
Era masih terus menangis dalam pelukan Rayyan. Dia membiarkan perempuan itu menangis sampai hatinya puas setelah masalah besar yang selama ini Era pendam seorang diri. Sungguh Rayyan tidak menyangka dengan kepahitan hidup yang Era alami selama ini. pantas saja jika saat itu Era meminta dirinya untuk menutupi identitasnya agar mantan kekasihnya itu tidak bisa melacak keberadaannya. Hati siapa yang tidak sakit jika setelah dicampakkan begitu saja, Era harus menerima sakit hati lagi setelah ia divonis dokter sulit untuk hamil lagi.
Rayyan masih membiarkan Era menangis. Dia tidak ingin banyak bertanya atau mengajak bicara Era dulu. biarlah hati Era lega terlebih dulu. setelah itu dia akan mengajak bicara dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Isakan yang sejak tadi terdengar dari bibir Era, semakin lama semakin lirih. Bersamaan dengan pelukan Era yang semakin mengendur. Ternyata perempuan itu tertidur dalam pelukan Rayyan. Mungkin karena lelah hatinya setelah menangis, akhirnya tenaga Era lemah dan dia tertidur begitu saja.
“Aku mencintaimu, Joel. Mencintaimu tanpa syarat. Aku bersedia menerima kamu apa adanya asal kamu mau membuka hatimu untukku.” Gumam Rayyan sambil mengeratkan pelukannya.
Rayyan menyandarkan tubuh Era pada kursinya lagi. membiarkan perempuan itu terlelap di sana. Ia pun bisa melihat dengan jelas wajah sembab Era sarat akan kesedihan.
Rayyan masih tidak menyangka dengan kisah pilu yang Era alami sekaligus dipikul seorang diri. Kini ia bertekat untuk tidak akan membuka identitas Era pada pria yang bernama Pasha, di mana pria itu telah mengaku sebagai calon suami Era. Meskipun Rayyan belum tahu sendiri cerita dari Pasha, namun setelah melihat kesedihan Era saat ini, ia tidak rela jika Era bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.
*
Cukup lama Rayyan membiarkan Era terlelap dalam mobilnya. Hingga akhirnya ia membawa masuk mobilnya ke dalam basement. Lalu ia akan membangunkan Era.
Belum sempat Rayyan membangunkan Era, ternyata perempuan itu sudah bangun sendiri.
“Ray?” panggil Era sambil menatap ke sekelilingnya, ternyata masih berada di dalam mobil sahabatnya.
“Kamu tidur sangat lama, Joel. Sepertinya kamu juga sangat lelah. Lebih baik kamu lanjutkan tidur kamu di dalam. Ayo, aku antar!” ujar Rayyan, lalu membuka pintu mobilnya untuk Era.
Era ikut saja saat Rayyan membukakan pintu mobil, sampai pria itu benar-benar mengantarnya masuk ke dalam unit apartemennya. Era juga sadar tentang apa yang sudah ia ceritakan pada Rayyan tadi.
“Sekarang istirahatlah! Ini sudah malam.” ucap Rayyan setelah sampai depan pintu unit apartemen Era.
Era hanya mengangguk. Meskipun benar kalau ia masih butuh istirahat. Rayyan pun bisa melihat dengan jelas sorot kesedihan yang masih ada dalam hati Era.
“Joel! Kamu tidak sendirian di sini. ada aku yang akan selalu berada di sampingmu. Kamu jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan padaku, atau kamu mau cerita apapun. Bahuku selalu siap menjagamu.”
__ADS_1
Era pun langsung memeluk Rayyan. Dia sangat lega mendengar ucapan pria itu terlebih ucapan yang keluar dari bibir Rayyan sangat tulus.
“Terima kasih, Ray. Kamu telah banyak membantuku.” Ucap Rayyan dan hanya mendapat balasan senyuman dari Rayyan.
***
Keesokan paginya, Era bangun tidur dalam keadaan tubuh yang lebih fresh. Mungkin salah satu penyebabnya adalah setelah semalam ia menceritakan semua beban masalahnya pada Rayyan. Karena memang selama ini Era memikul beban itu seorang diri, hingga tanpa sadar telah membuat hidupnya sering diliputi rasa cemas.
