
Tanpa sadar Era juga membalas ciuman Pasha. biarlah setelah ini Pasha menertawakannya. Karena jujur saja Era juga sudah kecanduan dengan ciuman yang diberikan oleh Pasha. bahkan ciuman semalam masih membekas jelas di ingatan Era.
Sebelum akal sehatnya lepas kendali, Era buru-buru melepas ciuman itu. dan sesegera mungkin menghapus bekas saliva akibat ciuman Pasha baru saja. namun rupanya hal itu membuat Pasha tidak terima. Kemudian Pasha meletakkan cangkir kopinya dan kembali meraup bibir Era dengan rakus. Era sangat terkejut. Bahkan ia tidak diberi Pasha kesempatan untuk menghirup oksigen, karena ciumannya semakin menuntut. Refleks tangan Era mencengkeram bahu polos Pasha yang tak tertutup kain sama sekali itu. hingga pada akhirnya Era menepuk dada Pasha cukup kuat karena ia hampir kehabisan oksigen.
Nafas Era tersengal. Tatapannya marah tertuju pada Pasha. setelah itu ia beranjak dari duduknya meninggalkan Pasha seorang diri.
“Ra! Maafkan aku!” teriaknya sambil mengejar Era yang masuk ke dalam tenda.
Pikiran Era masih kacau akibat kejadian semalam. Dan pagi ini moodnya hancur gara-gara Pasha juga. akhirnya ia memilih tidur saja untuk menenangkan pikirannya sejenak.
Sedangkan Pasha yang baru saja masuk ke tenda, ia melihat Era tidur dengan posisi membelakanginya, sontak membuatnya merasa sangat bersalah.
“Ra, maafkan aku!”
“Keluarlah! Aku butuh istirahat.” Sahut Era dengan suara dingin.
“Kamu marah sama aku, Ra? Kamu nggak suka dengan ciuman tadi? kamu nggak cinta sama aku, Ra?”
Pertanyaan Pasha baru saja ternyata membuat emosi Era tersulut. Perempuan itu bangun dari pembaringannya, lalu menatap Pasha dengan tajam.
“Apa bukti cinta harus dengan ciuman saja? begitu juga dengan yang terjadi semalam? Iya? katakan, King! Apa benar seperti itu? kalau iya, ternyata aku salah menilaimu. Cintamu padaku tak lebih dari batas perut ini sampai ke bawah. Aku membencimu, King!”
Era langsung keluar tenda begitu saja. ia berlari menjauh dari tenda dengan dada yang semakin sesak. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. inilah yang Era takutkan semalam. Dan pagi ini terbukti sudah kalau Pasha tak lebih dari kebanyakan pria hidung belang di luar sana. Sungguh Era merasa sebagai manusia paling bodoh di bumi ini.
Rasa sakit sisa pergumulannya semalam, Era abaikan begitu saja. karena tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya setelah ucapan Pasha yang menilai cinta hanya dengan aktivitas fisik.
Era duduk di bawah pohon yang rindang. Dia memeluk lututnya dengan erat sambil menelungkupkan kepalanya. Tangisnya lirih terdengar oleh seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya.
Pasha bingung. Bagaimana cara meminta maaf pada Era yang terlihat jelas sedang menangis. Sungguh dia sangat menyesali ucapannya yang telah menyakiti hati Era.
“Ra, maafkan aku! aku nggak bermaksud seperti itu.” ucap Pasha sambil duduk bersimpuh di hadapan Era yang masih diam menunduk.
__ADS_1
“Aku tidak menilai arti cinta hanya sebatas hubungan fisik, Ra. Maafkan atas ucapanku tadi.”
Era masih diam. dia sangat lelah dengan semua ini. niatnya ingin berlibur mencari ketenangan hati, tapi kenapa jadi seperti ini.
Karena tidak mendapat reaksi apapun dari Era, Pasha nekat mendekati Era dan menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya. Dan Era juga tidak menolak ataupun memberontak. Ya, karena alasannya hanya satu. Yaitu cinta.
Semarah apapun Era pada Pasha, nyatanya saat berada dalam pelukan pria itu, seketika amarah itu menguap begitu saja. ternyata selain bisa menentramkan hati, cinta juga bisa membuat orang menjadi bodohh. Sama halnya dengan Era saat ini.
