
“King? Apa maksud ini semua?” tanya Era dengan mata berkaca-kaca.
“Itu kan yang membuat hidup kamu akhir-akhir ini tidak tenang, Ra? Maafkan aku yang terlambat membantumu, Ra!”
Grep
Era langsung memeluk Pasha. tangisnya pecah dalam pelukan pria itu. Pasha pun membalas pelukan Era dengan erat untuk memberikan ketenangan pada hati kekasihnya.
Sungguh Era tidak menyangka kalau akan datang pertolongan Tuhan yang seperti ini. bahkan orang yang sangat ia cintai lah yang menolongnya. Orang yang sejak tadi ada dalam pikirannya, dan mau Era maintain tolong untuk membantu mengatasi masalahnya. Namun tanpa ia sangka, ternyata Pasha sudah tahu lebih dulu. pria itu sudah menyelamatkan dirinya.
“Sudah, Ra! Kamu jangan bersedih lagi! aku berani jamin kalau pria berengsek itu tidak akan lagi mengusik hidupmu.”
Era mengurai pelukannya. Pasha mengusap pipinya yang basah karena air matanya. kemudian menangkup kedua pipi Era.
“Aku akan selalu ada di sisimu, Ra! Kamu jangan pernah malu ataupun sungkan untuk meminta bantuanku.” ucapnya dengan lembut. Era hanya mengangguk lemah sambil berusaha tersenyum. Karena lagi-lagi air matanya keluar.
“Terima kasih banyak, King! Kamu telah menyelamatkan hidupku. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa.”
“Aku membantumu dengan ikhlas, Ra! Tanpa pamrih. Tapi hanya satu yang aku minta, tetaplah bersamaku.”
Era menganggukkan kepalanya, lalu ia kembali memeluk Pasha. tidak ada kalimat lagi selain rasa syukur yang Era ucapkan dalam hatinya. Pasha adalah malaikat yang dikirim oleh Tuahn untuk menyelamatkan hidupnya.
Tak lama kemudian terdengar suara notifikasi dari ponsel Era yang ada di atas meja kerjanya. Era melepas pelukannya, dan melihat siapakah yang mengirim pesan.
Di sana ada pesan dari bank yang telah mentransfer sejumlah uang yang sesuai dengan yang dibayarkan pada Hagi waktu itu. di sana hanya tertera nomor rekening si pengirim saja, tanpa ada namanya. Otomatis Era bingung.
“King, apa kamu juga yang meminta dia untuk mengembalikan uangku?”
“Iya. Karena memang bukan kamu yang seharusnya melunasi hutang itu. tapi tenang saja, semuanya sudah beres. Kamu jangan memikirkannya lagi.”
Sebenarnya ucapan Pasha itu bohong. Yang mengirim uang ke rekening Era itu adalah dirinya. Karena bagi Pasha, Era sudah cukup banyak berkorban untuk keluarga Bibinya. Biarlah uang yang telah Era berikan pada Hagi tidak kembali. Yang penting dirinya bisa mengembalikan uang itu. uang yang pastinya hasil kerja keras Era selama ini.
__ADS_1
“Ya sudah, jangan bersedih lagi. ayo kita pulang! apa kamu mau makan di luar, Ra?”
“Nggak. Aku masak di rumah saja. aku akan memasakkan kamu special malam ini. apa kamu mau?”
“Tentu saja. ya sudah, ayo!”
Akhirnya mereka berdua pun pulang. pulang ke rumah Era tentunya. Dan mereka mengendarai mobilnya sendiri-sendiri. Perasaan Era benar-benar sangat lega. Dia sudah tidak takut lagi dengan Hagi yang selalu menghantuinya.
Sesampainya di rumah, Era mempersilakan Pasha masuk. Lalu mereka berdua menuju dapur untuk segera mengeksekusi beberapa bahan makanan yang akan Era masak.
Pasha pun ikut membantu kekasihnya memasak. Walau lebih banyak merusuh daripada membantu. Tapi tidak membuat Era marah atau kesal. Bahkan Era mengajari Pasha untuk memasak. Meskipun sebelumnya Pasha juga pernah hidup sendiri, namun untuk urusan dapur, ia tidak tahu sama sekali.
