
Serena benar-benar tidak mengerti dengan Rayyan. Pria itu seperti memiliki kepribadian ganda. Terkadang jahat, pemaksa, terkadang lembut, dan sekarang pun sangat menjengkelkan.
Akhirnya Serena mengembalikan baskom berisi air hangat serta handuknya itu ke dapur. Lebih baik dia masuk ke dalam kamar, daripada ikut stress.
“Seren!” seru seorang wanita saat Serena hendak masuk ke dalam kamarnya.
Serena menatap wanita yang tak lain adalah Mama Rayyan. Wanita itu tersenyum hangat padanya. Lalu mendekatinya.
“Bisa Tante bicara sebentar dengan kamu? Ah, maksudnya Mama. ya, panggil Mama saja, karena sebantar lagi kamu akan menikah dengan Ray.” Ucap Mama Feby yang terlihat paling tenang di antara keluarga Rayyan.
“Boleh, Tan. Eh, maksud saya Mama.” jawab Serena.
“Santai saja, tidak perlu formal seperti itu. ya sudah, Mama mau bicara di dalam kamar saja.” lanjut Mama Feby dan langsung masuk ke dalam kamar tamu yang dipakai oleh Serena.
Kini Mama Feby dan Serena sudah berada di dalam kamar. kedua wanita beda generasi itu duduk berdampingan.
“Maafkan Ray ya, Seren?” ucap Mama Feby membuka obrolan.
Wanita itu memegang lembut tangan Serena, dan mengusapnya pelan.
“Ray itu anak yang baik. Tolong maafkan kesalahan dia. Entah apa penyebab dia melakukan itu semua.” Lanjut Mama Feby dengan wajah tenang dan berusaha tegar. Walaupun dalam hatinya sangat sedih, tidak menyangka kalau Rayyan sampai berbuat seperti itu.
Serena hanya mengangguk samar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian Mama Feby menceritakan masa lalu Rayyan dengan seorang wanita yang bernama Joelle. Inti dari cerita itu bahwa Rayyan pernah mempunyai seorang sahabat, Rayyan jatuh cinta pada sahabatnya itu, tapi sayangnya Tuhan tidak menakdirkan mereka berjodoh. Sahabat Rayyan itu menikah dengan mantan kekasihnya.
“Meskipun Mama tidak membenarkan perbuatan Rayyan pada kamu, tapi Mama sangat salut karena dia sudah mau mempertanggung jawabkan perbuatannya. jadi, Mama harap sama kamu supaya bisa belajar mencintai Rayyan. Walau sangat sulit bagi kalian berdua.” Lanjut Mama Feby sambil mengusap sudut matanya yang hendak meneteskan air mata.
Serena terdiam. Lidahnya kelu. Padahal ia mau mengatakan kalau dia tidak butuh pertanggung jawaban Rayyan. Bahkan termasuk ucapaan Rayyan yang hanya menginginkan anak dari perbuatannya itu. entahlah, sebagai sesama wanita, Serena juga peka dengan perasaan Mama Feby.
“Kamu jangan takut dengan Papa Chan. Dia sebenarnya pria yang hangat. Maklum saja, mendengar perbuatan buruk anaknya, Papa Chan jadi sangat emosi.”
__ADS_1
Serena tidak bisa berkata-kata. Dia hanya sebagai pendengar yang baik atas semua ucapan Mama Feby tentang sosok Rayyan.
Setelah suasana cukup tenang, Mama Feby banyak bertanya tentang kehidupan Serena dan juga tentang keluarga perempuan itu.
**
Hari pernikahan Rayyan dan Serena pun tiba. Seperti yang dikatakan oleh Rayyan kalau pernikahan itu dilakukan dengan sangat sederhana. Bahkan yang hadir hanya dari pihak keluarga inti Rayyan. Serena yang memang hidup sebatang kara, jadi tidak ada orang terdekatnya yang hadir.
