
Tanpa terasa Era sudah menjalani kehidupan barunya di negara orang selama dua tahun. Pekerjaannya yang mapan dan cepat mendapat promosi kenaikan jabatan, membuat wanita barusia tiga puluh dua tahun itu tak henti-hentinya mengucap rasa syukur. Terlebih dengan memiliki atasan yang baik hati, juga mempunyai seorang sahabat yang begitu pengertian.
Awal kedatangannya di negara ini Era memilih tinggal di sebuah rumah sewa. Mungkin ia ingin beradaptasi dulu, sambil mengatur pengeluarannya selama tinggal di negara orang.
Dan setelah satu tahun bekerja di perusahaan yang sudah membawa banyak penghargaan untuknya, akhirnya Era bisa membeli sebuah apartemen. Walau belinya itu masih ditambah dengan uang tabungannya hasil ia menjual rumah. namun hal itu sudah membuat Era cukup bahagia.
***
Pagi ini Era enggan bangun tidur. Dia masih ingin bermalas-malasan di kamarnya. Kebetulan juga memang sedang weekend, dan semalam juga ia lembur.
Era membuka korden kamarnya. Setelah itu kembali merebahkan tubuhnya sambil memainkan gadgetnya.
Ting tong
Era mendengar suara bel pintu apartemennya. siapa pagi-pagi seperti ini sudah datang. rasanya sangat menganggu waktu malas-malasannya saja.
Era mengabaikan suara bel itu yang masih terus berbunyi. Tak lama kemudian ponselnya berdering, ada panggilan dari seseorang yang selama ini cukup banyak berjasa dalam hidupnya.
“Rayyan” gumam Era sambil melihat id pemanggil itu.
Era langsung menggeser tombol hijau pada ponselnya dan menjawab panggilan itu. seketika Era tersadar kalau sejak tadi yang menekan bel pintu apartemennya adalah Rayyan.
Era bergegas keluar kamar dan membukakan pintu untuk sahabatnya itu. padahal penampilannya masih sangat acak-acakan. Tapi Era tidak peduli.
Klik
“Jangan bilang aku mengganggu waktu malas-malasan kamu ya, Joel!” seru pria seusia Era sebelum Era sempat mengatakan sesuatu.
Rayyan langsung masuk begitu saja ke dalam unit apartemen Era. Sedangkan Era sendiri membiarkannya.
“Mau mandi sekarang atau aku mandiin?” ancam Rayyan lalu mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
“Jangan banyak alasan kamu, Joel! ayolah, ini sudah jam berapa? Aku sudah menunggumu sejak tadi. sampai aku belain datang jemput kamu, tapia pa? kamu masih,- hmmpppp”
“Sudah cukup ngomelnya ya, Ray! Sekarang kamu duduk manis di sini. tunggu lima menit, aku akan kembali ke sini sudah rapi.” Sahut Era sambil membekap mulut Rayyan dengan tangannya.
“Ihh, tangan kamu bau jigong!” Umpat Rayyan setelah berhasil melepas bekapan tangan Era di mulutnya.
Era hanya nyengir kuda. Setelah itu ia berlari masuk ke kamarnya untuk melakukan mandi singkatnya.
Kemarin Era sudah berjanji dengan Rayyan akan pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang. Mungkin efek kelelahan setelah lembur, Era sampai melupakan janjinya dengan Rayyan.
Rayyan adalah seorang pria yang Era temui dua tahun yang lalu saat ia sedang dalam pesawat menuju negara ini. pria baik hati yang memberinya tisu untuk menghapus air matanya akibat luka yang pernah ditorehkan oleh seseorang.
Walau sampai saat ini Rayyan tidak pernah tahu tentang masalah pribadi Era, juga dnegan Era yang memilih tertutup dengan masa lalunya, namun hal itu tidak menghalangi mereka berdua untuk menjadi teman baik. Bahkan sahabat.
Entah kebetulan atau memang sudah jalannya seperti ini. Rayyan, pria yang Era temui pertama kali di pesawat saat itu ternyata juga bekerja di perusahaan yang sama dengannya. bahkan Rayyan adalah putra dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja selama ini. hanya saja Rayyan menempati di bagian divisi yang sama dengan Era. Sangat aneh kedengarannya. Namun kenyataannya memang Rayyan tidak ingin menjadi Ceo di perusahaan Papanya hanya karena alasan belum siap.
