
Rayyan kini keluar dari kamar Serena. Dia menyalakan tungku perapian yang ada di ruang tengah. Tungku itu memang sudah tersedia untuk mengantisipasi musim dingin tiba.
Setelah menyalakan apinya, Rayyan kembali masuk ke dalam kamar Serena. Wanita itu juga masih tidak nyaman dalam tidurnya. Lalu perlahan ia membangunkannya.
“Seren!” Rayyan menepuk pelan pipi Serena. Namun rupanya wanita itu tidak bangun, meskipun sedang kedinginan. Apalagi matanya sudah tertutup rapat.
Rayyan pun kembali membangunkan Serena. Hingga ketiga kalinya ia menepuk pelan pipi wanita itu, Serena tak kunjung bangun. Akhirnya jalan satu-satunya adalah menggendong Serena dan memindahkannya ke sofa ruang tengah di mana tadi ia menyalakan tungku perapian.
***
Keesokan paginya di ruang tengah, lebih tepatnya di atas sofa, tampak dua orang sedang tidur saling berpelukan dengan selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Api yang sejak semalam menyala, kini sudah padam.
Entah bagaimana caranya semalam Rayyan bisa tidur di atas sofa bersama Serena. Bahkan mereka berdua berpelukan sangat erat seolah enggan melepaskan satu sama lain, karena rasa dingin yang masih menyerang.
Namun hal itu tidak terjadi lama. Serena yang lebih dulu bangun lantaran ia merasakan hembusan hangat nafas Rayyan yang menerpa area lehernya. Rupanya Rayyan yang tidur dengan posisi kepala berada di ceruk leher Serena.
Perlahan mata Serena sudah terbuka. Hingga ia menyadari posisinya yang sedang berpelukan dalam balutan selimut tebal dengan seorang pria yang kini menjadi suaminya.
Serena tidak berteriak. Walau ia sangat terkejut dengan posisinya saat ini. kemudian, ia sedikit menjauhkan wajahnya hingga ia bisa melihat dengan jelas wajah Rayyan yang masih terlelap.
Wajah itu. wajah pria yang sempat ia benci karena awal pertemuannya yang sudah membuat hancur hidup Serena. Namun, tak dapat dipungkiri kalau Rayyan adalah pria bertanggung jawab. Terlebih saat ini dirinya sedang mengandung, Rayyan sangat peduli padanya.
Serena teringat dengan ucapan Mama Feby. Dia tidak ingin jika nanti anaknya bernasib sama dengan dirinya, yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Lantas, apakah mulai dari sekarang ia akan membuka hatinya untuk Rayyan?
Ngghhh…
Tiba-tiba Rayyan melenguh dan perlahan mengerjapkan matanya. sedangkan Serena malah pura-pura tidur agar tidak membuat Rayyan terkejut atau merasa bersalah.
“Ahh.. kenapa aku bisa tidur di sini?” gumam Rayyan setelah sadar dengan posisinya.
Rayyan perlahan membuka selimutnya. Ia meletakkan tangan Serena yang sempat memeluknya. Dia tidak ingin dikira mencuri kesempatan saat Serena sedang tidur. Maka, lebih baik ia bangun lebih dulu sebelum wanita itu terbangun.
Rayyan sangat terkejut saat Serena semakin memeluknya dengan erat. Dia pun berpikir kalau wanita itu memang masih kedingingan dan butuh kehangatan.
“Seren, jangan seperti ini! aku takut.” Gumam Rayyan sambil menatap wajah terlelap Serena.
Serena mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Rayyan baru saja. dia tidak mengerti dengan kata “takut” yang diucapkan oleh Rayyan.
__ADS_1
Setelah itu Rayyan berhasil lepas dari pelukan Serena. Pria itu langsung beranjak menuju kamarnya untuk mencuci muka. Dan membiarkan Serena masih terlelap.
***
Hari ini Rayyan tidak datang ke kantor. di luar sedang turun salju. Beberapa ruas jalan ditutup. Akhirnya Rayyan memilih bekerja dari rumah saja. dan mungkin selama dua minggu ke depan.
Setelah Rayyan mencuci muka dan mengganti pakaiannya, dia langsung turun untuk melihat Serena, sekaligus membuat makanan untuk menu sarapannya.
Rayyan sudah tidak melihat Serena di sofa ruang tengah. Selimut yang digunakan tidur semalam juga tidak ada. Itu artinya Serena sudah bangun dan sedang di dalam kamarnya. Akhirnya Rayyan pun masuk ke dapur.
