
Seperti remaja yang baru puber, dengan malu-malu Era mendekat ke arah Pasha yang sudah merentangkan tangannya siap memberikan pelukan hangat untuk sang pujaan hati.
Era duduk bersandar pada dada bidang Pasha, dengan kedua tangan pria itu melingkar di perut Era. Sesekali mereka melempar senyum walau keduanya tak bisa saling menatap.
Malam yang sangat sempurna bagi pasangan kekkasih beda usia yang tengah dimabuk asmara itu. mereka masih terus bercengkrama menikmati malam yang sangat syahdu itu. bahkan sudah beberapa kali Pasha menambah kayu pada api unggun yang hampir padam itu. hanya demi menambah kehangatan suasana malam.
Obrolan mereka mengalir begitu saja. banyak hal yang keduanya bagikan secara bergantian. Mulai dari kehidupan mereka sejak kecil hingga saat ini. begitu juga tentang hubungan asmara baik dari Era maupun Pasha.
Hanya dengan waktu semalam, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Mereka berdua juga tidak menyangka kalau hubungannya bisa sedekat ini. mengingat sejak awal pertemuannya dulu merea seperti musuh. Ternyata semua itu adalah pertanda diawalinya hubungan ini.
Malam semakin larut. Udara dingin sudah mulai menembus kulit. Bersamaan dengan api unggun itu yang mulai mengecil. Pasha juga tidak tega membiarkan Era kedinginan seperti ini, meskipun sudah memakai pakaian hangat. Dengan istirahat di dalam tenda, sepertinya bisa mengurangi rasa dingin itu.
“Tidurlah! Aku akan menjaga kamu dari luar.” Ucap Pasha setelah membawa Era masuk ke dalam tenda.
Tenda itu cukup luas jika dibuat tidur dua orang. Namun Pasha lebih memilih terjaga di luar dan membiarkan Era istirahat sendiri di dalam tenda.
“Di luar dingin, King.”
Entah apa maksud dari ucapan Era baru saja. apalagi dengan nada yang berbeda, hingga membuat Pasha menyalah artikan maksud itu.
“Nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Kamu tidurlah, Ra! Ini sudah malam. nanti kamu sakit kalau kurang istirahat. Jadi, besok pagi kita bisa melakukan aktivitas lagi.” jawab Pasha berusaha mentralkan pikirannya.
Era tak menyahut lagi. perempuan itu langsung menarik selimut dan tidur membelakangi Pasha yang masih duduk. Sedangkan Pasha juga mendadak bingung dengan sikap Era baru saja.
“Selamat tidur, Sayang!” bisik Pasha sambil meninggalkan kecupan di pipi Era. Namun sayangnya Era malah berbalik badan, hingga ciuman itu mendarat pada bibir Era.
Ternyata Era belum tidur. Dan dia juga terkejut saat tiba-tiba bibirnya terasa hangat. Pasha pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. dia menyapukan lidahnya pada bibir Era yang masih tertutup rapat. Dan ciuman malam itu mengalir begitu saja. suasana yang semula dingin karena angin malam yang menusuk kulit kini berubah hangat seiring dengan kegiatan dua insan yang saling menghangatkan di dalam tenda itu.
Sungguh keduanya sama-sama larut dalam pusaran kenikmatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Kejadian itu mengalir begitu saja. tanpa paksaaan juga tanpa penolakan. Keduanya sama-sama rela memberikan kenangan terindah di tempat ini. tempat dimana mereka memadu kasih, mengarungi indahnya malam berdua.
Entah pukul berapa mereka baru memutuskan untuk tidur. Karena pemandangan laangit masih sama, yaitu memancarkan bintangnya yang telah menjadi saksi perjalanan cinta mereka berdua.
__ADS_1
Cup
Pasha menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh polos itu, lalu meninggalkan keccupan hangat pada kening Era. Sedangkan Era hanya diam saja, lalu memejamkan matanya dalam pelukan Pasha.
Tanpa Pasha ketahui, setetes air mata Era keluar begitu saja. bahkan dadanya terasa sangat sesak setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan bersama Pasha.