“Nah ini sudah selesai, ambilin piringnya dong, King! Setelah itu kamu sajikan di atas meja. Dan untuk minumannya sudah ada di kulkas. Nanti kamu ambil juga. aku mau mandi dulu.”
“Ok, bereslah kalau sama aku. apa nggak minta dimandikan sekalian, Ra? Aku juga bisa loh.”
“Kinggg!!! Jangan mesyyum kamu, ya? Atau mau aku usir dari sini sekarang juga?”
“Ampunnn!!! Ya sudah sana, cepat mandi! yang cantik ya?” jawabnya diakhiri dengan kerlingan mata.
**
Malam ini, entah sudah yang ke berapa kalinya, Era dan Pasha menikmati makan malamnya berdua di rumah Era. Walau mereka selalu bahagia saat menikmati kebersamaan seperti ini, namun malam ini adalah malam yang paling bahagia bagi Era. Semua itu karena Pasha.
Sambil menikmati makan malamnya, mereka juga saling bercanda dan melempar senyum. Tak jarang juga keduanya saling usil mengerjai satu sama lain. Lalu mereka tertawa bersama.
“Ra, kamu sadar nggak sih kalau kita sering sekali menghabiskan waktu berdua di meja makan seperti ini membuat kita seperti pasangan suami istri?” tanya Pasha tiba-tiba.
“Jangan bilang kalau kamu ingin cepat-cepat nikah?” tanya Era sambil memicingkan matanya.
“Menikah. tentu saja semua orang yang belum pernah menikah pasti ingin menikah, Ra. Termasuk aku. Tapi sayangnya yang diajak nikah belum siap.” Jawab Pasha sambil menyindir Era.
__ADS_1
“Tenang, Ra! Aku nggak akan maksa kok. Santai aja ya? Tapi kalau mau dipaksa juga nggak apa-apa.” Sahut Pasha diiringi dengan candaan saat melihat perubahan raut wajah kekasihnya itu.
“Gimana sih?” gerutu Era dengan wajah ditekuk.
“Iya, iya sorry, Ra. Lagian kalau aku boleh tahu, apa sih yang membuatmu belum siap menikah? padahal aku sudah siap lahir batin loh, Ra. Kamu jangan khawatir kalau menikah denganku nanti, kamu masih bisa bekerja. Mau apa saja, aku tidak akan melarang kamu, Ra.”
Era diam saja mendengar semua ucapan Pasha. memang dia tidak meragukan Pasha. dia yakin kalau Pasha adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Meskipun usianya beda jauh dengannya. namun Era masih cemas dengan status sosialnya yang berbeda dengan Pasha. entahlah, meskipun ia sudah mengenal kedua orang tua Pasha. rasa minder itu tetap ada.
“Jika kamu belum siap untuk menikah, setidaknya aku ingin hubungan kita ini tidak disembunyikan dari siapapun, Ra. Termasuk kedua orang tuaku. Aku ingin sekali memperkenalkan kamu pada Papa dan Mamaku. Ya, meskipun kamu sudah kenal mereka sih.”
“Ya sudah, kalau mau kamu seperti itu. aku tidak keberatan jika hubungan kita diketahui oleh banyak orang. Tapi biarkan mereka sendiri yang tahu. Dan untuk bertemu dengan kedua orang tua kamu, aku mau. Tapi tidak dalam waktu dekat ini.” ucap Era setelah berpikir secara logis.
Pasha pun sangat senang mendengarnya. Jadi kini ia bebas mau melakukan apapun dengan Era, tanpa takut dketahui orang-orang termasuk para karyawannya.
**
Pasha teringat dengan ucapan Papanya kemarin malam. meskipun Era adalah perempuan baik-baik, mulai dari sekarang ia akan berusaha menjaga nama baik kekasihnya itu. dan jika berkunjung ke rumah Era, dia akan pulang tepat waktu sesuai jam bertamu pada umumnya.
Dan kini, setelah perutnya kenyang, hatinya senang, Pasha pun berpamitan pulang. mungkin malam ini baik Era maupun Pasha pasti bisa tidur dengan sangat nyenyak. Terutama Era, yang telah lepas dari mimpi buruknya.
“Aku pulang dulu ya, Ra! Jangan lupa, besok aku jemput kamu.”
“Ok, hati-hati!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!