
Pasha sungguh sangat penasaran, ada masalah apa sebenarnya antara Era dan mantan kekasihnya. Apalagi ada uang dalam jumlah yang cukup banyak. Dan itu sepertinya uang yang Era ambil siang tadi di bank.
“Apa selama ini Era mempunyai hutang dengan pria itu?” gumam Pasha penasaran.
Sedangkan Era yang saat ini masih dengan Hagi, setelah Hagi membuatkan surat tanda bukti pembayaran hutangnya, tanpa banyak berkata dia langsung pergi meninggalkan pria itu.
“Aku berani jamin kalau kamu tetap tidak bisa melunasi hutang-hutang itu. dan aku pastikan kamu akan menyerahkan dirimu sendiri dengan sukarela padaku.” Hagi tersenyum licik menatap kepergian Era.
Saat ini Era benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Entah dengan cara apalagi dia bisa membayar sisa hutang Bibinya itu. padahal uang yang ia berikan pada Hagi tadi belum ada seperempat dari keseluruhan hutang Bibinya.
“Ya Tuhan! Jalan apa lagi yang harus aku tempuh untuk menutup semua hutang itu?” gumam Era frustasi.
Era tidak mungkin menceritakan masalahnya ini pada Pasha. jelas kekasihnya itu akan menutup hutangnya. Dan Era tidak akan setuju.
Kini Era sudah tiba di rumahnya. Hari ini ia begitu lelah. Bukan karena pekerjaan, melainkan masalah pribadinya. Masalah yang tiba-tiba muncul di kehidupannya dan mengusik ketenangannya.
Era masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya setelah itu makan malam. namun baru saja ia masuk kamar, samar-samar terdengar suara ketukan pintu dari luar. Mendadak hatinya was-was jika yang datang itu adalah Hagi seperti sebelumnya.
Era pun mendekati pintu rumahnya, dan melihat dari celah jendela untuk memastikan siapakah yang datang. meski orangnya tidak terlihat, karena berada di balik pintu, tapi Era bisa melihat sebuah mobil yang tidak asing sedang parkir di halaman rumahnya. Dan mobil itu adalah mobil Pasha.
Cklek
Era membukakan pintu dan Pasha langsung tersenyum manis ke arahnya. Sungguh senyuman yang mampu menentramkan hati Era saat sedang kacau seperti ini.
“Nggak disuruh masuk nih?” tanya Pasha saat Era masih diam mematung.
“Oh, sorry! Masuklah!”
“Kamu kok masih pakai baju kerja, Ra? Memangnya kamu baru pulang?”
“Oh, iya. tadi memang mampir dulu beli kebutuhan pribadiku. Jadi baru sampai rumah deh. Kamu mau minum apa, King?”
Pasha hanya manggut-manggut. Tidak apalah Era tidak mau jujur atas pertemuannya dengan Hagi tadi. tapi dia yakin kalau pertemuan Era tadi tidak ada sangkut pautnya dnegan urusan asmara. Jadi dia tidak perlu mencurigai kekasihnya itu.
“Nggak perlu. Ini aku bawa makanan sekalian sama minumannya. Aku yakin kalau kamu belum makan kan?”
__ADS_1
Era hanya mengangguk samar. Karena memang dia belum makan, dan rencananya setelah mandi akan memasak. Tapi kedatang Pasha ternyata membawa rejeki.
“Ya sudah, aku mandi dulu sebentar ya? Kamu tunggu di sini. nggak lama kok.”
“Lama juga nggak apa-apa. Atau kalau kamu butuh bantuanku, aku siap sedia.” Canda Pasha membuat Era melotot tajam.
“Jangan mesyyum kamu, King!”
Pasha hanya nyengir saja. dia memang sengaja bercanda seperti itu untuk menghibur Era yang wajahnya terlihat sekali sedang menyimpan masalah.
“Ya sudah, buruan mandi sana! Baunya asyemm banget nih.” Kelakar Pasha sambilmenutup hidungnya.
“Memangnya kamu sudah mandi? kamu juga masih pakai setelan kerja kamu gitu.”
“Oh iya, lupa. Ya sudah, ayo sekalian kita mandi bareng!” Pasha beranjak dari duduknya dan mendekati Era.
