Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
51. Bekal Untuk Pasha


__ADS_3

Memang tadi sore Yeslin menghubungi Mama Shanum. Lebih tepatnya mengadu pada wanita yang berstatus Mama dari calon gebetannya. Yeslin juga tidak tahu dengan siapa Pasha pergi. Lalu dengan cara mengadu pada Mama Shanum, dia berharap Pasha dimarahi oleh Mamanya karena telah membohonginya. Memang pandai sekali Yeslin bersilat lidah. Mama Shanum yang tidak tahu apapun jelas lebih mempercayai ucapan Yeslin. Terlebih setelah tahu ada sopir kantor yang mengantar mobil Pasha ke rumah.


Namun setelah mendengar ucapan Pasha baru saja, dimana Pasha tidak suka dengan Yeslin, maka bisa jadi apa yang dikatakan oleh Yeslin padanya tadi adalah bohong. Mama Shanum pun sadar, kalau Yeslin sebenarnya tidak cinta pada putranya. Melainkan terobsesi.


***


Keesokan harinya, Era bangun pagi seperti biasa. Perempuan itu kini sedang sibuk di dapur sebelum bersiap ke kantor. dan kali ini Era lebih semangat memasak. Tidak seperti biasanya yang hanya masak ala kadarnya, asal bisa mengganjal perut.


Tentu saja alasannya adalah Pasha. dia menambah sedikit porsi masakannya, karena akan diberikan pada Pasha nanti saat di kantor. bukan karena paksaan dari Pasha yang memang saat itu meminta Era untuk membawakan bekal makan untuk pria itu. Era hanya senang saja kalau masakannya ada yang memuji enak. Apalagi itu kekasihnya sendiri. Namun, jika suatu hari penyakit malas memasaknya kambuh, dia tidak akan memaksa untuk memasak demi Pasha. kecuali memang sudah menjadi pasangan suami istri.


“Akhirnya selesai juga. sekarang tinggal nyiapin, lalu mandi.” gumam Era sambil mengambil kotak bekalnya.


Beberapa saat kemudian, Era sudah rapi dengan setelan kerjanya. dia sarapan dulu sebelum berangkat ke kantor.


Setelah menyelesaikan semuanya, bekal juga sudah ia bawa, Era segera berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri. Dia berharap hari ini pekerjaannya lancar, tidak ada kendala apapun seperti kemarin. Saat mendapat hukuman tidak jelas dari Pasha, hingga akhirnya pekerjaannya menumpuk.


Era mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saat melewati kompleks perumahannya. Bahkan saat melewati pos satpam, ia selalu menyapa ramah satpam yang selalu jaga di pos itu. namun tiba-tiba saja mobil Era dihentikan oleh salah satu satpam. Mendadak hati Era was-was. Takut jika yang dikhawatirkan semalam, terjadi.


“Iya, Pak? ada yang bisa saya bantu?” tanya Era dengan sopan setelah membuka kaca mobilnya.


“Selamat pagi, Mbak Era!” sapa pria berusia sekitar tiga puluh tujuh tahun itu.


“Pagi juga, Pak! ada apa ya, Pak?” tanya Era yang tidak ingin berbasa-basi.


“Saya hanya mau mengucapkan terima kasih banyak pada adik Mbak Era semalam.” Jawab pria itu.


Era mengerutkan keningnya. “Adik” siapa yang dimaksud oleh satpam itu.

__ADS_1


“Kemarin saya dapat uang untuk beli rokok dari adik Mbak Era yang ganteng itu loh. Banyak lagi jumlahnya. Dan lagi, lain kali Mbak Era nggak perlu usir adik Mbak yang ganteng itu. nggak apa-apa kali Mbak kalau menginap di rumah kakaknya.”


Era hanya memutar bola matanya malas. Sepertinya memang itu hanya akal-akalan Pasha agar tidak mendapat teguran dari satpam kompleks karena bertamu cukup lama. Dan agar tidak dicurigai.


“Oh itu. ya sudah Pak, terima kasih sarannya. Kalau begitu saya pergi dulu!” pungkas Era yang tak ingin membahas hal tidak penting itu lebih lanjut.