“Seren? Kamu sedang apa?” tanya Rayyan terkejut saat melihat Serena sudah ada di dapur.
“Kamu istirahat saja! keadaan kamu masih belum pulih.” Lanjut Rayyan yang tampak khawatir.
“Aku tidak apa-apa. aku hanya buat nasi goreng saja.” jawabnya dengan tangan sibuk menyiapkan bumbu nasi goreng.
Rayyan hanya menghembuskan nafasnya pelan. Setelah itu tatapan matanya tertuju pada meja makan, di mana di sana ada sebuah cangkir berisi kopi yang masih panas.
“Kamu sedang hamil. Jangan minum kopi! Kandungan cafeinnya sangat tidak baik untuk janin.” Ucap Rayyan dan mengambil cangkir itu seperti hendak membuangnya.
“Aku nggak minum kopi. Aku membuatnya untuk kamu.” Sahut Serena saat Rayyan hampir menuju wastafel.
Tanpa sepengetahuan Serena, Rayyan tersenyum tipis. Lalu ia mendekat ke arah Serena sambil membawa kopi tadi.
“Terima kasih.” Ucap Rayyan dengan suara berbisik.
“Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena semalam.” Sahut Serena dengan pipi sudah merona.
“Jadi, kamu tahu kalau semalam aku yang menggendong kamu dan memindahkan kamu ke sofa?” tanya Rayyan penasaran.
“Ii…iya. semalam aku sempat terjaga.” Bohong Serena.
“Ok. Sekarang lebih baik kamu duduk saja. biar aku yang melanjutkan memasaknya.” Rayyan segera mengambil alih tugas Serena sebelum wanita itu melakukan penolakan. Akhirnya Serena hanya bisa pasrah. padahal yang sebenarnya dia sangat senang kalau Rayyan yang memasakkan nasi goreng untuknya. Karena saat bangun tidur tadi, tiba-tiba saja Serena ingin sekali makan nasi goreng seperti buatan Rayyan.
“Jangan lupa, tidak usah pakai bawang putih.” Ujar Serena mengingatkan.
“Jangan khawatir! Aku ingat kok. Aku juga tidak ingin anakku membuat Mamanya rewel.” Sahut Rayyan dengan posisi membelakangi Serena yang sedang tersenyum hangat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian nasi goreng buatan Rayyan sudah jadi. Serena membawanya ke ruang tengah, karena ia ingin makan di sana. Rayyan pun mengikutinya.
“Apa enak? Kalau kurang asin atau kurang apa, kamu bilang saja.” tanya Rayyan saat Serena sudah menyuap sesendok nasi gorengnya.
“Enak. Kenapa kamu nggak makan?”
“Nanti saja. yang penting kamu dulu yang makan. Aku nggak mau anakku kelaparan.”
Serena sudah tidak menyahut lagi. dia melanjutkan makannya dengan Rayyan menungguinya di sana. Namun Rayyan tampak sibuk dengan ponselnya.
Selesai makan, tidak ada yang dilakukan Serena. Rayyan sendiri masih sibuk berkirim pesan. Lalu Serena menanyakan tentang pekerjaan pada Rayyan, agar dia bisa membantunya.
“Tidak perlu. Kamu cukup istirahat saja. aku bisa mengatasi semuanya.”
“Kenapa? Aku juga sekretaris kamu.”
Rayyan meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian ia duduk sejejar dengan Serena.
“Kamu cukup menjaga kendungan kamu saja, Seren. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya. Apalagi usianya masih satu minggu, dan itu sangat rawan terjadi keguguran.” Jawab Rayyan.
“Apa kamu menyayangi anak ini?” tanya Serena dengan bibir bergetar. Entah kenapa pernyataan Rayyan baru saja seolah Rayyan hanya menginginkan anaknya saja. padahal tadi Serena sudah memantapkan hatinya untuk mulai belajar mencintai Rayyan.
“Tentu saja aku sangat menyanginya.” Jawab Rayyan dengan yakin.
“Bagaimana jika terjadi hal buruk dengannya?” tanya Serena dengan menahan kuat air matanya agar tidak jatuh di depan Rayyan.
“Jangan sampai. Maka dari itu, aku minta agar kamu menjaganya dengan baik. Kalau terjadi hal buruk dengannya, itu artinya…” Rayyan sengaja menjeda kalimatnya.
“Artinya apa?”
“Itu artinya, kamu akan dengan mudah pergi meninggalkanku. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!