
“Biar nggak ada yang dengar dan tahu kalau aku sedang memberimu hukuman karena sudah tidak masuk dua hari tanpa ijin.” Jawab Pasha berjalan mendekati Era yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
“Memangnya hukuman seperti apa yang akan kamu berikan?” tanya Era sambil memicingkan matanya.
“Kamu bebas pilih. Hukuman yang enak atau yang nikmat?”
Era benar-benar wasapada dengan tatapan Pasha yang mencurigakan itu. kenapa dia teringat dengan ucapan teman-temannya tadi. di mana Pasha akan memberikan hukuman yang enak-enak.
Dan saat Era sedang memikirkan ucapan teman-temannya, tanpa ia sadari Pasha sudah berdiri tepat di hadapannya. bahkan jaraknya sangat dekat.
“Jangan lama-lama mikirnya!” bisik Pasha.
“Jangan macam-macam kamu ya, King!” Era segera mnghindari Pasha namun justru kedua tangan Pasha berhasil memerangkap tubuh Era.
“King!! Minggir nggak?” Era mendadak cemas sendiri mendapati senyum smirk Pasha yang sangat aneh.
“Baiklah, aku akan minggir dan melepasmu. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?”
Pasha mengulas senyumnya. Dia sangat suka sekali melihat wajah kesal Era sekaligus deg-degan seperti ini.
“Pertama, aku minta saat sedang berdua seperti ini kamu panggil namaku My King. Jika sedang di luar, cukup panggil Pasha. dan yang kedua,-“
“Akhirnya bisa lepas juga. jadi cukup pertama saja permintaan kamu.” Ujar Era setelah berhasil lolos dari perangkap Pasha. pasalnya Era tadi memang memanfaatkan kelemahan Pasha. saat Pasha sedang bicara, fokus pria itu hanya pada yang dibicarakan saja. jadi Pasha lengah, dan dimanfaatkan oleh Era.
“Dasar licik!” keluh Pasha merasa kalah. Padahal untuk syarat kedua tadi dia ingin minta ciuman dari kekasihnya itu.
“Bukan licik. Tapi main cerdik. Nah, sekarang biarkan aku keluar. Cepat buka pintunya!”
“Eits, siapa yang suruh kamu keluar? Kamu belum menerima hukuman karena absen tanpa alasan selama dua hari. Apa kamu lupa?”
“Udahlah, King! Nggak mungkin juga kan kamu ngasih hukuman pada kekasihmu sendiri ini?” ucap Era sedikit merayu Pasha, agar pria itu tidak memberi hukuman apapun.
__ADS_1
Sedangkan Pasha sendiri tesenyum senang saat Era menyebut dirinya sebagai kekasih. Itu artinya Era sudah mulai membiasakan dirinya dan mengakui sebagai pasangan kekasih.
“Bagaimana pun juga aku harus bersikap professional. Semua yang melakukan kesalahan, harus mendapat hukuman.”
Era hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ya, walaupun memang Pasha sudah menjadi kekasihnya. Tetap saja kalau di kantor, statusnya adalah atasan dan bawahan.
“Ya sudah, cepat! Kamu mau memberi aku hukuman apa? Pekerjaanku sangat banyak hari ini.” jawab Era dengan cemberut.
“Ok. Kamu pilih dimana hukumannya? Di meja kerjaku ini atau di sofa sana?” tanya Pasha memberi pilihan pada Era.
Mata Era melotot tajam. Entah sudah yang ke berapa kalinya ucapan Pasha mampu membuat jantungnya dag dig dug.
**
Dan akhirnya Era memilih di sofa. Dia sekarang sedang menyuapi Pasha yang sedang makan sandwich buatannya tadi. padahal kotak nekal tadi hanya berisi sati potong sandwich saja. namun sampai lima belas menit Pasha tak kunjung menghabiskan makanan itu. benar saja, meskipun Era menyuapinya, tapi Pasha hanya menggigitnya sedikit. Alhasil membuang banyak waktu.
Dan Era pun hanya bisa pasrah jika cara makan Pasha seperti itu. daripada haru makan di meja kerja Pasha, di mana Era diminta duduk di pangkuan pria itu sambil menyuapinya.
