Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
66. Ancaman Pasha


__ADS_3

“Permisi, Tuan! Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan anda.” ucap asisten Hagi yang baru saja masuk ke ruangan bosnya.


Hagi tampak mengerutkan keningnya. padahal baru beberapa jam yang lalu ia datang dari luar kota setelah perjalanan bisnisnya. Tentu saja dia tidak memiliki janji dengan siapapun.


“Siapa? Aku tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini. dan aku sangat sibuk.” Tanya Hagi pada asistennya.


“Saya juga sudah mengatakan pada beliau, Tuan. Tapi tamu anda bilang, ada hal penting yang akan disampaikan pada anda.”


Hagi pun akhirnya meminta asistennya untuk mempersilakan tamunya masuk. Entah siapa dia, Hagi juga tidak tahu. Alhasil dia menunda dulu kepergiannya untuk datang menemui Era.


“Selamat siang, Tuan Hagi!” sapa Pasha dengan tatapan tegas tertuju pada pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu.


Tentu saja Hagi tahu siapa pria yang baru saja menyapanya itu. meskipun tidak tahu namanya, tapi dia sudah beberapa kali bertemu dengan pria itu yang tak lain adalah Pasha.


Hagi tersenyum sinis menatap Pasha. bahkan senyumnya terkesan meremehkan Pasha yang baginya hanya seperti anak kecil. Atau lebih tepatnya anak kecil yang beraninya mencintai seorang wanita dewasa yang akan menjadi miliknya.


Pasha langsung duduk begitu saja di kursi yang ada di hadapan meja Hagi, tanpa disuruh oleh si pemilik ruangan itu.


“Katakan pada saya, Tuan Hagi yang terhormat. Berapa hutang Era yang belum terbayar?” tanya Pasha to do poin.


“Wow!! Ternyata sudah sejauh itu kamu dengan Era. Sampai mengetahui hutangnya padaku. tapi sayangnya aku tidak akan memberitahu kamu, dan tidak menerima uang dari kamu yang akan menutup semua hutang Era.”


Pasha tampak mengepalkan tangannya. sungguh dia ingin sekali menghabisi pria angkuh di hadapannya itu. pasha heran saja, bagaimana bisa dulu Era bisa menjalin hubungan dengan pria macam Hagi. Seperti tidak ada pria lain saja di bumi ini.


Tanpa banyak bicara, Pasha mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Dan tak lama kemudian ponsel Hagi berdering. Mata pria itu memerah dan tatapan tajamnya tertuju pada Pasha yang sedang duduk santai sambil tersenyum sinis ke arahnya.


Ya, Pasha sudah mengetahui perusahaan keluarga milik Hagi yang saat ini dipegang oleh pria itu. Pasha mengirimkan pesan pada seseorang yang bertugas di perusahaan pusat milik Hagi untuk meminta semua investor menarik sahamnya di perusahaan itu.


“Berengsekkk!!! Apa mau kamu sebenarnya?” tanya Hagi dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.


“Bukankah aku sudah mengatakan. Berapa hutang Era yang belum terbayar. Tapi sayangnya kamu tidak mau mengatakannya padaku, jadi terima saja akibatnya.”


“Dasar bocah licik!! Kembalikan semua investor itu!”

__ADS_1


Hagi tidak bisa membayangkan jika perusahaannya bangkrut daam waktu yang sangat singkat. Perusahaan yang susah payah ia rebut dari para sepupunya hingga berhasil ia miliki, tidak mungkin hilang begitu saja. bahkan ia rela mengorbankan semuanya asal perusahaan itu tetap menjadi miliknya. Selamanya.


“Siapa yang sudah menjerat Era, kekasihku dengan alasan hutang itu? lalu siapa yang lebih licik? Sekarang kamu pilih, lepaskan Era atau aku akan membuat perusahaan yang sudah kamu ambil dengan cara licik itu hilang begitu saja?”


Lagi-lagi Hagi terkejut karena Pasha mengetahui semua kelicikannya. Termasuk caranya ia mendapatkan perusahaan yang saat ini menjadi miliknya. Dan, mau tidak mau Hagi pun terpaksa melepaskan Era daripada kehilangan aset yang bernilai miliaran rupiah itu.


Hagi pun membuka lacinya dan mengambil sebuah amplop yang berisi sertifikat rumah milik Bibi Era. Dan hutang itu, akhirnya Pasha juga tidak membayarnya. Cukup dengan ancaman itu saja Hagi sudah merelakan hutangnya.


