
Seperti mendapatkan energi positif, baik Serena maupun Rayyan, semalam tidurnya sangat nyenyak. Bahkan sampai pagi menjelang pun mereka masih tidur dengan saling memeluk.
Biasanya Serena yang bangun lebih dulu dengan drama morning sickness, kali ini bumil itu tidak mengalaminya. Justru semakin mengeratkan pelukannya,m dan meletakkan kepalanya pada ceruk leher Rayyan.
Beberapa saat kemudian, Rayyan lebih dulu bangun. Dia teringat kalau hari ini ada meeting penting dengan salah satu kliennya. Walau sebenarnya dia masih ingin berlama-lama dengan sang istri.
Dengan hati-hati Rayyan bangun, dan menggantikan badannya yang dipeluk Serena dengan guling. Setelah itu baru lah ia masuk ke kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Rayyan sudah rapi dengan setelan kerjanya. dia keluar kamar dan membuat makanan untuk istrinya, yang biasa suka makan nasi goreng. Lalu untuk dirinya sendiri hanya membuat sandwich.
Sebelum berangkat ke kantor, Rayyan masuk ke dalam kamar. dia melihat Serena masih terlelap, akhirnya ia kembali menutup pintunya tanpa berniat untuk membangunkannya. Setelah itu dia langsung pergi ke kantor.
***
Seharian Rayyan sangat sibuk dengan pekerjaan kantornya. Dia tidak sempat menghubungi Serena. Hanya pesan singkat yang ia kirim tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. itu pun Rayyan tidak mengecek lagi, apakah Serena membalas pesannya atau tidak.
Sedangkan Serena yang memang sedari pagi cukup rileks dengan kondisi badannya yang lebih fresh, wanita itu hanya bersantai-santai saja di apartemen. Apalagi tadi sudah melihat ada seporsi nasi goreng buatan suaminya yang cukup menggoda, membuatnya lebih bersemangat lagi.
Sore ini Serena memutuskan untuk keluar dari unit apartemennya. dia ingin pergi ke sebuah café yang tidak jauh dari apartemennya. karena sejak kemarin, dia selalu berada di unit apartemennya saja tanpa keluar kemana pun.
Serena menghubungi ponsel Rayyan. Setidaknya dia ingin berpamitan pada sang suami. tapi sayangnya ponsel Rayyan sedang tidak aktif. Jadi ia hanya mengirim pesan saja.
*
Serena kini sudah duduk di salah satu meja café dengan minuman hangat di depannya. Baju tebal dengan topi yang membungkus kepalanya tak cukup membuat tubuhnya hangat. Namun ia harus membiasakan dirinya dengan cuaca dingin di negara ini. karena ia sendiri juga tidak tahu, apakah akan selamanya tinggal di negara ini.
Serena menikmati makanan ringan yang ia pesan, sambil mencoba menghubungi Rayyan. Dia pikir kalau Rayyan sedang dalam perjalanan pulang, pria itu bisa sekalian ikut mampir ke café. Namun sayangnya ponsel Rayyan masih tidak aktif.
Tanpa sepengetahuan Serena, di café itu ada seseorang yang sejak tadi terus memperhatikan Serena. Entah sudah mengenal Serena atau pernah bertemu dengan Serena. Pria itu masih terus memperhatikan, tanpa berani untuk mendekatinya.
__ADS_1
“Hai, Nona! Boleh bergabung di sini?” ucap seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Serena dengan membawa minumannya sendiri.
Serena bingung. Mau menolak, namun pria bule itu sudah duduk di kursi yang ada di hadapannya. akhirnya ia hanya tersenyum canggung.
“Aku perhatikan kamu sangat kedinginan. Sepertinya kamu belum terbiasa dengan cuaca dingin?” tebak pria. Dan Serena hanya menganggukkan kepalanya.
“Cobalah minum ini! minuman ini aku jamin akan membuat tubuhmu hangat.” Ujar pria itu sambil memberikan sekaleng minuman yang masih utuh.
“Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup minum ini saja.” tolak Serena dengan halus.
“Permisi, sepertinya aku harus pulang dulu.” ujar Serena kemudian.
Pria itu sepertinya tidak terima dengan penolakan Serena. Diam-diam saat Serena dalam perjalanan pulang ke apartemennya, pria itu mengikutinya.
Jarak apartemen dengan café yang sangat dekat, jadi Serena hanya jalan kaki saja. namun, di tengah-tengah perjalanan, Serena merasa ada yang mengikutinya. Dengan hati-hati ia menoleh ke belakang. Dan benar saja, orang tadi sedang mengikutinya. Dia pun mempercepat langkahnya agar cepat sampai tujuan. Tapi justru pria itu semakin mengejarnya.
Serena menoleh ke belakang dengan ketakutan. Ia melihat pria itu jatuh di atas jalan bersalju yang cukup tebal. Lalu ada seseorang yang menarik kerah jaketnya, lalu memukulinya. Dan hal itu Serena manfaatkan untuk segera pergi meninggalkan dua pria yang sedang bertengkar.
Dengan nafas tersengal, Serena sudah sampai depan unit apartemennya. dia berharap tidak terjadi sesuatu dengan kandungannya karena tadi sempat berlari.
Klik
“Sayang, kamu dari mana?” tanya Rayyan dengan wajah cemasnya saat ia baru saja sampai, namun tidak melihat keberadaan sang istri.
“Maaf. Maafkan aku. aku tadi hanya ingin keluar ke café seberang. Tapi,
Brukkk
“Seren!” pekik Rayyan saat Serena tiba-tiba saja jatuh pingsan. Beruntungnya dengan sigap Rayyan menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh ke lantai.
__ADS_1
Rayyan segera membawa Serena masuk ke dalam kamar. dia melepas jaket tebal istrinya, lalu memberikan minyak aroma terapi yang berharap bisa segera menyadarkan Serena.
Rayyan benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya. Dia juga merasa bersalah karena sejak tadi telah mengabaikan wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu. terlebih selama ini ia sangat jarang sekali mengajak Serena pergi untuk jalan-jalan. Karena memang kondisinya yang sedang hamil muda tidak memungkinkan untuk diajak jalan-jalan.
Nghhhh…
Terdengar lenguhan kecil dari mulut Serena. Perlahan matanya mengerjap. Rayyan sangat bersyukur akhirnya Serena siuman.
“Sayang, akhirnya kamu siuman. Katakan padaku, apa yang kamu rasakan saat ini? aku panggilkan dokter, ya?”
“Tidak. Tidak perlu. Kepalaku pusing saja.” jawab Serena dengan suara lemah.
“Maafkan aku. aku tadi pergi sendirian, dan tiba-tiba saja ada seseorang yang ingin berbuat jahat padaku. akhirnya aku pulang dengan sedikit berlari.” Lanjut Serena dengan perasaan bersalah. Dia juga takut jika Rayyan akan memarahinya.
Namun, bukannya Rayyan marah, dia justru sangat bersalah atas kejadian yang telah menimpa istrinya.
“Aku nggak marah. Maafkan aku. akulah yang tidak punya waktu untuk mengajakmu jalan-jalan. Aku tahu kamu pasti bosan di apartemen terus.” Ucap Rayyan dan langsung berbaring di samping Serena, mendekapnya dengan erat.
“Setelah ini, aku akan panggil dokter untuk memeriksa kandunganmu.” Ujarnya lembut.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1