Sungguh Era sangat terkejut. Dia segera menepis pria itu yang hendak ikut masuk ke dalam kamarnya.
“King! Jangan macam-macam kamu!” pekik Era sambil mendorong tubuh Pasha.
Cup
Sementara itu di luar rumah Era, lebih tepatnya di dalam mobil, tampak Hagi terlihat sangat marah saat mengetahui ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah Era. Dia memang tidak tahu siapa pemilik mobil itu. tapi dia yakin kalau saat ini Era sudah menjalin hubungan dengan pria lain. Yang mungkin saja adalah pria yang pernah ia temui waktu itu.
“Ooo… jadi kamu sedang menjalin hubungan dengan pria yang usianya masih jauh di bawah kamu, Ra? Gumam Hagi sambil mengingat pertemuannya dengan Pasha saat itu.
***
Weekend ini kediaman rumah Pasha terlihat sedang sibuk. Karena selain akan kedatangan anak pertama Papa Nabil yaitu Queen, mereka juga akan mengadakan makan malam yang engundang keluarga Yeslin.
Padahal undangan makan malam itu masih lama. Namun sejak pagi Mama Shanum Sudha terlihat sibuk di dapur. Rasanya seperti menyambut tamu agung saja.
“King dimana, Ma? Sejak tadi kok aku belum lihat dia?” tanya Queen yang saat ini ikut sibuk membantu Mamanya.
“Biasa, kalau libur begini dia masih di kamarnya.” Jawab Mama Shanum dengan tangan masih sibuk mengaduk adonan kue.
__ADS_1
Queen pun segera menemui Pasha di kamarnya. Karena sejak kepulangannya beberapa waktu lalu sampai sekarang dia belum pernah bertemu dengan Pasha. apalagi kesibukannya mengurus bayinya, membuat Queen lupa untuk bertanya tentang hubungan sang adik dengan Era.
Kini Queen sudah di depan pintu kamar Pasha. belum sempat mengetuk pintunya, si pemilik kamar sudah keluar duluan dengan penampilan yang sudah rapi.
“Mau kemana kamu, King?”
“Mau jalan lah. Ana muda gitu loh!” jawabnya dengan santai.
“Kamu ingat kan kalau nanti malam keluarga Yeslin akan datang untuk makan malam di sini?”
“Ingatlah. Dan ini masih jam sembilan pagi. lalu apa hubungannya kalau aku akan pergi sekarang?”
Queen juga tampak bingung. Tapi dia agak khawatir saja kalau saat makan malam nanti adiknya justru tidak pulang dan memilih tidak ikut makan malam.
“Tapi kamu pulang kan kalau waktunya makan malam nanti?”
“Tenang saja. aku bukan tipe orang yang suka lari atau menghidari masalah. Dan nanti malam juga aku akan mengatakan pada kedua orang tua Yeslin kalau aku tidak bisa menjalin hubungan dengan dia.”
“Apa itu artinya kamu sudah mempunyai kekasih?” sahut Queen.
“Tentu saja. tapi mau aku sudah punya kekasih atau belum, sejak dulu aku tidak pernah suka dengan Yeslin, Kak. Aku hanya menganggapnya teman.”
“Lalu, siapa kekasihmu yang sebenarnya? apakah Kak Juleha?” tanya Queen to do poin.
“Nah itu kamu sudah tahu. Ya sudah, aku pergi dulu. nanti saja dilanjut wawancaranya.” Pungkas Pasha dan segera pergi meninggalkan kakaknya yang masih diam memaku di depan kamarnya.
Queen cukup shock mendengar pengakuan adiknya baru saja. bagaimana bisa sang adik menjalin hubungan dengan perempuan yang usianya di atasnya. Tidak hanya itu saja, Era adalah kakak tingkat Queen semasa kuliah dulu, dan dia juga menganggapnya seperti kakaknya sendiri.
Dan lagi, setahu Queen, sejak dulu kekasih adiknya itu rata-rata seusia dengan Pasha, atau usianya di bawah Pasha. kenapa sekarang Pasha berubah haluan? Dengan mencintai perempuan dewasa.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!