Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
26. Mencari Cara


__ADS_3

Keesokan paginya Era bangun tidur lebih siang. Maklum saja semalam ia sulit menemui kantuknya setelah terbangun jam dua belas malam. tapi sebenarnya bukan itu saja alasan Era bangun terlambat. Apa lagi kalau bukan karena Pasha.


Jujur saja meskipun ia cuek dengan perlakuan Pasha semalam, tidak dipungkiri kalau ada sebagian dari hatinya yang terasa aneh. Aneh lebih ke rasa bahagia. Maklum saja, sudah lama Era tidak mendapatkan perhatian dari lawan jenis, hatinya kini kembali berbunga-bunga saat mendapat perhatian dari Pasha, atasannya.


Tapi yang membuat Era kurang begitu senang, kenapa harus Pasha. masih banyak pria lain yang seumurannya yang bisa saja dengan mudah ia dapatkan. Seperti Gala, teman kantornya yang sejak dulu selalu berusaha mendekatinya. Kenapa harus Pasha yang kehadirannya mampu membuat perubahan dalam hati Era. Selain usia mereka berdua terpaut jauh, status sosial juga menjadi masalah besar baginya.


Era memang bukan tipe perempuan yang mudah menerima kehadiran orang baru dalam hidupnya. Terlebih dengan kenangan pahit yang pernah ia alami dulu. maka dari itu, meski semalam secara tidak langsung sudah memberikan kesempatan pada Pasha, tidak semudah dan segampang itu dia akan memberikan hatinya. Biarlah dekat. Dekat sebatas teman juga banyak terjadi di jaman modern seperti ini.


**


Meski keadaan Era sudah lebih baik, namun dia akan tetap absen dulu dari pekerjaannya. Setidaknya sampai obatnya habis dan setelah melakukan pemeriksaan kesehatan yang terakhir.


Era sudah menguncir rambutnya bak ekor kuda. Setelah mencuci mukanya, ia hendak masuk ke dapur membuat makanan dengan bahan makanan yang tersedia.


Namun baru saja ia melangkahkan kakinya ke dapur, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Akhirnya Era membukakan pintu dulu, siapa tahu itu adalah tetangganya.


Cklek


“Selamat pagi!”


Seorang pria tampan dengan setelan rapi dan wajah yang tampak fresh sedang berdiri tepat di depan pintu rumah Era sambil mengembangkan senyum. Tak lupa di tangannya ada paper bag yang dipastikan isinya adalah makanan.


Era menatap malas pada kedatangan Pasha. sepertinya apa yang dikatakan Pasha semalam bukan kebohongan belaka. Nyatanya pria itu menepati ucapannya. Dan pagi ini dia datang lagi.


“Apa kamu tidak mempersilakan aku masuk? Aku membawa makanan untuk kamu, ayo kita sarapan bersama!”


“Lebih baik kamu bawa saja makanan itu ke kantor. aku bisa masak sendiri.” Tolak Era hendak menutup pintunya kembali.


Namun Pasha secepat mungkin menahan pintu itu. dia langsung masuk begitu saja, dan menutup pintu rumah Era.


“Era! Bukankah semalam kamu sudah memberiku kesempatan? Jadi, tolong jangan mengusirku. Aku sengaja datang ke sini untuk mengajak kamu sarapan bersama. Kamu juga sedang sakit dan aku tidak ingin kamu kelelahan.”


Era tidak menanggapi lagi ucapan Pasha. dia segera menuju dapur dan Pasha pun berjalan mengekor di belakangnya.

__ADS_1


Era duduk di kursi. Sedangkan Pasha meletakkan paper bag berisi makanan di atas meja. Kemudian pria itu mencari piring untuk menyajikan makanannya.


“Duduklah!” cegah Era dan segera mengambil alih tugas Pasha.


Akhirnya mau tidak mau Era sarapan bersama Pasha. lagi pula kalau ada rejeki tidak boleh ditolak. Meskipun yang memberikan rejeki itu orangnya cukup menyebalkan.


Keduanya menikmati sarapan itu dalam diam. Era yang tampak menikmati sup ayam yang dibawakan oleh Pasha itu merasa tidak asing dengan rasa masakan itu. dia sepertinya pernah makan sup dengan rasa yang sangat mirip dengan sup ia makan sekarang. sungguh aneh bukan.


