
Dua pasang mata itu saling menatap dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan posisi mereka berdua terlihat begitu int im. Pasha sama sekali tidak berkedip saat menatap keindahan mata Era yang berhasil menghipnotisnya. Secara perlahan, rengkuhan tangan Pasha mulai menarik tubuh Era mencari posisi yang lebih nyaman. Bahkan Era sendiri juga tidak sadar dan seperti sedang dihipnotis. Hingga akhirnya posisi Era sudah duduk di pangkuan Pasha.
“Jangan seperti ini!” Era rupanya sadar dengan posisinya. Dia berusaha bangkit, namun dicegah oleh Pasha.
“Sebentar saja. ini sangat nyaman, Ra.” Jawab Pasha dengan suara parau seperti menahan sesuatu.
Wajah Era pun memanas. bahkan otot-ototnya terasa lemas tidak mampu untuk berdiri setelah mendengar suara parau Pasha.
Pasha kembali menatap lekat mata Era. Pria itu memang sudah kecanduan dengan bibir manis Era yang sudah dua kali ia nikmati. Dan sekarang ia ingin menikmatinya lagi.
Seolah mendapat sinyal baik dari Era yang tampak diam saja. Pasha pun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Era. Bahkan kedua bibir itu sudah saling menempel. Namun saat Pasha sudah membuka mulutnya hendak menyapu bibir Era, tiba-tiba saja mereka mendengar suara orang meraih gagang pintu.
Era segera bangkit dan secepat mungkin menjauh dari posisi Pasha. jantungnya berdegup tak karuan dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Cklek
“King! Ternyata kamu belum pulang.” ucap Papa Nabil.
“Oh ada Nona Juleha.” Sambung Papa Nabil saat melihat keberadaan Era.
“Iya, Tuan. Ini saya tadi diminta Tuan Pasha untuk merekap data kinerja karyawan.” Jawab Era dengan gugup.
“Iya, Pa. yang dikatakan Bu Era benar. Dan dari data karyawan yang baru saja Bu Era rekap, aku sudah menemukan satu terduga dari masalah yang menimpa perusahaan.”
Papa Nabil tampak serius menanggpai ucapan Pasha. pria itu mendekati meja kerja anaknya untuk melihat langsung siapa dan bukti apa yang memperkuat dugaan itu. sedangkan Era yang merasa keberadaannya tidak dibutuhkan lagi, dia memilih untuk keluar dari ruangan itu.
“Maaf, saya permisi dulu!” ucap Era dengan sopan.
“Tunggu, Nona Juleha! Anda tetap di sini saja.” cegah Papa Nabil.
Mau tidak mau Era pun tetap di ruangan Pasha. entah kenapa dia sangat gugup sekaligus takut jika direktur perusahaan ini juga ikut menuduhnya seperti yang dikatakan oleh Yeslin tadi.
“Bu Era bisa duduk dulu di sana! Tenang saja, Papa hanya ingin melihat salah satu karyawan yang menjadi terduga ini kok.” Ucap Pasha yang sepertinya bisa membaca pikiran Era yang sedang ketakutan.
__ADS_1
Kurang lebih selama tiga puluh menit Era berada di ruangan Ceo. Akhirnya Pasha dan Papanya juga selesai membahas kelanjutan masalah itu. Era sendiri tidak tahu jalan apa yang akan mereka tempuh. Sebagai kepala HRD yang bertanggung jawab penuh atas karyawan perusahaan ini, Era bersedia menerima sanksi jika ikut disalahkan.
“Terima kasih, Nona Juleha. Kalau tidak ada anda, mungkin King tidak bisa menemukan siapa orang yang dicurigai. Anda jangan khawatir tentang masalah ini.” ucap Papa Nabil.
“Baik, Tuan.”
“Benar bukan yang saya katakan tadi pada Bu Era. Anda akan aman-aman saja,-“
“King? Papa saja memanggil Nona loh, kenapa kamu memanggilnya Bu Era? Memang sudah tua apa Nona Juleha itu? atau karena ada Papa saja, kamu memanggil Nona Juleha dengan panggilan seperti itu? kalau tidak ada Papa, apa kamu,-“
“Papa ini bilang apa sih? Pasha hanya menghormatinya saja. dan panggilan itu memang panggilan yang biasa diucapkan oleh semua karyawan? Bukan begitu, Ra,- eh maksud saya Bu Era?”
