
Usai menghabiskan sarapannya, pagi itu mereka semua langsung pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan paasangan pengantin baru Era dan Pasha masih tinggal di hotel sejenak. Pasha beralasan kalau istrinya massih capek dan butuh istirahat. Lagi pula mau mereka pulang atau tidak, juga tidak masalah. Hotel itu juga masih milik keluarga dari Papa Nabil.
“Sayang, tunggu dong! Jalannya pelan-pelan.” Seru Pasha yang kini sedang mengikuti istrinya tengah berjalan lebih dulu menuju kamar mereka.
Sedangkan Era memang sengaja berjalan cepat meninggalkan suaminya karena sangat kesal dengan pria itu. lagi lagi Pasha memutar balikkan fakta dengan mengatakan alau dirinya masih ingin tinggal di hotel dulu karena masih kelelahan. Padahal Era baik-baik saja, dan tidak masalah jika akan pulang pagi ini bersama mertuanya.
“Sayang! Jangan marah gitu, dong.” Seru Pasha langsung memeluk istrinya dari belakang saat mereka sudah masuk ke kamar.
“Jangan gini! Aku mau tidur. Kamu tadi bilang kan kalau aku masih lelah dan butuh istirahat? Sekarang aku mau tidur, dan jangan ganggu aku.” Era melepas pelukan suaminya dan langsung menaiki ranjang.
Pasha merutuki kebodohannya. Ya, karena ulahnya sendiri, jadinya sang istri ngambek seperti ini. akhirnya ia pun ikut naik ke atas ranjang, bergabung dengan Era yang tampak memunggunginya.
“Jangan marah! Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menjelekkanmu di depan orang-orang. Baiklah, kamu mau minta apa agar aku bisa menebus kesalahanku?” Pasha berusaha merayu Era.
Mendengar suara Pasha yang memelas seperti itu, Era tidak sanggup untuk marah lebih lama lagi. mungkin karena mereka tidak bisa marahan lama-lama, jadinya Era cepat luluh dan tidak tega dengan Pasha.
“Aku mau jalan jalan.” Ucap Era dengan lirih. Posisi tubuhnya masih memunggungi Pasha.
Pasha pun bersorak gembira. Akhirnya istrinya tidak marah lagi.
“Ya sudah, ayo kita jalan-jalan. Kamu siap-siap ya? Aku juga mau ganti baju. Mau jalan-jalan ke mana?” tanya Pasha dengan penuh semangat.
“Ke Paris.”
Glek
Pasha terkejut mendengar permintaan istrinya. Bukan dia tidak mau menuruti keinginan Era. Namun ini di luar dugaannya. Terlebih untuk pergi ke Paris tidak bisa secepat itu. ia harus mengosongkan jadwalnya dulu. lagian kenapa juga Era tidak membahas ini sejak awal.
__ADS_1
“Kenapa diam? kamu nggak bisa? Katanya CEO tajir? Istrinya minta jalan-jalan ke Paris saja kebanyakan mikir.” Era kembali ke mode ngambek.
“Bukan begitu, Sayang. Ehm, tapi ini terlalu mendadak. Kenapa kamu nggak bahas dari kemarin-kemarin saja kalau minta honeymoon ke sana? Aku juga harus mengosongkan jadwal meeting dulu. tidak bisa asal berangkat begitu saja.” Jawab Pasha mencoba memberi pengertian pada istrinya.
Era hanya menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian kedua tangannya menangkup pipi Pasha. sebenarnya dia juga mengerti kalau suaminya tidak bisa asal pergi begitu saja. apalagi perginya ke luar negeri.
“Aku mengerti, kok. Aku hanya bercanda. Sekarang aku minta jalan-jalan ke puncak saja.”
Cup
Setelah berkata seperti itu, Era langsung mengecup bibir suaminya dengan singkat. Lalu ia bersiap untuk pergi jalan-jalan.
***
Sementara itu di kediaman Papa Chan, Rayyan sejak tadi tampak murung di kamarnya. Padahal beberapa jam lagi dia akan terbang pulang ke luar negeri bersama orang tuanya. Tapi sayangnya Rayyan seperti kehilangan semangat untuk pulang.
“Arghhhh… bagaimana ini? bagaimana kalau dia hamil setelah kejadian semalam? Tapi tidak mungkin. Aku hanya melakukannya sekali. Jadi tidak akan mungkin langsung jadi. Lagian dia juga memintaku untuk melupakan kejadian itu.” gumam Rayyab di mana setan dalam dirinya lah yang berbicara.
Beberapa saat kemudian, Rayyan sudah siap untuk berangkat ke bandara bersama kedua orang tuanya. Ya, lebih baik dia pulang saja daripada terus mengingat kejadian semalam.
“Kak, kenapa nggak di sini dulu sih?” tanya Khanza pada Rayyan yang sedang menarik kopernya.
“Ngapain juga aku di sini. kamu juga ada suami kamu yang bisa temani kamu kemana saja.”
“Ya kalau itu jelaslah. Tapi,-“ Khanza menggantung ucapannya, lalu menarik kakaknya sedikit menjauh dari Mama dan Papanya agar bisa bicara leluasa.
“Apaan sih?”
__ADS_1
Khaza membisikkan sesuatu pada Rayyan. Dia mengatakan kalau perusahaan cabang sedang mengalami sedikit masalah. Kahnza tida berani bicara langsung sama Papanya, dan masih berusaha menutupi masalah itu. karena kalau Papanya tahu, pasti dirinya juga yang disalahkan.
“Kamu ini gimana? Bisa-bisanya teledor seperti ini. aku akan memantau dari sana. Aku nggak bisa berlama-lama di sini. Papa juga membutuhkan aku.”
Khanza hanya menghembuskan nafasnya pelan. Niatnya menahan kepergian kakaknya gagal. Mau tidak mau dia harus merepotkan suaminya sendiri untuk ikut membantu masalah itu.
Kini Rayaan dan kedua orang tuanya sudah tiba di bandara. Setelah check in, mereka menunggu sebentar sebelum persiapan menuju ke pesawat.
Rayyan sejak tadi fokus dengan gadgetnya. Dia juga sedang berusaha membantu menangani masalah adiknya di kantor.
“Pa, Ma, bentar ya? Ray mau ke toilet dulu.” pamit Rayyan. Padahal dia ingin menghubungi Khanza kalau ada sedikit titik terang.
Rayyan sudah mencari tempat yang aman. Namun sejak tadi Khanza sangat sulit dihubungi. Tiba-tiba saja saat ia sedang lengah, Rayyan melihat Serena yang sedang berada di bandara. Wanita itu sedang menarik kopernya seperti hendak bepergian.
“Mau kemana dia?” pikiran buruk pun langsung memenuhi benak Rayyan.
Rayyan melihat jam tangannya. masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum masuk ke pesawat. Jadi, niatnya menghubungi Khanza ia urungkan. Dia lebih memilih mengejar Serena.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya othor di apk oyen ya guys🤗 ceritanya jg seru bgt loh😅 napen masih sama. Ditunggu yaa!!🤗😗