“Maafkan aku yang sudah merusak momen liburan ini.” lirih Pasha sambil mengeratkan dekapannya.
“Ayo kita kembali ke tenda. Kamu butuh istirahat, Ra!”
Era memberi respon anggukan kepala. Kemudian mereka berdua kembali ke tenda dengan Pasha merengkuh pinggang Era.
Pasha membiarkan Era masuk ke tenda untuk beristirahat. Sedangkan dirinya sendiri akan mandi, kemudian menyiapkan makanan untuk sarapannya nanti.
Kurang lebih selama dua jam Era tidur di dalam tenda. Perempuan itu bangun dengan kondisi tubuh sudah lebih baik dari sebelumnya. Meskipun masih mengingat kejadian tadi, namun Era berusaha untuk melupakannya, karena tidak ingin merusak momen liburannya bersama Pasha.
Pasha keluar dari tenda dengan rambut yang sudah ia kuncir seperti ekor kuda. Sedangkan Pasha tengah sibuk membakar ikan.
“Hem, kamu sedang apa?” tanyanya basa-basi berusaha mencairkan suasana.
“Oh, ini aku bakar ikan. Tadi aku jalan ke sekeliling danau ini. dan di sana,” Ujar Pasha menjeda kalimatnya sambil menunjuk ke arah di mana ada tenda di sana.
“Di sana ternyata ada sepasang suami istri yang sedang berbulan madu dengan kemping di sini. mereka lengkap membawa alat pancing. Jadi, aku tadi diberi ikan ini. hasil dia mincing.” Lanjut Pasha sambil menunjuk ikan yang sedang ia bakar.
“Kamu dikasih atau minta?” tanya Era dengan tatapan penuh selidik.
“Dikasih, Ra. Serius deh. Aku tadi niatnya Cuma mencari kayu bakar. Terus ketemu sama mereka yang sedang mincing.” Jawab Pasha dengan jujur.
Era hanya mengangguk saja. dia melihat ikan yang dibakar Pasha sudah hampir matang, lalu ia menyiapkan piring dan beberapa makanan siap saji lainnya yang dibawa Era kemarin.
__ADS_1
Setelah itu mereka berdua menikmati ikan hasil bakaran Pasha. dalam hati Pasha tersenyum bahagia karena Era sudah terlihat baik-baik saja setelah pertengkarannya tadi.
**
Pasha dan Era sangat menikmati liburannya dengan kemping ini. sore harinya, mereka baru memutuskan untuk pulang. meskipun besok masih ada hari yang tersisa, namun Era memilih untuk pulang hari ini. dia ingin menggunakan waktu libur hari minggunya besok untuk beristirahat di rumah. dan Pasha pun memakluminya.
Setelah membereskan semuanya, mereka berdua mengambil beberpa pose foto sebagai kenang-kenangan telah melakukan perkemahan singkat dan penuh makna di danau ini. kemudian mereka bersiap untuk pulang.
Sebelum pulang, Pasha sengaja mengendarai mobilnya mengitari danau ini. karena sejak kedatangannya kemarin, mereka tidak sempat berkeliling dengan menggunakan mobil.
Era sangat takjub dengan keindahan alam di sekitar danau ini yang memang belum banyak orang mengetahuinya.
“Lain kali, aku ingin kemping lagi di sini.” ujar Era dengan tatapan takjub pada keindahan alam sekitar.
“Tentu saja aku akan menuruti keinginanmu.” Sahut Era dengan senyum bahagia.
Setelah menempuh perjalanan panjang, kini mobil Pasha sudah tiba di rumah Era. Era yang sejak tadi tertidur, dia bangun sendiri saat menyadari mobil Pasha sudah berhenti.
“Kamu bisa melanjutkan tidur kamu di rumah, Ra. Pasti masih lelah kan?”
“Hemm…”
Era keluar dari mobil Pasha dengan pria itu membantu membawa barang bawaan Era. Setelah itu Pasha langsung pulang, karena Era sepertinya masih butuh istirahat.
“Aku pulang dulu ya, Ra!” pamit Pasha hanya dengan lambaian tangan. Sedangkan Era hanya tersenyuk kecut saat Pasha sudah berbalik badan masuk ke dalam mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!