhipnotis, jadi ia sangat menikmati ciuman yang Pasha berikan. Walau ia pasif, tidak ikut membalas ciuman itu.


Tubuh Era dan Pasha semakin lama semakin memanas. apalagi Era sudah mulai merasakan ada pergerakan aneh yang menempel pada pahanya. Ia pun dengan cepat mengembalikan kewarasannya, dan mendorong tubuh Pasha dengan hati-hati.


Nafas Pasha sempat tersengal. Agak kecewa, itulah yang ia rasakan. Tapi itu tidak baik jika diteruskan. Bagaimana pun juga dia sangat menghargai hubungannya dengan Era. Tidak mau merusaknya hanya dengan menuruti hawa napsunya saja. terlebih Era yang sangat menjaga harga dirinya. Dia juga menyesal dengan apa yang terjadi baru saja.


Kini Era sedang berdiri di tepi jendela rumahnya, menghindari Pasha. sudah beberapa kali ia melakukan hal tersebut dengan Pasha. Era sangat takut jika suatu saat akan terjadi lagi, dan dia tidak ingin kebablasan.

__ADS_1


“Ra, Sorry!” Pasha sudah berdiri di belakang Era.


“Ehm, ya. Anggap saja itu tadi khilaf. Lebih baik kamu pulang sekarang saja, King. Aku mau istrahat dulu.” jawab Era tanpa mengalihkan tatapannya ke luar jendela.


“Tapi kamu nggak marah sama aku kan, Ra?”


Era berbalik badan, menghadap ke arah Pasha sambil mengulas senyum tipis. Dia tahu kalau Pasha pasti merasa sangat bersalah atas kejadian baru saja.


“Nggak. Tidak ada alasan yang membuatku marah sama kamu. Terima kasih sudah menemaniku malam ini. Kamu juga butuh istirahat. Besok kita bertemu lagi di kantor.”


“Baiklah. Aku juga senang bisa menemani kamu malam ini. dan, untuk kejadian di kantor tadi, kamu nggak usah memikirkannya lagi. aku jamin kalau Yeslin tidak akan berani melakukan itu lagi.”


“Aku percaya sama kamu.”


***


Pasha kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Hatinya cukup lega bisa menemani Era. Dan Pasha merasa semakin hari rasa cintanya pada Era semakin besar.


Beberapa saat kemudian Pasha sudah tiba di rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. dan suasana rumahnya sudah sepi.


“King! Dari mana kamu?” suara Papa Nabil mengejutkan Pasha yang hendak menuju lantai dua kamarnya.


“Dari rumah teman, Pa.”


“Tapi Papa tidak percaya. Apa kamu baru pulang dari rumah kekasihmu?” lanjut Papa Nabil dengan tatapan penuh selidik.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2