Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
69. Asyik Ghibah


__ADS_3

Dua orang pria yang tengah duduk berhadapan itu sontak menoleh ke arah pintu yang baaru saja dibuka oleh seseorang. Sedangkan yang menjadi pusat perhatian hanya bisa terdiam sambil tertunduk malu dengan wajah memerah.


“Ya, sudah Papa pergi dulu. jangan lupa, selama beberapa hari ke depan kamu handle semuanya.”


“Baik, Pa!”


Papa Nabil keluar dari ruangan Pasha melewati Era yang masih diam di tempat sejak tadi. pria itu juga mengerti kalau sebenarnya Era sangat malu karena keberadaan dirinya di ruangan anaknya.


“Nona Juleha bisa dilanjutkan, saya sudah selesai kok.” Ucapnya dan membuat Era hanya tersenyum kaku.


Setelah Papa Nabil keluar dan menutup pintu itu, Era tampak bernafas lega sambil mengusap dadanya. Sedangkan Pasha yang sejak tadi duduk di kursi kebesarannya tampak menahan tawanya melihat sang kekasih yang sedang malu.


“Ketawa saja, nggak usah ditahan!” gerutu Era sambil mencari tempat duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Pasha.


Pasha pun akhirnya tertawa lepas setelah mendapat instruksi dari Era. Dan Era semakin jengkel melihatnya. Namun hal itu membuat Pasha semakin gemas.


“Sudah dong, jangan marah gitu. Kamu sih masuk nggak ketuk pintu dulu. lain kali jangan asal masuk!” ucap Pasha seolah menyindir Era, karena dulu dia juga sempat menasehati Pasha agar mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan orang.


“Kamu nyindir aku?” tanya Era dengan tatapan tajam.


Pasha hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Susah kalau sudah begini, dia juga bingung bagaimana cara membuju Era yang sedang marah.


“Makan yuk! Aku tadi sudah pesan makanan untuk kamu, Ra. Jadi makanan yang kamu bawain buat aku, aku saja yang makan. Yuk!” ucap Pasha mengalihkan pembicaraan. Lalu ia mengambil paper bag berlogo restoran di mana ia memesan makanan itu.


Tapi rupanya Era masih dalam mode ngambek. Pasha hanya bisa menghela nafasnya pelan. Berpikir sejenak, bagaimana caranya agar Era tidak marah lagi.


Era masih diam dengan wajah ditekuk, dan posisinya sedikit membelakangi Pasha. sedangkan Pasha yang duduk tepat di sampingnya mulai mengambi kotak makan pemberian Era.


“Eh, kenapa ada ulatnya gini di sayurannya, Ra?” pekik Pasha terkejut.


Jelas Era yang sejak tadi diam juga ikut terkejut. Dan langsung menoleh ke arah Pasha yang sedang memegang kotak makan, dan masih dalam keadaan tertutup. Apalagi dia juga baru ingat kalau tadi tidak memasak sayuran.


Merasa dibohongin oleh Pasha, Era menatap tajam ke arah pria itu dan hendak mengeluarkan tanduknya. Namun sayangnya Pasha dengan cepat menangkap tangan Era yang sepertinya akan memukulnya, dan dibalas dengan ciuman tak terduga.


Pasha meraup bibir Era dengan rakus. Memang sengaja ia lakukan seperti itu. karena dia merasa kalau Era masih emosi dengannya. ciuman itu semakin panas dengan Era yang berusaha melepasnya namun tidak bisa. Akhirnya Era menyerah. Tenaganya juga kalah kuat dengan Pasha. hingga ciuman yang Pasha berikan juga ikut melemah, menjadi sangat lembut.

__ADS_1


“Jangan marah-marah terus! Kalau marah, aku kasih yang lebih dari ini.” ucap Pasha setelah melepas ciumannya.


Era masih diam dengan bibir yang sedikit bengkak dan juga masih basah. Mereka berdua juga masih saling pandang dengan jarak yang begitu dekat.


Pasha mengusap kembut bibir Era yang basah. Ingin sekali ia mencium bibir itu. tapi sayangnya dia juga takut akan kelepasan.