Pasha mendadak gugup sendiri saat lidahnya keseleo. Sedangkan Papa Nabil hanya menatap Pasha dengan tatapan tak terbaca. Mungkinkah dugaaannya benar, kalau anaknya ada hubungan special dengan kepala HRD yang sering dikatai perawan tua ini.
Ya, orang yang melihat interaksi Pasha dan Era di halaman rumah Queen waktu itu adalah Papa Nabil. kebetulan saat itu Papa Nabil hendak mengambil sesuatu yang ketinggalan di mobilnya. Dna tanpa sengaja melihat Pasha dan Era sedang ngobrol bukan layaknya atasan dan bawahan. Namun cenderung ke hubungan yang special.
“Ii..iya. benar. Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu kalau sudah tidak ada pekerjaan lagi.” jawab Era sekaligus ingin segera keluar dari ruangan yang cukup membuatnya panas dingin.
“Maaf, Tuan. Saya,-“
“Sudah, ayo kita pergi sekarang juga. bukankah anda baru saja sakit, jangan mengabaikan kesehatan anda.”
Era mau tidak mau menerima ajakan makan malam Papa Nabil. Pasha pun juga ikut.
Mereka bertiga berangkat menuju ke sebuah restoran. Pasha satu mobil dengan Papanya, sedangkan Era naik mobilnya sendiri.
Ini adalah pertama kalinya Era makan malam dengan direktur utama perusahaan setelah bertahun-tahun bekerja. Rasa gugup Era seperti sedang menghadap calon mertua saja. padahal biasanya ia bisa bersikap biasa saja dan mampu meembawa diri. Tapi entah kenapa saat makan malam bertiga seperti ini. rasanya benar-benar seperti uji nyali.
Seorang pelayan datang meencatat menu makanan yang akan mereka pesan. Setelah itu ketiganya diminya untuk menunggu sebentar.
“Nona Juleha biasa saja, nggak usah sungkan atau gugup kita sudah di luar jam kantor, jadi anggap saja saya seperti keluarga Nona.” Ucap Papa Nabil yang sejak tadi melihat Era sangat menjaga sikapnya.
“Iya, Tuan. Maaf, tapi saya tetap menghormati Tuan sebagai atasan saya.”
__ADS_1
“Sudah, jangan panggil Tuan lagi kalau di luar jam kantor. panggil Om saja, sepertinya sangat cocok.”
Era hanya mengangguk saja. sedangkan Pasha sejak tadi tampak diam memperhatikan interaksi Papanya dengan calon kekasihnya itu. Pasha sedikit mengulas senyum. Apakah itu artinya sang Papa memberikan sinyal positif untuk hubungannya dengan Era ke depan.
Cukup lama mereka bertiga menikmati makan malam itu. bahkan Era sudah bersikap biasa saja dengan Papa Nabil. karena memang dasarnya Papa Nabil orangnya humble.
“Terima kasih banyak Om atas ajakan makan malamnya. Kalau begitu saya permisi pulang dulu. ini juga sudah malam.” pamit Era setelah menyelesaikan makan malamnya.
“Iya, sama-sama. Semoga lain waktu kita bisa seperti ini lagi. tentunya dengan suasana yang berbeda.”
Era mengangguk hormat. Pada Pasha juga yang sejak tadi lebih banyak diam.
“Hati-hati, Era!”
Papa Nabil langsung menoleh ke arah putranya yang memanggil Era tanpa embel-embel apapun. Padahal secara usia, Pasha harusnya memanggilnya dengan sebutan Kakak. Seperti Queen yang memanggil Era seperti itu.
Era tidak mempedulikan anak dan ayah itu. dia langsung pergi begitu saja.
“Papa nggak salah dengar, King? Kamu memanggil,-“
“Udahlah, Pa. dari tadi yang dibahas panggilan-panggilan terus. Tidak penting. Pasha mau pulang dulu!” sahut Pasha dan bergegas pergi mendahului Papanya.
.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1