Pasha menerima amplop itu. bahkan selain ada sertifikat rumah, di sana juga ada surat perjanjian yang telah dibuat oleh Hagi dan Bibi Era. Juga bukti pembayaran dari Era untuk mengangsur hutang itu.


“Hutang Era sudah aku anggap lunas, dengan kembalinya sertifikat ini. mulai sekarang, jangan sekali-kali kamu mencoba untuk mendekati Era lagi.”


Hagi diam saja, namun dalam hatinya ia tersenyum sinis. Dia sudah merencanakan sesuatu, entah itu apa, asal Era tetap akan menjadi miliknya. Namun niat busuknya itu sudah terbaca oleh Pasha.


“Aku kasih kamu waktu satu kali dua puluh empat jam untuk angkat kaki dari kota ini.” ucapan Pasha sontak membuat mata Hagi melotot tajam.


“Apa maksud kamu, hah?”


“Karena perusahaan cabang milikmu ini sudah aku akuisisi. Selamat berkemas, Tuan Hagi yang licik!” jawab Pasha lalu ia segera beranjak dari tempat duduknya.


Pria itu mendekati Pasha dan hendak melayangkan pukulan pada tubuh Pasha, namun secepat mungkin Pasha menepisnya, dan mendorong kuat tubuh Hagi sampai pria itu terhuyung ke belakang.


“Jangan coba-coba mempermainkan aku. Sekali lagi kamu berulah, aku akan buat perusahaan pusat milikmu bangkrut. Dan semua keluarga kamu menjadi gelandangan.” Ancam Pasha lalu ia segera keluar dari ruangan Hagi.


Setelah kepergian Pasha, Hagi benar-benar tampak frustasi. Dia tidak pernah memikirkan kalau usahanya untuk menjerat Era akan berakhir seperti ini.


***


Jam pulang kantor telah tiba. Era sangat cemas saat hendak pulang. apalagi Hagi tadi mengirim pesan padanya. Pasti pria itu akan datang ke rumahnya. Tapi kalau tidak pulang, mau pergi ke mana juga. tidak hari ini, besok atau hari lainnya pasti Hagi tetap mendatangi rumahnya.


Sudah lebih dari setengah jam Era berdiam diri di ruangannya. Mau pulang tapi ia masih ragu sekaligus takut. Solusi tepat pun belum ia dapatkan untuk bisa segera melunasi hutang Bibinya.


“Apa aku harus nekat meminta bantuan pada King? Lalu bagaimana tanggapannya jika aku meminjam uang ke dia?” berbagai macam pertanyaan muncul di pikiran Era. Karena memang hanya itu satu-satunya cara. Seperti yang pernah Tatia katakan waktu itu.

__ADS_1


Cklek


“Kenapa kamu belum pulang, Ra?” tanya Pasha yang tiba-tiba sudah masuk ke ruangan Era, dan berhasil membuat perempuan itu terkejut.


“Astaga, King!!! Kenapa kamu selalu saja membuat jantungku mau copot?” pekik Era bercampur kesal.


“Kamu kenapa sih, Ra? Aku tadi sudah mengetuk pintu loh beberapa kali. Karena tidak mendengar sahutan dari dalam, akhirnya aku masuk saja. takut terjadi sesuatu denganmu.”


Era memang sejak tadi bingung dengan pikirannya sendiri. Sampai ia tidak mendengar suara ketukan pintu dari luar.


“Maaf!” lirihnya, lalu kembali duduk sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


“Kamu kenapa, Ra?” Tanya Pasha sambil menghampiri Era yang terlihat tidak baik-baik saja.


Walaupun Pasha sudah tahu permasalahan Era, tapi dia tidak tahu tentang pesan Hagi tadi pagi yang membuat Era bisa seperti ini.


“Nggak apa-apa. Sorry, aku agak pusing saja.” jawab Era tanpa menatap Pasha yang berdiri di sampingnya.


Pasha pun sudah tidak tahan lagi melihat kesedihan Era. Akhirnya ia mengeluarkan amplop berisi sertifikat rumah Bibi Era yang ia dapat dari Hagi tadi. dan memberikannya pada Era.


“Apa ini, King?” tanya Era bingung.


“Buka saja!”


Era pun membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Tapi hanya sertifikat rumah saja yang ada di amplop itu. sedangkan surat perjanjian hutang beserta bukti pembayaran hutang yang dibayar Era sudah diambil oleh Pasha.


“King? Apa maksud ini semua?” tanya Era dengan mata berkaca-kaca.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2