“Kamu beli makanan ini di mana?” tanya Era menjeda sejenak kegiatan makannya.


“Aku bawa dari rumah. itu masakan Mama. kenapa memangnya? Enak kan?” jawab Pasha tanpa beban. Bahkan ia lupa kalau pernah membawakan makanan yang sama saat Era habis mabuk dulu.


“Iya. rasanya tidak asing di lidahku. Aku pernah makan sup yang seperti ini.”


Uhukkk


Pasha tiba-tiba tersedak makanannya. Dia baru ingat kalau dulu pernah diam-diam mengirimkan sup ayam buatan Mamanya pada Era. Lalu ia segera mengambil minum dan berusaha untuk tenang seolah tidak ada apa-apa. Era tidak boleh tahu kalau dia lah yang mengirim sup itu waktu perempuan itu mabuk.


Era tampa diam saja dan kembali melanjutkan makannya.


Usai menghabiskan makanan itu, Pasha bersiap untuk pergi ke kantor. namun, sebelum Pasha pergi, Era sempat menahan pria itu sebentar.


“Ada apa? Apa kamu ingin mengucapkan terima kasih padaku?” tanya Pasha percaya diri.


“Ck.. bukan itu.” jawab Era sambil berdecak.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Sambungnya.


“Apa? Katakan saja! apa perlu kita duduk di sana, sambil ngeteh?” ucap Pasha yang lagi-lagi menurut Era pria itu terlalu percaya diri.


“Aku hanya ingin bicara sebentar.”


Pasha pun tidak banyak bicara lagi. dia mengangguk dan mempersilakan Era bicara.

__ADS_1


“Ini tentang kita. Maksudku, aku tidak lagi melarang kamu mendekatiku. Aku bukanlah tipe orang yang mudah jatuh cinta. Apalagi dengan kamu yang menurutku, maaf. Masih bocah.”


Pasha masih diam. dia sepertinya sudah biasa dikatai oleh Era masih bocah. Tapi setidaknya ia diberi kesempatan oleh Era untuk dekat dengan perempuan itu sudah membuatnya cukup bahagia.


“Meskipun aku memberimu kesempatan. Tapi itu tidak lama.”


“Maksud kamu apa?” Pasha benar-benar tidak mengerti.


“Kamu boleh mendekatiku, tapi jangan pernah meminta aku untuk membalas perasaanmu. Dan aku hanya memberimu kesempatan selama satu bulan. Selama satu bulan itu kamu bisa mengubah sudut pandangku terhadap kamu, itu artinya aku yang kalah. Dan bisa saja kita melanjutkan hubungan ini. namun, jika selama satu bulan itu tidak ada perubahan apapun, salah satu diantara kita harus angkat kaki dari kota ini.”


Pasha terperangah mendengarkan kalimat Era yang cukup panjang itu. dia tidak percaya dengan pilihan yang akan diberikan oleh perempuan itu. namun, dalam hati Pasha sudah bertekat untuk bisa memiliki Era, jadi ia sama sekali tidak keberatan dengan pilihan itu.


“Baiklah. Deal!” jawab Pasha dengan mantap sambil mengulurkan tangannya pada Era.


Era membalas uluran tangan Pasha sebentar. Setelah itu melepasnya.


“Ya sudah, aku ke kantor dulu. kamu istirahat biar cepat sembuh!” pamit Pasha sambil mengusap pelan kepala Era.


Era diam mematung di tempatnya saat Pasha sudah keluar dari rumahnya. Bahkan pria itu sama sekali tidak menoleh ke belakang setelah membuat hati Era terombang-ambing di pagi ini.


“Jantung! Kenapa selalu seperti ini?” gumam Era sambil mengusap dadanya setelah menutup pintu rumahnya.


Sementara itu Pasha yang sudah melajukan mobilnya meninggalkan kompleks perumahan Era, dia tampak fokus dengan kemudinya, juga sambil berpikir untuk mencari cara bagaimana agar bisa mengubah sudut pandang Era terhadap dirinya. Atau lebih tepatnya bagaimana cara membuat Era jatuh cinta padanya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2