“Ya sudah, ayo kita makan!” Era mengalihkan pandangannya ke samping. Jujur saja dia juga tidak tahan dengan pesona wajah Pasha yang begitu tampan. Apalagi bibir pria itu sudah berulang kali memberinya cumbuann.


Pasha hanya tersenyum tipis. Kemudian ia mengambilkan box makan milik Era, sedangkan ia makan bekal yang dibawakan oleh Era.


Sepasang kekasih itu sudah kembali menghangat sambil menikmati makan siangnya. Seperti biasa, mereka saling melempar candaan agar suasana tidak terlalu canggung.


“Papa akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri selama beberapa hari. Jadi semua pekerjaan diserahkan sama aku. makanya tadi Papa datang ke sini untuk memberitahu.”


“Oh begitu.” Sahut Era sambil kembali menyuap makanannya.


“Oh iya, Ra. Bulan depan akan ada acara gathering loh. Kamu ikut kan?”


Era masih diam. dia juga sebenarnya sudah tahu tentang acara tahunan yang selalu diadakan oleh perusahaan. Hanya saja Era jarang ikut. Entah kenapa dia agak malas dengan acara-acara yang menurutnya kurang berfaedah seperti itu. dan ini juga pertama kalinya Pasha akan ikut di acara itu. mengingat dirinya adalah Ceo baru. Jadi ia ingin lebih akrab dengan semua karyawannya.


“Nggak tahu. Lihat nanti lah, King. Aku juga sebenarnya jarang ikut di acara seperti itu.”


“Berhubung aku Ceo baru di perusahaan ini, aku akan mewajibkan semua karyawan untuk ikut. Kecuali bagi mereka yang sedang sakit.”


“Eh, tidak bisa begitu dong!” protes Era.


“Di sini aku Ceonya. Dulu kamu mungkin bisa ijin pada Kak Queen. Tapi untuk kali ini tidak.”


Era hanya menghela nafasnya pelan. Mau tidak mau ia ikut dalam acara gathering nanti.


***


Usai makan siang, Era dan Pasha kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Hingga Era tidak menyadari kalau sudah waktunya jam pulang. mungkin karena saking asyiknya dengan pekerjaannya, jadi ia sampai lupa waktu. Ya, maklum saja karena beberapa hari ini ia tampak pusing dengan beban masalahnya.


“Jul! Apa kamu mau menginap di kantor?” tanya Tatia yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.

__ADS_1


“Nggak lah, Tat. Nih sebentar lagi mau selesai. ada apa?” tanyanya dengan tatapan tak lepas dari dari layar komputernya.


“Pakai tanya lagi. aku kan kepo sama yang tadi. kamu janji loh mau cerita sama aku.”


Era juga lupa atas janjinya pada Tatia. Tapi sebentar lagi Pasha pasti akan datang ke sini. karena ia tadi berangkat bersama pria itu.


“Langsung ke intinya saja ya?”


“Ah, nggak seru lah, Jul! bagaimana kalau sambil nongkrong di café? Biar nanti aku calling suamiku suruh jemput di sana.”


“Aku kan tadi berangkatnya sama Pasha, Tat. Jelas pulangnya sama dia juga dong. Nah, sebentar lagi dia pasti ke sini.”


Tatia pun sedikit kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. masa iya dia melarang sahabatnya pulang bersama kekasihnya.


“Intinya gini, Tat. Hutangku pada Hagi sudah beres. Dan semua itu karena Pasha yang membantunya. Jadi,-“


“Ehm…!”


Era dan Tatia tidak jadi melanjutkan ucapannya saat mendengar suara seseorang yang sudah masuk ke ruangan itu. siapa lagi kalau bukan Pasha. Tatia pun mau tidak mau harus keluar dan meninggalkan sepasang kekasih itu.


“Permisi, Tuan!” pamit Tatia dengan sopan.


“Ya sudah, ayo pulang! ditungguin malah asyik ghibah di sini. pasti lagi ghibahin aku kan?” tuduhnya tepat sasaran.


Era hanya memutar bola matanya. kemudian ia membereskan beberapa berkasnya, lalu pulang.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2