“Wajah kamu cantik sekali kalau dipandang dar,-hmmpp”
Sedangkan Pasha hanya pasrah sambil mengunyah sandwich di suapan terakhirnya. Dalam hatinya juga tersenyum karena melihat Era yang tampak puas membuatnya kesal. Aneh memang. Tapi mungkin dari wajah jutek dan kesal yang selalu ditunjukkan Era padanya itulah yang membuat Pasha jatuh cinta pada Era. Bukan karena tutur lakunya yang lembut, atau bahkan lekuk tubuhnya yang menggoda.
“Nih, minumnya. Aku akan kembali ke ruanganku, jadi mana kuncinya?” ucap Era sembari menengadahkan tangannya.
Akhirnya Pasha merogoh kunci itu dari saku celananya. Sudah cukup ia memberikan hukuman pada Era. Tidak ingin menambah hukuman lagi dengan meminta Era mengambil sendiri kunci pintu itu dari saku celananya.
“Selamat bekerja My Princess! Jangan lupa nanti sore!” ucap Pasha saat Era membuka pintu.
“Ok.” Jawabnya singkat dengan satu kedipan mata. Setelah itu Era bergegas keluar dari ruangan Pasha sebelum pria itu berulah lagi.
Saat Era baru saja keluar dari ruang kerja Pasha, tepat di hadapannya sudah ada Yeslin berdiri di sana. Perempuan itu tampak tidak suka saat melihat Era senyum-senyum sendiri setelah mendapat hukuman dari Pasha.
“Kenapa Bu Era senyum-senyum begitu?” tanya Yeslin tak masuk akal.
__ADS_1
“Memangnya anda harus tahu, saya senyum karena apa?” tanya Era balik.
Yeslin semakin terlihat kesal. Lagi-lagi dia curiga kalau dinatara Pasha dan Era ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Sedangkan Era sendiri tidak peduli dengan sikap Yeslin padanya yang selalu jutek seperti itu. ya, meskipun Era sendiri tipe orang yang selalu memasang wajah jutek jika berhadapan dengan orang yang menjengkelkan. Seperti pada Pasha dulu. namun untuk Yeslin, dia tidak ingin membuang tenaganya. Justru ia memilih lebih bersikap ramah dan sopan pada Yeslin, jika perempuan itu selalu menunjukkan kekesalannya.
Dan benar saja. Yeslin melengos begitu saja. dia tidak ingin menjawab pertanyaan Era. Dan segera masuk ke ruangan Pasha. untuk bertanya, hukuman apa yang telah Pasha berikan pada Era. Hingga si perawan tua itu senyum-senyum sendiri tidak jelas setelah keluar dari ruangan CEO.
**
“Astaga! Juleha, kamu baik-baik saja?” tanya Tatia saat Era hendak masuk ke ruang kerjanya.
Sejak tadi teman-teman Era tampak cemas setelah mengetahui dari Yeslin kalau Era akan mendapat hukuman dari Ceo mereka gara-gara absen tanpa alasan selama dua hari.
“Sudah, sudah! Kamu kerja lagi sana! Aku baik-baik saja. masih utuh kan?” jawab Era sedikit kesal. Karena dia sudah menebak kalau teman-temannya akan heboh. Khususnya Tatia. Ditambah lagi pekerjaannya sangat banyak dan sama sekali belum ia kerjakan. Dan semua itu gara-gara Pasha.
Era masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Tatia yang masih menyimpan banyak pertanyaan. Lalu ia mulai mengerjakan tugasnya yang sudah menumpuk.
*
Waktu bergulir begitu cepat. Era nyatanya bisa menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu. Mungkin karena sudah terbiasa, ditambah lagi dia tipe perempuan yang cekatan dalam melakukan pekerjaan. Ya, maka dari itu dia pantas menjadi Kepala HRD.
Era sudah membereskan semua pekerjaannya. Kini ia bersiap untuk pulang. sekalian nanti akan pergi ke super market untuk berbelanja kebutuhan bulanannya.
Kini Era sudah sampai basement. Di sana sudah ada Pasha yang sedang menunggunya. Sebelumnya memang sepasang kekasih itu sudah membuat janji untuk jalan, sekalian Pasha mengantar Era belanja.
“Mana kunci mobil kamu?”
Era tampak bingung. Padahal mobil Pasha juga ada di sana. Tapi tidak mungkin juga kalau mereka pergi jalan-jalan, tapi pakai mobil sendiri-sendiri.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!