Tidak. Era tidak menyesali perbuatannya baru saja bersama Pasha. tapi entahlah. Dia tidak bisa mendeskripsikan tentang suasana hatinya saat ini yang semakin sesak. Mungkin hanya satu yang bisa Era simpulkan. Yaitu, takut.
Era mengencangkan pelukannya dengan mata masih terpejam. Agar Pasha tidak bisa melihat air matanya yang keluar di suasana yang temaram itu.
“Aku mencintaimu, Ra. Sangat.” Lirih Pasha.
Pasha sendiri juga tidak menyesali apa yang baru saja terjadi. Dalam hatinya terus berjanji untuk segera menjadikan Era sebagai penghuni tetap di hatinya, sampai akhir hayatnya nanti.
“Secepatnya aku akan mengenalkan kamu pada orang tuaku, Ra. Kamu jangan khawatir!” Tambahnya. Dan hal itu mampu membuat kedua sudut bibir Era tertarik ke atas membentuk senyuman tipis.
**
Beberapa saat kemudian, Era terjaga lebih dulu. perempuan itu memindai tubuhnya yang terasa berbeda dalam balutan selimut.
Lagi, air matanya lolos begitu saja setelah ingat kejadian semalam. Namun buru-buru Era menghapusnya. Buat apa menyesalinya, kalau semalam ia melakukannya juga tanpa paksaan.
Era segera mengenakan bajunya. Walau jujur saja seluruh tubuhnya terasa remuk. Setelah itu ia keluar dari tenda untuk mencuci muka.
Era berjalan sedikit tertatih. Mungkin efek baru pertama kali melakukannya. Dan rasanya juga sangat tidak nyaman.
“Ahh.. sungguh tidak nyaman sekali.” Gerutunya sambil mencuci mukanya.
Era melihat pergelangan tangannya yang masih meninggalkan sedikit tanda merah akibat cengkraman Pasha yang cukup kuat semalam. Akhirnya ia kembali mengingat kejadian tadi malam.
“Cukup sekali saja. rasanya sungguh tidak nyaman.” Gumamnya lagi.
__ADS_1
Mungkin maksud Era sekali saja adalah tidak akan mengulanginya lagi sebelum ia resmi menjadi seorang istri.
Setelah mencuci mukanya, Era kembali ke tenda. Ia membakar sisa kayu untuk apai unggun semalam untuk menambah kehangatan pagi ini. meskipun matahari sudah mulai bersinar, tapi udara sekitar masih terasa dingin. Tak lupa juga Era menyeduh kopi sebagai penghangat tubuhnya.
“Kenapa kamu nggak bangunin aku, Ra?” seru seseorang yang baru saja keluar dari tenda.
Era menoleh ke sumber suara. Pandangannya tertuju pada sosok pria yang semalam telah menguasai tubuhnya. Bahkan hawa pagi ini yang masih dingin, Pasha hanya memakai celana saja, tanpa baju yang menutupi perut sixpacs’nya. Hingga Era bisa melihat dengan jelas bekas kukunya yang menggores punggung Pasha, saat pria itu sudah duduk di sampingnya.
Era langsung mengalihkan pandangannya. Dia masih sangat malu untuk mengingat kejadian semalam. Namun tiba-tiba saja cangkir yang ada dalam genggamannya diambil Pasha begitu saja.
“Manis sekali kopinya.” Ucap Pasha setelah meneguk kopi sisa milik Era.
“Manisnya sama seperti manisnya bibir kamu semalam.” Tambahnya dengan tatapan yang tak lepas dari mata Era.
Wajah Era seketika merona. Kenapa Pasha sampai mengingatkan kejadian semalam. Padahal Era sudah menahan rasa malu itu.
“Kamu malu setelah kejadian semalam, Ra? Atau ingin lagi?” tanya Pasha sambil meraih dagu Era yang hendak membuang mukanya ke arah lain.
Tanpa aba-aba, Pasha mendaratkan bibirnya di bibir Era yang masih meninggalkan rasa manis setelah minum kopi susu tadi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1