“Tunggu dulu, Mbak Era!” cegah satpam itu saat Era hendak menutup kaca mobilnya.


“Adik Mbak Era ganteng sekali. Boleh dong dijodohin sama anak perempuan saya.”


Era sungguh terkejut. Ternyata itu yang menjadi pokok pembicaraan si Pak Satpam sejak tadi. kenapa nggak langsung to do poin saja. tapi, tunggu dulu. sepertinya Era juga tertarik dengan yang dikatakan oleh satpam itu.


“Baik, Pak. nanti saya sampaikan pada adik saya. kalau boleh tahu, berapa usia anak perempuan Bapak?”


“Masih dua tahun sih, Mbak. Nggak apa-apa kan suruh nunggu dua puluh tahun lagi?”


“Akhirnya, Mbak Era setuju. Dengan begitu, nanti kalau anakku menikah dengan adik Mbak Era, aku juga bisa dekat dengan Mbak Era juga.” gumam satpam itu sambil senyum-senyum sendiri.


**


Kini Era sudah sampai kantor. meskipun dalam perjalanannya tadi dia masih tertawa sendiri kala mengingat apa yang dikatakan oleh satpam kompleks tadi. bukan apa-apa, Era hanya membayangkan. Bagaimana jika Pasha disuruh menunggu bocah yang masih lima tahun sampai usianya menginjak dua puluh dua tahun. Ya, walau sekarang sudah jamannya sugar baby dan sugar daddy. Tapi yang membuat Era tidak bisa menghentikan tawanya adalah membayangkan Pasha menunggu selama itu hanya demi seorang gadis.


Seperti biasa, Era selalu menyapa beberapa karyawan yang bekerja di bagian kebersihan saat mereka sedang menjalankan tugasnya. Karyawan lainnya satu per satu mulai berdatangan. Karena pagi ini Era tidak datang seperti biasa. Semua itu karena satpam kompleks tadi. kelakuannya juga sangat kompleks. Karena Era bukanlah perempuan bodohh yang tidak tahu apa-apa. Sejak dulu, memang satpam itu agak aneh. Apalagi dengan wanita cantik. Matanya selalu jelalatan.


“Ehm!” Era terkejut dengan suara dehaman seseorang saat ia hendak masuk ke ruang kerjanya.


“Selamat pagi My Princess!” sapa Pasha yang entaj sejak kapan pria itu sudah berdiri di sana.

__ADS_1


Era tampak celingukan. Takut jika ada orang lain mendengar Pasha memanggilnya seperti itu. mengingat ia sudah mewanti-wanti Pasha agar tidak mempublikasikan hubungannya.


“Tenang saja, nggak ada orang kok. Oh, iya. apa paper bag itu adalah bekal untukku?” todong Pasha.


“Kamu tahu saja. nih!” Era memberikan paper bag itu. tentu saja Pasha sangat senang menerimanya.


“Terima kasih ya, Ra! Oh iya, mungkin hari ini aku sangat sibuk. Siang sampai sore aku ada meeting di luar. Jadi, sorry ya kalau pulang kerja nanti kita tidak bisa bertemu.”


“Oh, nggak apa-apa. Semangat kerjanya hari ini!”


Setelah itu Pasha segera masuk ke ruang kerjanya yang berbeda lantai dengan Era. Begitu juga dengan Era. Karena sebentar lagi teman-temannya pada berdatangan.


Era sudah menempati kursi kerjanya. dia mulai menyalakan komputernya. Namun tiba-tiba ada notif pesan masuk dari nomor tidak dikenal.


“Temui aku nanti setelah jam kantor, di café JustMine. Atau aku yang datang ke rumah kamu.”


Era sangat malas menanggapi pesan itu. meskipun dia tidak mengenal nomor itu, tapi dia tahu siapa pengirimnya. Siapa lagi kalau bukan Hagi. Padahal beberapa waktu terakhir ini dia sudah bisa bernafas lega karena tidak diganggu dengan mantannya itu. tapi kenapa dia muncul lagi.


Era hanya menghembuskan nafasnya pelan. Entah dia akan menemui mantan kekasihnya itu atau tidak. Tapi dia juga tidak ingin Hagi datang ke rumahnya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2