Era kini tengah bersiap untuk pergi ke kantor. tentunya dengan perasaan yang lebih lega, dan siap bertemu dengan Rayyan lagi yang merupakan rekan kerja satu timnya.
Untuk masalah hati, Era belum tahu apakah ia sudah mulai bisa membuka hatinya lagi. mengingat setelah apa yang sedang ia alami, dia jelas tidak percaya diri. Terlebih dengan kekurangan yang ia miliki. Namun Era sadar, bagaimana pun keadaannya, hidup harus tetap berjalan. Jika memang takdirnya seperti ini, ia tidak akan masalah jika selamanya akan menjadi wanita single. Apalagi tinggal di luar negeri sangat bebas dan tidak terlalu penting dengan status.
Era sudah memakai pakaian kerjanya dan sudah siap untuk berangkat. Ia pergi ke kantor dengan menggunakan mobilnya sendiri seperti biasa. Sesekali memang Rayyan menjemputnya. Itu pun kalau pria itu sedang butuh bantuannya atau sekadar minta ditemani pergi setelah jam pulang kantor.
Beberapa saat kemudian Era sudah tiba di kantor. seperti biasa, pembawaan Era yang periang selalu menyapa hangat sesama rekan kerjanya. bahkan semua karyawan kantor juga sangat suka dengan orang tipikal seperti Era yang mudah bergaul. Apalagi Era terkenal sangat ramah.
“Iya. kenapa memangnya? Dia nggak hubungi aku.” tanya Era tampak bingung.
“Aku juga nggak tahu. Lebih baik kamu ke ruangannya saja, mungkin Rayyan sedang ada di sana.”
Era hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih pada temannya. Namun ia memilih masuk ke ruangannya duly untuk meletakkan tasnya. Ternyata saat Era melihat ponselnya, ada dua panggilan tak terjawab dari Rayyan. Dia pun segera pergi ke ruangan sahabatnya itu.
**
“Ada apa, Ray?” tanya Era yang kini sudah masuk ke ruang kerja Rayyan.
Rayyan sendiri masih sibuk dengan layar laptop di hadapannya. sepertinya memang ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan Era. Hanya saja, pagi-pagi sekali tadi ia sudah berada di kantor karena ada pekerjaan penting dari Papanya.
“Ray!” kesal Era saat Rayyan masih sibuk.
__ADS_1
“Tunggu sebentar!” jawab Rayyan dengan tatapan masih tertuju pada laptop itu.
Rayyan sendiri sebenarnya juga bingung, bagaimana cara bicara dengan Era setelah semalam ia mendapat pesan dari Arga, temannya yang ada di Indonesia yang menanyakan kabar perkembangan pencarian Era yang diminta langsung oleh Pasha.
Memang Rayyan tidak membagikan nomor ponselnya pada Pasha. jadi Arga lah perantaranya. Dan Rayyan ingin memastikan lagi, apakah Era masih membenci pria masa lalunya itu? pria yang telah menorehkan luka mendalam di hati Era. Kalau iya, Rayyan tidak akan pernah memberitahu keberadaan Era pada pria itu. tentunya ia harus bertemu langsung dengan Pasha lagi.
“Apa kamu masih mencintai mantan kamu, Joel?” tanya Rayyan tiba-tiba.
“Kamu ngomong apa sih, Ray? Kamu mencariku hanya untuk membahas ini? kalau begitu, lebih baik aku keluar saja. tidak penting sekali.” Jawab Era kemudian beranjak dari duduknya.
“Tunggu, Joel!” cegah Rayyan, lalu menghampiri Era.
“Kamu jangan marah! Aku hanya ingin tahu saja, apakah kamu masih mencintainya? Dan apakah kamu dulu memintaku untuk menutupi identitasmu juga karena pria itu?”
“Apa maksud kamu, Ray?” Era benar-benar bingung dengan pertanyaan Rayyan.
“Jika kamu sudah tidak mencintainya lagi, aku akan membuka identitasmu. Lebih baik kamu temui dia yang,-“
“Untuk apa aku menemui dia yang sekarang pasti sudah bahagia dengan pernikahannya.” Sahut Era, lalu ia segera keluar meninggalkan Rayyan.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1