“Yuk, berangkat sekarang!” Era sudah tampak rapi dengan setelan casualnya menghampiri Rayyan yang sedang memainkan ponselnya.
“Cepet banget. Kamu mandinya pakai sabun kan, Joel?”
Kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju suatu tempat. Tempat di mana Rayyan akan mengadakan janji ketemuan dengan seorang perempuan yang baru saja ia kenal melalui aplikasi online. Dan Era lah yang sudah beberapa kali ini menemani Rayyan bertemu dengan teman kencannya itu.
Tujuan Rayyan mengajak Era karena ia ingin meminta pendapat langsung dari sahabatnya mengenai teman kencannya itu. tapi, lagi-lagi Rayyan lah yang lebih dulu memutuskan untuk tidak melanjutkan perkenalannya itu sebelum Era sempat memberi penilaian.
“Ini sudah ke sekian kalinya loh Ray, kamu mengadakan kencan buta seperti ini. apa kamu tidak bosan?” tanya Era menatap heran pada sosok pria yang sedang fokus dengan kemudinya.
“Aku lebih bosan lagi dengan pertanyaan Mama dan Papa tentang pasangan. Kamu tahu sendiri kan kalau Papa sangat menginginkan aku untuk segera menikah dan ingin segera punya cucu. apalagi Khanza bulan depan akan menikah.”
“Tapi nggak harus dengan kencan buta seperti ini lah, Ray.”
“Ya juga sih. Bagaimana kalau kamu nikah sama aku, Joel?” tanya Rayyan tiba-tiba.
__ADS_1
“Oops sorry! Aku lupa kalau kamu nggak doyan laki-laki.” Sambung Rayyan dengan senyum mengejek.
“Sialann kamu!” Era memukul pelan lengan Rayyan.
“Lagian sesama makhluk expired nggak usah saling mencela. Jalani saja hidup kamu dengan enjoy. Begitu juga dengan aku.”
“Ya juga sih, Ray. Tapi aku nggak habis pikir aja, kok bisa-bisanya Mr. Chan memiliki putra tampan sepertimu tapi sayangnya nggak laku-laku. Bahkan adik kamu yang usianya terpaut lima tahun denganmu, sudah mau menikah.”
“Sudah ah, Joel. Kamu ini selalu saja membahas itu. wajah bukan jaminan seseorang cepat laku apa tidak. Jomblo itu pilihan. Bukankah kamu seperti itu juga? padahal usia kamu juga sudah matang….”
Rayyan tidak lagi melanjutkan ucapannya, saat ia menoleh ke arah Era yang sedang membuang pandangannya ke luar jendela. Terlihat jelas raut wajah sahabatnya itu tiba-tiba bersedih. Seperti sedang mengingat masa lalunya yang sangat menyakitkan. Namun sayangnya sampai saat ini Rayyan tidak pernah tahu.
“Joel! Pundakku ini bersedia kok menjadi sandaran sesaat kamu.” Ucap Rayyan.
Sedangkan Era menoleh sejenak ke arah Rayyan, dan mengulas senyum manisnya sebelum akhirnya ia kembali melihat pemandangan luar untuk menghindari tatapan Rayyan yang pasti tahu air matanya akan tumpah.
***
Di waktu yang sama namun di negara yang berbeda, tampak seorang pria sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sudah dua tahun ini pria itu hidup dengan tidak baik. Walau dari luar terlihat biasa saja, bahkan kinerjanya di perusahaan semakin meningkat, tapi kenyataannya hati pria itu sangat rapuh.
Selama dua tahun ini juga Pasha tak henti-hentinya mencari kabar tentang seseorang yang telah meninggalkannya. Meninggalkan cinta yang masih besar di hatinya.
Pasha sadar betul alasan Era pergi meninggalkannya adalah karena kesalahan yang ia perbuat sendiri. Namun sayang sekali, dia tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Karena Era lebih dulu pergi dari hidupnya.
“Ra, aku tahu kesalahanku sangat besar padamu. Masih adakah kesempatan untuk aku menemukanmu?” gumam Pasha dengan mata yang sudah memerah.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!