Janji suci pernikahan yang keluar dari mulut Rayyan dan disaksikan oleh pihak keluarga, membuktikan kalau sekarang Rayyan dan Serena sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Rayyan menyematkan cincin di jari manis Serena. Kemudian ia meninggalkan kecupan singkat di kening Serena, sebelum akhirnya ia yang lebih dulu beranjak dari duduknya.
Tidak ada pesta pernikahan mewah. Hanya makan-makan seperti biasa. Namun di dalam meja makan itu hanya ada Serena, Papa Chan, mama Feby, Khanza dan suaminya. sedangkan Rayyan kini tengah berada di dalam kamarnya sedang melakukan panggilan dengan seseorang.
Serena hanya diam sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya saat berada di tengah-tengah keluarga Rayyan. Hanya Mama Feby saja yang bersikap hangat dan lembut padanya. Sedangkan yang lainnya masih belum bisa menerima kenyataan atas pernikahan Rayyan baru saja.
Usai acara pernikahan singkat Rayyan dan Serena, malam harinya kedua orag tua Rayyan langsung pulang ke luar negeri. Mama Feby mengucapkan permintaan maafnya pada sang menantu karena tidak bisa lama-lama di sini. alasannya karena memang banyak sekali pekerjaan Papa Chan yang tidak bisa ditinggalkan dalam waktu yang lama.
Setelah kedua orang tua Rayyan pulang, begitu juga dengan Khanza dan suaminya, kini di rumah itu hanya ada Serena dan Rayyan.
“Persiapkan baju-baju kamu dan yang lainnya. Besok pagi kita berangkat.” Ucap Rayyan.
“Berangkat ke mana?” tanya Serena bingung.
“Ke luar negeri. karena tempat tinggalku di sana. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. pekerjaanku sudah lama aku tinggalkan.”
Serena sangat terkejut. Kenapa Rayyan bicara mendadak seperti ini tentang keberangkatannya ke luar negeri. bahkan tinggal di sana. Itu sama sekali bukan keinginannya.
“Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan semua dokumen keberangkatan kamu.” Lanjut Rayyan dan segera masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
“Tapi aku nggak mau tinggal di luar negeri.” ucapan Serena berhasil menghentikan langkah Rayyan.
“Aku akan tetap tinggal di sini saja. jangan khawatir jika aku memang hamil, aku akan menjaganya. Dan tiba waktunya lahir nanti, aku akan memberi,-“
“Tidak bisa! Kamu harus tetap ikut aku tinggal di luar negeri. tunggulah sampai sembilan bulan ke depan kalau kamu ingin hidup bebas. Cepat istirahat! Jangan lupa, jam tujuh kita harus sudah ada di bandara.” Pungkas Rayyan lalu pergi meninggalkan Serena.
**
Keesokan haarinya, Rayyan dan Serena sudah tiba di bandara. Serena yang semula menolak untuk ikut Rayyan, akhirnya terpaksa ikut. Karena tidak ada pilihan lain. Setidaknya, dia harus bersabar dulu selama sembilan bulan ke depan jika mau hidup bebas dari Rayyan.
“Ray!” seru seorang wanita pada Rayyan yang sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan bersama Serena.
Rayyan menoleh ke sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Era. Era sendiri juga bersama suaminya, dan mereka juga sepertinya akan bepergian.
Era menghampiri Rayyan dan memeluk singkat pria itu. pelukan yang Era anggap sebagai pelukan sahabat. Namun Serena yang duduk tak jauh dari Rayyan menangkap arti lain dari pelukan itu.
“Hai, Ray!” Pasha juga menyapa Rayyan dengan pelukan singkat juga.
Serena langsung menundukkan kepalanya saat mengetahui Pasha yang ternyata kenal dengan Rayyan. Mengingat dia pernah menggoda pria itu.
“Siapa dia Ray?” tanya Era dengan tatapan tertuju pada Serena.
“Nona Serena??”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!